
Di waktu yang sama.
Setelah Pelangi selesai mensugesti Gerhana, gadis itu pun pergi meninggalkan markas tanpa diketahui oleh siapapun termasuk Topan, apalagi Badai yang sedang menghadiri seminar permedisan di Negara maju ini. Sedangkan Kurcil lainnya pun pada sibuk dengan urusan pribadi sendiri-sendiri. Lagian, apalagi yang akan mereka kerjakan selain berlibur. Toh, chip yang selama ini mereka cari telah aman di dalam tubuh Nana.
Mereka hanya menunggu waktu pas, untuk melakukan pembedahan pengambilan chip itu di dalam tubuh Nana.
Pelangi sudah berada di sebuah pantai, sedari tadi sibuk dengan alat lukisnya. Kaki dan seluruh tubuhnya tidak dihiraukan olehnya dari paparan sinar matahari yang ganas.
Dia punya objek bagus untuk dilukisnya. Ada pria yang amat dikenalnya sedang berdiri di tepi pantai, membiarkan kaki dan ujung celana itu terkena ombak kecil. Guntur!
Ya, Dia adalah Guntur! Pria itu sedang dilema tentang misinya dan orang yang akan menjadi lawannya... Kurcil Smart. Dan sebagai penenang hatinya adalah melihat ombak yang saling bekejaran.
Guntur tidak tahu kalau dirinya sedang menjadi model gratis Pelangi.
Selesai!
Di lukisan itu, Guntur sedang menengadahkan kepalanya ke langit dengan mata terpejam, tangan merentang kesamping dengan pemanis lautan serta langit biru yang cerah mentari. Tapi sayang, wajah yang dilukis oleh Pelangi nampak murung, terlihat dari samping sesuai objek tanpa dikurangi atau dilebihi olehnya. Dan nilai seniman lukis itu adalah tanpa rekayasa dalam berkarya, real! itulah salah satu kunci sukses bagi definisi Pelangi.
"Mungkin ini bisa menjadi obat untuk mengurangi wajah jelek mu."
Guntur terkesiap dari lamunannya, saat suara merdu seorang wanita terdengar nyaman di telinganya. Mata itu tadinya sibuk melihat lukisan yang di sodorkan padanya, tapi saat mendelik ke wajah gadis ini, senyuman spontan pun terlukis indah, dan anehnya.... Dia sebelumnya jarang sekali tersenyum, hanya gadis beracun ini yang mampu membuat senyumannya merekah.
__ADS_1
"Hai, kita berjumpa lagi! Ambillah!" kata Pelangi tersenyum ramah.
Guntur meraih lukisan itu. "Kamu melukisku tanpa izin, Nona!" Nada Guntur hanya bercanda.
"Hehe, Maaf! dan sebagai tanda terimakasihku, karena tempo hari pernah menjadi montir dadakan ku, maka itu buat mu, gratis." Pelangi tersenyum manis. Guntur terpana melihatnya.
"Guntur! and you?" Guntur menjulurkan tangannya, bermaksud untuk berkenalan yang waktu tempo itu gagal dibuat seorang pria.
" Just call me, Pelangi!" sambut Pe menjabat tangan Guntur dengan senyum selalu ramah menawan.
Deg...
Jantung Guntur terkejut hebat. "Pelangi?" ulangnya memastikan, katakanlah dia budek. Tapi wanita yang masih dijabatnya mengangguk respon pertanda ya.
"Pelangi sama yang pernah membantu mu mengamen, Pelangi sama yang telah kamu geret kemasalahmu dan berujung kita disekap oleh penjahat onta di masa lampau itu. Apa sudah yakin, Pria Onta?" Seloroh Pelangi di akhir katanya.
Palangi selalu tersenyum, tapi Guntur yang semakin jantungan, antara senang dan kalut. Ternyata salah satu pembuat chip itu ada dihadapannya sekarang. Bagaimanalah dia harus bersikap? wanita ini adalah cinta monyetnya dalam diamnya.
"Hei, Guntur!" Pelangi berniat menyentuh bahu Guntur, tapi ter-urungkan....takut takut ada mata mata Topan dan berujung masalah ke Guntur dan dirinya pula. Eh, tapi aman kayaknya. Tadi kan uda bersentuhan tangan, batin Pelangi dan kembali melancarkan niatnya untuk menyadarkan Guntur yang sibuk tertegun seperti patung tidak berkedip menatapnya.
Mereka memang sedang dipantau, tapi bukan Topan cs, melainkan oleh dua kubu oraganisasi sekaligus. Yang satu Matin dan Belen yang mengikuti Guntur, dan kubu lainnya adalah Jerry berikut anak laki-lakinya yang dulu pernah dipatahkan tangannya oleh Topan di club....Tommy.
__ADS_1
"Daddy, ah.... wanita itu pengganggu. Tempo hari pernah merayu Laric, wanita itu juga melukai betis ku hingga berdarah darah." Belen berdusta, tapi tidak sepenuhnya. Memang benar bukan Pelangi pernah menyerangnya karena ulahnya sendiri.
Dengan manja, Belen mengelus elus lembut paha Matin di dalam kabin. Berharap Matin murka ke Pelangi.
"Tenang, Sayang. Aku akan berbuat sesuatu ke wanita itu. Lagian, Laric hanya akan menjadi suami mu demi harta kakakku. Aku rela berbagi tubuhmu dengan ponakanku itu."
Anak buah Matin yang menjadi sopir, dibuat hareudang menyaksikan Matin berciuman seketika bersama Belen dengan tangan tua Matin meremasss balon Belen yang kurang bahan menutupinya.
Pengin pipis jadinya... Gerah sang anak buah, mau tidak mau hanya menelan ludahnya saja.
Di mobil Jerry dan Tommy pun. Sama saja amat tajam memperhatikan gerak gerik Pelangi dan Guntur yang sedang bercengkrama.
"Apa laki laki itu yang membuat dulu tangan mu patah, Nak?" tanya Jerry. Tentu saja, dia tidak terima anak seorang pejabat penting di Negara ini, plus anak Mafia di perlakukan tidak baik oleh orang. Jerry tidak akan mengampuni siapapun yang melukai anak kesayangannya.
"Bukan sepertinya, Dad. Tapi wanita itu, wanita itulah penyebabnya. Aku menginginkan wanita itu berada di bawah kungkunganku tanpa ampun, agar saudaranya yang melukai ku menangis darah."
Tommy menggebu-gebu. Senyum nakalnya sangat mendambah lekukan tubuh Pelangi.
"Akan Daddy kabulkan. Tenang saja!"
Jerry seketika menekan gawainya.
__ADS_1
" Datang kemari dan tangkap perempuan yang telah diinginkan anak ku."