Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Dalam Bahaya


__ADS_3

Meong...


Meong...


Gerhana masih berusaha mengelabui anak buah Topan yang masih bersembunyi di ruangan yang gelap gulita. Pokoknya dia harus pergi dari tempat mengerikan ini. Jangan sampai nyawanya berakhir sia-sia, di bunuh oleh sepuluh orang yang berwajah malaikat tapi gila... iblis ternyata. Apalagi perempuan yang bernama Pe itu yang sudah membuatnya ngompol.


"Papaku bukan pencuri..." lirihnya kesal mengingat tuduhan Kurcil. "Kalianlah orang jahat itu," sambungnya membatin. Bukannya penjahat itu mempunyai senjata? Nah, orang orang di dalam sana ada senjatanya, jadi siapa ayo yang jahat? Inces lemot itu ehm pintar 'kan? premisnya (kesimpulannya) tentang orang jahat sangat lazim. Dia tidak mikir kesudut pandang pengabdi Negara yang di sebut militer kesatuan yang pasti punya senjata untuk melindungi diri dan Negaranya dari segala tindak kejahatan. Baginya, orang jahat itu punya senjata. Titik!


"Oh, kucing doang? ya sudahlah!" anak buah Kurcil tidak jadi menyalakan lampu. Ia pergi karena percaya begitu saja.


"Huu... akhirnya pergi juga," Gerhana bernafas lega. Dia pun keluar dari ruangan itu, tapi mengambil pintu lain. Dia tidak tahu kalau pintu tersebut akan mengantarkan dirinya ke tempat yang paling berbahaya yakni ke sarang buaya peliharaan Topan cs.


"Tempat apa ini? kok di bawah sana seperti kolam renang tapi airnya sedikit dan butek? kolam ikan lele dumbo kali ya?" Gerhana sedikit menundukkan penglihatannya ke bawah sana dengan tangan itu berpegangan ke pembatas tralis besi sebesar pergelangan tangan dewasa. Dia tidak melihat ada dua buaya yang tidur di antara air berlumpur di bawah sana.


Ngiung... ngiung... ngiung...

__ADS_1


Salah satu sistem alarm pendeteksi penyusup ratu hacker-Vay, tiba-tiba terdengar nyaring saat Gerhana ingin pergi dari atas kolam berbahaya itu. Sistem kecerdasan Vay memang juara, anak tunggal pengusaha kemuka itu sudah menerapkan sistem deteksi wajah ke semua para penghuni markas. So.... Gerhana yang tidak termasuk, berakhir terkena coding dari monitor tidak jauh dari area kolam pintu neraka.


Ada penyusup?


Pekik para Kurcil yang masih sibuk berdebat tentang anak Xian itu lugu beneran atau hanya kedok?


"Damn! berani-beraninya penyusup itu masuk ke teritori ku," Marah Topan.


"Vay! periksa sistem mu, di mana titik musuh berada?" titah Badai yang sudah siap dengan senjatanya di tangan.


Semuanya pun sudah siap bersiaga, namun bukan keluar ruangan, tapi mereka mengelilingi Vay yang duduk di depan layar monitornya.


Tangan lentik penuh kelincahan Vay sudah berselancar di atas keyboard, namun belum mendapatkan titik bahaya itu di mana karena markas mereka terbilang luas.


Anak buah mereka pun di tempat masing-masing mencari sumber penyebab alarm berbunyi.

__ADS_1


Di sisi Gerhana, karena suara nyaring alarm tak kunjung berhenti. Tentu, dia dibuat takut setengah mati. Pergerakan cerobohnya yang mundur-mundur panik, membuat kakinya tergelincir ke kolam tinggi kandang buaya. Untungnya, dia sempat perpegangan di tralis besi sehingga saat ini dia bak tali yang menjuntai prustasi.


"Aaargh!!!"' Gerhana menjerit pilu. "ADA BUAYA!!! TOLONG!!!" pekiknya. Dia sudah melihat penghuni kolam yang nampak agresif. Ternyata bukan ikan lele dumbo malainkan buaya buas.


"Wafat lah aku kali ini! Ya Tuhan, semoga buayanya tidak suka dagingku... hust...hust... Pergi dari bawah situ! Daging ku pahit, alot, tidak bergizi, dan bau ompol. Pokoknya tidak enak deh, nanti kamu mules mules mencret keracunan! siapa yang mau cebokin, hah? hust...hust...hust...."


Si inces lemot itu mengusir buaya macam mengusir kucing manis....dia merayu bak sohib buaya itu di bawah sana. Binatang buas tersebut, bukannya mengerti malah semakin agresif.


Daging lezat sudah disuguhkan oleh majikan...nyam, nyam, nyam, gurih nyos. Andai bisa berbicara manusia, maka buaya itu berucap riang ejek seperti itu ke Gerhana.


"TOL__" Gerhana tidak jadi berteriak tolong lagi. Otak istimewa itu berpikir... Buat apa minta tolong? toh... selamat dari buaya, tandanya mati juga yang dia dapatkan dari sepuluh orang itu. Begitulah otaknya berkata, jadi biarkan saja di terkam buaya, pasrahnya.


"Eh, tapi nanti jenazahku tidak utuh dong kalau dikunyah mentah mentah oleh binatang jelek di bawah sana? TOLOOOONG!!!" si inces lemot berubah pikiran. Lebih baik ditembak mati saja, seenggaknya mereka mungkin akan mengubur jenazahnya.


"TOLOOONG!!!"

__ADS_1


Tangan Gerhana sudah mulai berkeringat, sehingga pegangannya menimbulkan kelicinan di besi itu. Tenaganya juga semakin terkikis.


__ADS_2