
"Pe, Vay...awas!!!" pekik Badai yang tidak sengaja matanya melihat bayangan orang yang sedang mengacungkan senjata.
Dor...
Dor...
Terlambat...
Dua peluru Erlan sudah keluar dari sarangnya. Timah panas mematikan itu sudah melayang ke arah punggung Pe. Namun karena teriakan Badai, Vay yang sedang memapah Pe, segera mendorong Pe ke sisi lain.
Alhasil, Vay yang belum sempat berkelit. Hampir saja tertembak jikalau Guntur tidak menjadi tamengnya.
Peluru pertama, telah mengenai dada Guntur. Dan peluru terakhir Erlan, tepat mengenai telapak tangan Guntur karena si anak onta itu reflek menangkap timah panas tersebut, agar tidak menembus tepat di matanya.
Guntur merelakan tubuhnya tertembak melindungi Vay, karena dulu dia pernah berjanji dalam hati akan membalas jasa Yolanda si Oma Vay. Oma Vay dulu pernah bertarung nyawa hanya demi menyelamatkan dirinya. Sekarang, imbas sudah!
Guntur tumbang. Vay danPe yang akan membantu Guntur, seketika terhempas kembali ulah Badai karena sipenembak di balik kegelapan sebelah tank fiberglass, kembali menarget Pe.
"Sialan!" pekik murka Badai. Tanpa takut tertembak, Badai berlari ke arah tank fiberglass untuk mencari sasarannya.
Senjata di tangannya pun, siap menembak musuh yang sedang berkucing-kucingan.
Kepalang basah, Erlan yang sudah ketahuan keberadaannya, lebih memilih segera muncul dan secepatnya menembak Badai yang berlari ke arahnya.
Dor...
Dor...
Dor...
Erlan membabi buta menembak dada dan area perut Badai. Namun sialnya, kenapa lawannya itu tidak tumbang tumbang?
Pe yang melihat kembarannya di hujani peluru, terpekik ketakutan. Dia tidak mau kehilangan saudaranya. Tidak! Tidak!
"Badaiiiiiiiiiii!!!" Pekik Pe lagi. Air matanya sudah berlinang. Ingin berlari untuk menyelamatkan Badai, yang sebenarnya adiknya itu memakai anti peluru sejak awal pertempuran, malah tertahan oleh Vay.
"Jangan!" seru Vay yang sudah tahu Badai tidak akan terluka kalau sipenembak hanya membidik bagian dada nan perut Badai, kecuali bagian tubuh lainnya, Vay tidak janji.
"Damn it!" kesal Erlan yang sudah kehabisan peluru karena terus saja menembak Badai yang sialnya tertipu.
__ADS_1
Badai menyeringai kejam akan senjata kosong Erlan. Lalu berkata sangat dingin, "Giliranku!"
Dor...
Dor...
Dor..
Tidak ada kata berhenti, tangan itu terus menerus menembak tubuh Erlan yang masih berdiri, namun terlihat sempoyongan karena hujanan tembakan Badai yang tidak kunjung berhenti.
"Ini hukuman mu yang sudah berniat melukai Kurcil!"
Dor... tepat tembakan terakhir, tubuh Erlan tumbang. Di belakang sana ada embun yang terpaku karena melihat adiknya mati mengenaskan oleh di tangan Badai.
"ERLAN...." pilu Embun menggema seraya berlari cepat ke arah tubuh Erlan yang sudah mati.
Badai tertegun mencerna dengan senjata apinya terjatuh lemas ditangannya.
"Erlan, bangun! Jangan tinggalkan kakak, ku mohon...hiks..." Embun menangis tersedu sedu dengan kepala keluarga semata wayangnya sudah berada di pangkuannya. Pipi Erlan dia tepuk tepuk berupaya untuk membangunkan adiknya. Namun sia sia, walaupun Embun sudah tahu kalau adiknya sudah meninggal, Embun tidak mau menerima kenyataannya.
"Kakak? katanya..." lirih Badai mengulang kata yang keluar dari mulut Embun.
Sekonyong-konyongnya, Embun bangkit dari duduknya dan menodongkan senjata apinya ke Badai.
Adik Pe itu, hanya diam tertegun menatap mata merah penuh binar kemarahan dendam Embun kepadanya.
"A-aku..." Baru kali ini, sikopet Badai kehilangan kata-katanya setelah membunuh orang. Biasanya, bodo amat. Tetapi di hadapan Embun....
"Rasakan ini, kamu...."
Embun siap melepaskan pelurunya itu ke arah jidat Badai, tetapi terhenti akan seruan lemah seseorang...
"Em-embun..."
"Guntur...hiks, hiks." Embun melupakan Badai yang ingin dibunuhnya. Dia berlari ke Guntur yang tubuh itu sudah di atas lantai dengan kepalanya berada di paha Pelangi. Embun baru menyadari kalau Guntur pun tertembak. Pasti ulah Badai juga, batinnya sangat membenci nama yang bermakna musibah itu.
"Awas...!" Embun mendorong kuat Pelangi agar menyingkir. Kepala Guntur sudah berada di atas pahanya.
Kalian dimana, cepat keluar dari markas. Sebentar lagi akan meledak... Badai, Vay, Pe? Kalian dengar kami?
__ADS_1
Sang empu nama yang di sebut melalui earphone, saling lirik saat ini.
Badai yang cepat respon, mengabaikan Embun dan Guntur.
Toh, bukan salahnya yang sudah membunuh Erlan. Adiknya itulah yang memancing singa untuk mengamuk, pikir Badai cuek menepis rasa sesal nya ke wanita yang sudah pernah memberikan satu malam indah.
"Kami segera keluar," sahut Badai seraya mengkode Vay untuk segera pergi, setelah Pe sudah berada di gendongannya.
Badai dan Vay pun berjalan meninggalkan Embun yang masih menangis tersedu-sedu memangku kepala Guntur. Sahabatnya itu ingin mengatakan sesuatu namun tersengal-sengal.
"Kamu tidak boleh banyak bicara! kamu harus kuat, Guntur. Ku mohon jangan bernasib sama dengan Erlan.
"Erlan yang bersalah..." ingin rasanya Guntur meluapkan tiga kata itu. Tetapi apalah daya, lidahnya sudah tidak mampu untuk berkata lagi. Tubuh nya kian melemah.
"Cepat pergi dari sini kalau kamu masih ingin hidup! Sebentar lagi markas ini akan meledak." Badia berteriak ke Embun sebelum menghilang tertelan oleh pintu rooftop.
"Meledak?" ulang Embun seraya menatap penuh kebencian ke arah Badai.
Embun ingin mengamuk ke Badai, tetapi bukan waktu nya karena dia harus menyelamatkan Guntur yang semoga saja bisa tertolong.
"Maafkan Kakak, Erlan..." Embun lebih memilih membawa susah payah tubuh besar Guntur daripada menyelamatkan mayat Erlan untuk dikuburnya. Pikirnya, Guntur masih punya kesempatan hidup, tidak seperti adiknya yang sudah mati mengenaskan.
"Aku membenci mu, Badai. Sungguh! Suatu hari kita akan bertemu, tapi bukan sebagai teman melainkan musuh. Tangan ini, pasti akan menembak mu, juga."
Marah dan dendam telah mendarah daging di tubuh Embun saat ini untuk Badai. Air mata itu kian menetes disela langkah berat nya yang telah menarik Guntur menggunakan troli barang yang sebelumnya di ambil dipojokan. Embun mengambil tangga lain, tidak ingin bersinggungan sekarang oleh orang orang Kurcil.
Semuanya pun pergi meninggalkan markas berikut mayat mayat di dalamnya.
Sejurus....
Boooomm..... Markas itu meledak.
Selesai...
Tentang Chipnya, end ya readers forever love love love love love seluasnya, agar kagak keluar tema.. Tapi nantikan, boncapnya...kuy 😍😘😘😉
Satu lagi... Salam sehat dan jangan lupa bahagia 😉 Thanks sekebon sudah setia sampai di sini mengikuti Author receh ini. Bye... eh, ingat... Boncapnya, di tunggu ya! sekali lagi...di tunggu!!! 😂 duh, ceramah bae...see you ajalah 🙈
Kabur....
__ADS_1