Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Capoeira Pe


__ADS_3

"Wanita bodoh!" Pekik Belen ke Pelangi. "Aku senang akan kedatanganmu yang telah mengantar nyawa sendiri pada kami!" Belen segera mengeluarkan katana yang tadinya tergantung apik di punggungnya.


Pe yang melihat itu, segera juga mengeluarkan katana dari punggungnya seperti Belen tadi lakukan.


Matin dan Jerry pun tidak tinggal diam. Kedua pria itu segera mengeluarkan. katananya masing-masing.


Dan ketiga musuh segera berjalan cepat untuk menghampiri Pe yang berdiri di tengah tengah rooftop. Terkesan santai menunggu ketiganya mendekat. Namun aslinya, Pelangi tidaklah sesantai itu, karena Pe pun sudah bersiap siaga untuk melawan tiga orang sekaligus, tanpa ada kata gentar apalagi menciut untuk kabur. Semua orang terdekatnya tidak pernah mengajarinya untuk jadi pecundang. Mati toh cuma sekali ini!


"Beraninya keroyokan, rupanya. Takut kalah kah?" Pe meledek sebelum ketiga orang itu tepat pada posisi sempurna untuk melancarkan aksinya.


Dan bluss...


Pe segera berputar indah, menyerupai putaran orang yang sedang menari balet dengan kaki satu terangkat dari pijakan. Dan sebenarnya putaran itu bukanlah putaran yang hanya gaya semata, melainkan lemparan tiga pisau sekaligus untuk diterima oleh Belen cs bergantian.


Aaargh. Tiga manusia itu belum apa apa sudah melolong keras, karena terkena pisau tepat bagian paha mereka masing masing.


"BEDEBAH!" Jerry terpekik murka seraya mencabut pisau tersebut.


"Hahahaha.... Syukurnya, itu bukan pisau beracun ku! Karena aku tidak mau kalian mati semuda itu." Pe tertawa keras.


"Kamu pikir, nyawa mu akan selamat, Nona! Cuihh....Mati kamu!" Jerry yang pertama kali mencabut pisau dari pahanya, segera maju dan melayangkan katananya ke arah leher Pe. Dia juga meludahi senjata tajam itu terlebih dahulu.


Jelas, Pe segera menangkisnya menggunakan katananya pun.


Sreet...


Aduan senjata tajam nan panjang itu saling berbenturan terdengar ngilu. Matin dan Belen pun maju menyerang Pe yang hanya seorang diri. Hingga, adik Topan itu berada di tengah-tengah musuh.


"Seharusnya aku tidak memberikan kesempatan hidup untukmu," sesal Belen yang tidak langsung mencambuk mati Pe. Belen hampir saja menebas kaki Pe. Namun Pe segera berlompat indah untuk menghindari.


"Itulah kesalahan terbodoh kalian!" Pe menyahut seraya terus berupaya membalas dan menangkis katana yang bergantian ingin menebasnya dari Matin dan Jerry.


"Ck, hebat juga beladirimu, Bocah." Matin mengakui itu karena Pe saat ini menggunakan katana dipadukan dengan beladiri yang berjenis capoeira-Beladiri yang diajarkan khusus dari Yolanda-sang wildflower yang tak lain Oma dari Vay.


Jerry dan Belen pun mengakui itu, bagaimana bisa Pe bisa menguasai beladiri kuno yang berasal dari khas Brazil tersebut? Bukannya Kurcil itu dari Indonesia semua?

__ADS_1


Ketiganya susah untuk melumpuhkan atau pun sekedar menggores kulit Pe. Tapi ke-tiganya tidak mau menyerah. Yang benar saja, tiga lawan satu tetapi kalah. Oh, tidak bisa!


Tepat Matin ingin maju begitupun Belen dan Jerry secara bersamaan, lagi. Pe segera berputar dengan katana pun di tangannya ikut berirama mengikuti Pe yang membawakan jurus capoeranya. Luntur nan indah tubuh itu dalam menari dengan titik titik pukulan siap menskakmat musuhnya.


Sasaran empuk, Matin yang kalah kuat memegang katananya. Hingga terjatuh benda tajam tersebut ke lantai, membuat Pe mempunyai kesempatan mengeluarkan kekuatan titik nilai jual dari Capoera tersebut, yaitu tendangan yang mempunyai kekuatan tenaga dalam tersendiri.


Dan....Braakk...


"Sial!" uhuuk....


Matin terbatuk, tersungkur akan tendangan Pe yang mengenai dadanya.


Padahal, gadis sialan itu hanya mengangkat kakinya yang seolah olah cuma menari semata. Tetapi itulah kehebatan Capoeira, luntur tari bak jurus mabuk. Namun titik tendangan dan pukulannya sangat fatal bagi saraf bilamana terkena. Matin saja langsung batuk-batuk munta mengeluarkan darah.


"Aku tidak akan membiarkanmu selamat!"


Belen merasa kesal sendiri akan kekuatan beladiri yang digunakan Pe, yang tidak punya cela untuk melumpuhkan gadis itu, bak kesetanan dalam menyerang. Dengan itu, dia berhenti terlebih dahulu untuk berkelahi dan memilih mundur tiga langkah seraya memperhatikan gerak gerik Pe yang ingin mencari cela gadis itu.


"Dan aku suka kalau kamu sedang marah," Pe malah meledek yang saat ini Jerry sedang bersamanya untuk mengadu katana.


Jerry membuat pergerakan ingin menusuk Pe. Secepatnya, Pe berkelit ke kanan. Sejurus pun, Pe membalas itu dengan cara katananya menghardik tangan Jerry.


"Aww," ringis Jerry. Kulit tangannya terkena ujung senjata Pe. Namun belum menyerah, Jerry kembali maju.


Belen yang sudah tau harus apa untuk melumpuhkan Pe, menyeringai licik.


"Satu, dua...." Belen menghitung cara gerak kaki Pe. Hingga merasa saatnya, dia melempar pisau kecilnya ke kaki kanan Pe.


Namun...


Hap...


"Tidak kena, Nona!" Ternyata Pe sudah membaca gelagat Belen, dia curiga Belen akan menyerangnya tanpa terduga, sehingga sudut matanya sesekali memperhatikan Belen dalam saksi masih melawan Jerry yang susah juga untuk dilumpuhkan.


"Damn," Matin yang tadinya sibuk batuk batuk berdarah, kini kembali menyerang Pe dari belakang

__ADS_1


Pe dapat tendangan telak dari Matin tepat mengenai punggungnya. Hingga Pe hampir terjerembab kearah depan yang sialnya ada katana Jerry yang sudah terpasang siap menusuk perutnya.


Tetapi,,,,


Praaang... Katana Jerry jatuh terlebih dahulu, sebelum menusuk Pe. Dan itu ulah Topan lah yang datang tepat waktu untuk menggagalkan upaya Jerry yang akan membunuh adiknya.


"Aaaarghhhh." Jerry melolong keras. Sangat menggema ditengah malam itu karena Topan sekali bergerak sudah memutuskan tangan kanannya.


"Itu tuai dari keberanian mu!" Mata elang Topan menggerlya pada tiga manusia yang juga menatapnya murka dalam diamnya masing-masing.


Jerry yang tadinya meringis di lantai, segera bangkit dan kembali meraih katananya yang hanya menggunakan tangan kirinya. Dia belum menyerah, tangan satu pun dia masih sanggup untuk membunuh orang.


Mereka semua masih dalam terpaku satu sama lain, belum kembali saling membeli kekuatan.


"Nakal!" Topan berseru dingin ke Pe yang sudah berada di rooftop. Jelas, dia amat terkejut ketika pertama kali mendapati adiknya itu sudah senggol bacok seorang diri.


Pe tidak menyahut, mata tajam bak kucingnya, telah menghardik Belen. Tidak sabar untuk mencabik cabik wajah wanita itu.


"Aku tidak punya banyak waktu," seru Pe dan segera menguatkan pegangannya dari gagang katananya.


Topan pun siap melawan dua orang sekaligus.


"Oh, tidak bisa!"


Suara nyeleneh ejek itu tiba tiba mendapat perhatian yang datang dari arah pintu rooftop. Dan itu adalah Badai. "Tidak adil dong, kalau tiga lawan dua. Imbangnya itu tiga lawan tiga." Badai bersisisan dekat Pe, sehingga si Triplets itu terlihat berdiri teratur dengan Pe berada ditengah-tengah kedua pria kembarannya.


"Oh, astaga! dia sudah buntung. Hais, aku dapat lawan yang tidak seimbang dong," tengil Badai meledek Jerry. Namun, aura sikopetnya sudah terpancar sedari tadi.


"Bacot!" Jerry geram. Sudah mengambil kuda kuda dengan katana siap memenggal Badai.


"Sabar!"


Jerry dan lainya kembali tertahan akan suara Badai. Pe dan Topan pun gemas ke adik tengil mereka. Bisa bisanya masih mau ngobrol, ck...


"Sebelum kamu melawanku, Jerry! Perlu kamu tau kalau aku yang mengirim kepala anakmu itu." Badai tersenyum tanpa dosa. Jerry yang mendengar ucapan santai Badai jelas dibuat mendidih darahnya. Jerry langsung dua kali lebih murka dari sebelumnya. Itulah yang diinginkan Badai.

__ADS_1


"Damn it!" Jerry mengumpat penuh kemarahan, menghampiri Badai yang juga siap pakai banget untuk memutilasi tubuh Jerry macam nasib Tommy.


__ADS_2