Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Bon-Chap 3


__ADS_3

“Ini sudah waktunya pulang ngantor lho, Pan.” Kata Pelangi.


Saat ini, dia dan Badai berada di kantor yang dipimpin Topan sebagai pengganti Biru.


“Pergilah,” usir Topan ke kembarannya. “Jangan ganggu saya! kalian ‘kan tahu kalau tidak ada hal menarik yang bisa dikerjakan selain berkas-berkas ini.”


Pe dan Badai yang di iusir begitu, hanya saling lirik seraya kompak menghela nafas pelan. Pasalnya, kakak mereka itu semakin tak tersentuh. Pe saja sudah tidak pernah dilarangnya untuk bergaul diluar.


“Yakin kagak mau ikut kami?” tanya Pe dengan nada penuh arti.


“Nanti menyesal lho.” Badai pun bersuara.


“Nggak,” tolak datar Topan tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop kantor yang sedang dioperasikannya.


“Baiklah. Kami pergi. Tapi kalau bisa sih datanglah ke pantai sore ini. Aku dan Badai ada di sana untuk melihat senja dan ada lagi suprise  yang sangat istimewa menantimu.” Terang Pe seraya bangkit dari kursi.


Badai pun ikut berdiri. Lalu berkata, “Kalau kamu tidak datang, maka masa depanmu tidak akan mengenal apa itu senyuman.” Badai sangat berambigu. Itulah yang Topan rasakan. Tapi, sejurus dia kembali tenggelam sibuk dalam kerjaannya demi bisa membunuh rasa salahnya ke Gerhana.


“Maafkan aku, Na...” lirihnya. Dan pada dasarnya, otak serta hatinya selalu terganggu oleh nama itu.


...****...


“Panci, wajan, dan segala alat masaknya. Bu- Ibu, lengkap lho...”


Demi apapun. Tadinya, Pe dan Badai tidak mau memercayai laporan Charel dan Bimo, tetapi setelah mendengar dan melihat sendiri dengan kedua mata kepala mereka, baru deh yakin seratus persen kalau Gerhana betul ada di Indonesia bersama Xian. Hidup pas pasan dengan mengandalkan berjualan di sebuah kios perabotan rumah tangga di pasar tradisional tersebut.


“Benar, Pe! Itu Nana,” seru Badai. Keduanya saat ini sedang berada di sebelah kios Gerhana. Bersembunyi, takut takut Gerhana ataupun Xian akan kabur bilamana mereka terlihat.


“Bu, wajan anti lengket lho, Bu... mari mampir!”


“Dai, kasihan Nana ya. Itu tidak ada yang melirik lho." Bisik Pelangi yang sedari tadi memperhatikan Gerhana berjualan. Ibu ibu itu hanya lewat semata.


“Aku punya ide,” kata Badai.


"Ide apaan?"


Badai tidaklah menjawab, melainkan melambai satu ibu ibu yang kebetulan lewat.


"Bu! ibu mau panci gratis nggak?" tawar Badai. Sang ibu itu tak pikir panjang lagi, main ngangguk saja. Namanya ibu rumah tangga, panci adalah atribut the power of mamake. Masa iya mau nolak rejeki, iye kan? mana yang nawarin Pria tampan pakai banget lagi.


Pe masih diam mencerna apa yang akan dilakukan Badai.


"Ini uangnya, tapi syaratnya ibu harus belinya di kios gadis cantik itu tuh. Paham, Bu?"


"Paham, dong." Sang Ibu itu pun melangkah riang setelah menarik uang Badai.


Dan terus menerus, Badai dan Pe yang memberhentikan pengunjung pasar dan memberinya uang masing masing satu lembar, yang bergambar sang pemimpin pertama Pertiwi tercinta Indonesia.


"Duit kita abis, Dai." Pe melirik dompetnya yang tersisa dua ribu perak.


"Ngamal, Pe." Badai pun melirik dompetnya yang tinggal goceng. Lalu tersenyum dan berkata lagi, "Nanti kita minta ke Topan untuk ganti rugi. Secara, duit dia paling banyak karena kerja mulu. Toh, ini buat pacarnya juga, jadi Topan akan menuruti apapun yang kita mau, kalau kita berhasil mempertemukannya."


"Iya, juga ya. Haha..mmp..." Pe ingin tertawa lepas, tapi langsung dibekap Badai. Takut Gerhana mendengarnya yang saat ini lagi sibuk meladeni ibu ibu pembeli banyak, hasil kerjaan tipu tipu gratisan mereka.


"Elaaah, Nana nggak bakalan dengar. Lihatlah noh, bokongnya aja uda kagak kelihatan oleh ibu ibu." Pe memutar matanya malas dikala Badai tercengir bodoh.


Beberapa lama menunggu, akhirnya satu persatu ibu ibu itu sudah pergi. Badai dan Pe sejenak saling melirik, lalu kembali menatap Gerhana dan Xian yang sedang tersenyum penuh syukur, akan dagangan mereka hari ini laku keras.

__ADS_1


"Dad, dapat delapan juta...lihatlah," Nana memamerkan uang yang barusan dihitungnya. Xian ikut tersenyum, melihat senyum penuh syukur Gerhana.


"Tapi...kok, aneh ya? Coba, Dad. Perhatikan uangnya. Semuanya lurus lurus macam keluar dari mesin ATM, dan ibu ibu itu kompak belanja barang senilai seratus ribu. Kenapa tuh?" Gerhana mengerutkan dahinya, curiga.


"Udahlah, Nak. Itu mungkin rejeki kita. Kan, hari ini tanggal satu, jadi itu mungkin gaji para suami mereka yang baru cair." Jelas Xian asal asalan.


Gerhana manggut-manggut kecil. Sejurus berbalik kebelakang, karena ada pelanggan lagi. Tapi nyatanya, itu adalah Badai dan Pelangi.


"Ka-kalian..." Gerhana mengambil jarak mundur mundur hingga punggungnya menabrak Xian. Dia tidak mau berurusan lagi dengan Kurcil termasuk Topan, meskipun jujur... Gerhana sangat merindukan orang itu. Namun takut kecewa lagi, makanya dia lebih baik mengasingkan diri.


"Salam, guru!" Pe dan Badai kompak memberi salam ala ala Muay Thai nya ke Xian. Bagaimana pun, orang tua itu adalah mantan gurunya. Tentu saja, Kurcil sudah tahu duduk permasalahan Xian hingga berujung mencuri chip itu dari tangan Topan.


"Salam!" Xian pun memberi hormat sapanya.


Beda dengan Gerhana yang sudah bermimik kecut.


"Kami mau menutup kios. Pergilah!" Gerhana menyibukkan diri dengan barang dagangannya yang masih tersisa. Mengusir pun, sama sekali tidak mau menatap si kembar.


"Na, Topan sakit keras!"


Deg...


Jantung Gerhana berdetak sakit, terpaku dengan netra itu sudah mau menatap Pelangi yang menyatakan berita ngaur tersebut. Tapi....Pe tidak sepenuhnya berbohong kok. Topan memang sakit, bukan? sakit cinta kehilangan Gerhana, maksudnya.


"Ayo! antar aku menemuinya. Rumah sakit mana Topan dirawatnya?" Gerhana bak cacing kepanasan. Tangan itu terlihat buru buru menarik Pelangi yang sedang tersenyum jumawa seraya menatap Badai yang ikut tersenyum diam diam.


...****...


"Lho, ini pantai! Bukan rumah sakit?!" Gerhana dibuat bingung oleh Badai yang memberhentikan mobilnya di sekitaran pantai.


"Pintar kamu, Na. Ini memang pantai." Pe menahan senyumnya. Lalu, turun dari mobil. Gerhana dan Badai pun ikut turun.


"Topan memang sakit. Lebih tepatnya sakit jiwa, karena kamu pergi meninggalkannya. Lihatlah kesana..." Pe menunjuk jauh ke dermaga kecil. Terlihat, ada punggung Topan di sana yang sebenarnya belum tahu, maksud kembarannya, untuk datang ke tempat itu. Tapi di mana Pe dan Badai?


"Sakit jiwa?" Hati Gerhana kian bergetar gusar. Gara-gara aku yang pergi? batinnya merasa bersalah.


"Ya, sakit jiwa," Badai sama saja jahilnya. Tapi itu maksud baik kok. Demi kebahagiaan sejoli itu.


"Dan itu tandanya, Topan bisa saja lompat dari dermaga, kalau kalau sedang kumat." Pe kian membuat Gerhana makin bersalah.


Mendengar itu, Gerhana berlari kencang menghampiri Topan yang memang kian mendekati kayu pembatas dermaga. Itu tandanya mau bunuh diri terjun ke laut, bukan?


"Oh, tidak! Aku harus cepat." gumam Gerhana dalam lari kencangnya itu.


"Hahahaha, Inces Lemot kena prank kita, Dai." Pe tertawa lucu. Badai pun sama.


"Dahh, yuk. Kita pergi, tidak baik ngintipin orang yang sebentar lagi uwu uwuan. Adanya, jiwa jomblo kita meronta ronta."


Setelah bertutur, Badai langsung merangkul pundak Pe. Mereka pun pergi mengunakan mobil.


"Topaaaannnn, jangan lompat!!!" pekik Gerhana yang masih berlari. Pasir sialan itu, sempat membuatnya jatuh karena pontang panting menghampiri dermaga.


Topan yang mendengar ada orang yang memanggil namanya, menarik tangannya dari pembatas dermaga. Sebenarnya, Topan berpegangan di kayu itu hanya tumpuan semata doang, yang sedang menikmati indahnya langit senja.


Topan pun berbalik perlahan, karena menyadari suara itu adalah milik Gerhana.


"Apa ini mimpi?" lirih Topan seraya mencubit pipinya sendiri. "Aaww, sakit juga," katanya dengan mata itu tidak berkedip, menatap Gerhana yang masih berlari mendekatinya.

__ADS_1


Hingga...


Bugh...


Gerhana langsung menubruk tubuh depan Topan. Memeluknya dengan bermaksud menahan Topan untuk tidak nekat bunuh diri karena kurang waras.


Topan sendiri, terpaku. Sungguh...ini keajaiban terindah dalam hidupnya. Demi apa coba, gadis nya datang sendiri. Malahan sudah memeluknya sangat erat. Bahkan, tepat tubrukan pertama Nana, Topan hampir oleng kebelakang, untung ada pembatas dermaga sehingga tidak plungggg ke laut bersama Gerhana.


"Topan, jangan bunuh diri ya. Maafkan aku yang sudah pergi begitu saja tanpa ada kabar. Gara gara aku, kamu mendapat gangguan kesehatan jiwa," racau Gerhana, kian erat memeluk perut Topan.


"Kesehatan jiwa?" Topan bermimik bingung. Segala pertanyaannya ke Nana yang ingin tahu...di manakah Nana selama ini? tertelan sudah karena mendengar kalau dirinya itu gila, kata Nana barusan.


"Iya, maaf ya. Tapi aku janji. Aku akan menunggu mu sampai kewarasan mu itu sudah kembali. Aku akan ikut serta merawat mu."


Gerhana masih percaya kibulan Pe dan Badai. Topan garuk kepala jadinya. Lalu, memaksa Gerhana untuk melepaskan pelukannya.


Setelahnya, mengangkat dagu Gerhana untuk mendongak menatap wajahnya. Mereka saling bertemu pandangan.


"Katakan padaku, siapa yang memberi mu kabar burung, kalau mental ku sedang terganggu, eum?" lembut Topan penuh selidik. Kurang ajar sekali orang itu, bosan hidup kah? awas saja nanti! batin Topan ingin sekali menggunting lidah orang yang sudah memancingnya.


"Kata Pe dan Badai."


Aih ding...kagak jadi ancaman gunting lidah nya. Topan menjilaaat ludahnya kembali. Auto diralat... Kembarannya toh yang sedang berulah.


"Please! Maafkan aku, ak-aku tidak ber-bermaksud membuatmu gi-gila. Sungguh__" Gerhana terjeda dari terbata bata nya, karena Topan tiba tiba menangkup ke-dua pipinya.


"Gerhana, aku memang gila karena mu. Tapi bukan gila dengan kata lain gangguan mental." Terang Topan. Sejurus tersenyum manis karena Gerhana terlihat mencerna ucapannya. Masih lemot ternyata, batin Topan.


Anehnya dia tergila gila. Mungkin, itulah kekuatan cinta sesungguhnya, yang ingin menerima segala kekurangan orang yang kita cintai.


"Jadi...." Gerhana baru sadar telah ditipu oleh kedua kunyuk iseng itu. Seketika matanya tidak berani menatap Topan lagi. "Ah, maafkan otak bodoh ku yang mudah sekali mempercayai orang."


"Na, jangan berbicara seperti itu. Dengarkan aku..." Topan kembali memaksa Gerhana untuk menatap matanya dengan cara mengangkat dagu itu, tanpa ingin dilepasnya lagi.


Gerhana tidak berkata apa-apa, membiarkan Topan berbicara bebas.


"Kamu tau aku bukan pria romantis yang pintar merangkai kata kata manis... Tapi perlu kamu tau juga, kalau aku menyukai dirimu. Karena kamu begitu sederhana, tetapi kesederhanaanmu sangat istimewa di selaput mataku. Tidak ada orang lain yang aku cintai selain dirimu. Baik itu dulu, sekarang, maupun akan datang. Aku benar-benar tergila-gila kepadamu, Na."


Gerhana masih membisu, jantungnya berdebar debar akan mata Topan yang memancarkan kenyamanan baginya.


"Aku selalu membayangkan betapa indahnya, jika suatu saat nanti kita dapat membina bahtera rumah tangga dan hidup bersama sampai akhir hayat. Namun, semua itu tak mungkin terjadi, jika kamu pergi dari ku seperti kemarin kemarin. Na... Apakah kamu mau menjadi wanita ku sampai detik detik terakhir nafas ku? ku mohon....kamu jangan menolakku, demi mengobati rasa cinta yang amat tak terkendali ini?"


Topan melamar langsung, dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Takutnya, Gerhana salah paham lagi. Dan demi apa.... Jangankan Gerhana yang cengong mendengar kata kata mutiara yang terlontar begitu saja, tanpa ada persiapan sebelum nya. Topan sendiri speechless, ternyata.... bukan Don Juan saja yang bisa berucap manis. Seorang pria dingin pun bisa, kalau kalau dalam keadaan terdesak. Contoh si batu ini.


"Na, apakah kamu mau jadi istri ku?" tanya Topan lagi karena Gerhana malah menitikan buliran air matanya. Topan mengusap itu, dia tidak suka melihat orang tersayangnya bersedih.


Padahal sih, air mata itu adalah tanda haru Gerhana. Pertanda, yes...! kurang jelas?


"Ya...aku mau," jawab Gerhana dengan tersenyum seraya meneteskan air matanya lagi.


"Terimakasih, I love you." Topan lagi lagi menghela air mata Gerhana. Hatinya amat bahagia karena cintanya telah kembali. Lebih senangnya, Gerhana menerima lamarannya.


"Aku pun." kata Gerhana malu malu.


"Apanya? aku pun?" Topan menggoda. Gerhana yang jadinya dibuat kesal, akhirnya memanyunkan bibirnya. Dan itu malah membuat Topan tergoda untuk dicicipinya.


Perlahan tapi pasti. Di bawah langit sore yang dihiasi pemandangan senja, dan air laut sebagai saksi nya... Topan dan Gerhana saling berciuman mesra di dermaga itu.

__ADS_1


Cerita pun, End 😘


__ADS_2