Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Vay Dan Petir


__ADS_3

Malam yang sama, malam yang dirutuk oleh Vay. Karena, malam ini Petir telah menagih hasil duet kekalahannya.


Saat ini, Vay berada di sebuah hotel yang sudah di check in Petir. Biar katanya tidak ada pengganggu.


Uhh, rasanya...Vay ingin kabur ke Belanda saja, tetapi dia bukan seorang pecundang. Jadi, yawislah...pasrah dan pasrah walaupun kagak rela tubuhnya sebentar lagi akan diembek-embek oleh Petir.


By the way, kata Belanda? kok Vay jadi merasa berdosa yang akan mengkhianati cinta Cole-kekasihnya. Sedang apa kekasihnya saat ini? karena rasa salah menggebu, Vay nekat mendail kontak Cole, mumpung Petir masih ritual mandi di dalam sana.


"Halo!"


Tersambung, sialnya... kenapa suara cewek yang ada di seberang sana? Apakah dia salah tekan nomer orang?


Memastikan, Vay menatap lekat layarnya. Tetapi, itu benar nomer Cole.


"Cole ada dimana? siapa kamu? dan kenapa handphone Cole ada bersama mu?" Vay mencerca.


"Halo, Sayang. Ini aku, Cole. Masa lupa suara kekasih sendiri?"


Suara itu sudah berubah laki laki. Vay jadi mengerutkan keningnya bingung.


Apakah aku sudah tidak waras karena sebentar lagi akan dinina-ninain sama Petir? Ah, rupanya iya?

__ADS_1


"Maaf, aku lagi paranoid sendiri." Vay mengibaskan kepalanya tanda tadi dia memang hanya halu saja mendengar suara wanita yang menerima panggilan tersebut.


"Halo, Cole! kok diam? dan itu suara berisik apa sih?"


" Ahhmm... Apa, Sayang!"


Vay merasa ada yang tidak beres di seberang sana, entah apa yang dilakukan Cole? Tetapi, Vay merasa kekasihnya itu kadang meringis ringis kepedasan.


"Kita video ya?"


Vay langsung mengalihkan panggilan suara itu menjadi panggilan video. Namun dongkolnya, Cole tidak menerimanya. Justru di- rijeck. Dan lebih meresahkannya, dari arah pintu kamar mandi, keluarlah Petir yang hanya menggunakan handuk melilit sepinggang, berpolos dada memperlihatkan otot bicep serta sobekan roti yang wow banget, rambut basah sedikit meneteskan titik-titik air ke wajah, juga menambahkan kesan sempurna si kilat.


"Ehemm, kalau terpesona kagak usah malu malu, mau diraba raba juga, gue rela banget," kata Petir seraya menggosok rambut basahnya menggunakan handuk kecil.


Shiiit, ketahuan! Vay segera memalingkan wajahnya yang memang bersemu di mata Petir.


"Si-siapa juga yang curi pandang? kagak ya," elak Vay merasa gugup. Dia tidak berani menatap lawan bicaranya. Sungguh, meresahkan tubuh kekar Petir itu. Namun sialnya, mata dan otaknya mengkhianatinya dengan berkata... Ayo, lirik Vay! di raba juga sang empunya rela ngizinin kok. Elaaah, Lo jadi cewek jangan cemen cemen lah. Ngeraba doang mah kagak bikin memblendung. Cole kagak lihat ini. Tancap yo!


"Aaargh...Pergi!" Vay menggelengkan kepalanya dua kali untuk mengusir suara syaitoni yang berisik di otaknya.


"Dari raba raba bisa jadi khilaf, coeg! Dasar sesaat," maki Vay ke otaknya sendiri. Namun itu hanya dalam hati.

__ADS_1


Petir yang sibuk mengeringkan rambut jadi terperanjat kaget karena usiran itu. "Apa sih, Vay? Lo ngusir gue? Kalau gue pergi yang ngelaba tubuh lo siapa dong?" Petir tersenyum santai, saat mata Vay tetiba mendelik horor kepadanya.


"Bacot lo, gede!" kata Vay pakai ngegas. Petir setia dengan wajah mempesonanya.


"Lo ngapa sih, Tir? selalu gangguin gue dari kita masih pitik? Apa segitu terobsesinya kah ke gue? Cinta? kagak mungkin juga, lo 'kan Don Juan. Kagak percaya gue kalau lo nyatain cinta ke gue. Masa iya sama sahabat sendiri, lo jadikan tumbal sih?"


Vay sudah mulai mendramatisir keadaan, mana tau Petir berubah pikiran untuk tidak menjamahnya. Kagak rela coeg! Bayangan demi bayangan tangan Petir menggerlya tubuhnya sudah menari-nari di otaknya. Vay bergidik jiper, sungguh....mau kabur ini mah. Kata pecundang sudah tidak dihiraukannya bilamana tersemat di nama belakangnya. Tapi, mau kabur juga kagak bisa, uda telat.


"Uda, jangan kayak Oma Yola yang terkenal tipu tipu cantiknya di kelas wahid, lo kagak ada bakat di situ. Lebih baik lo mandi dulu sana sebelum gue mandiin lo pakai cairan putih gue, dan iya."


Seorang anak Langit-Senja ditipu dengan trik trik basih mah, kagak ngefek. Tak apa Vay tidak mempercayai kata cintanya untuk saat ini, tetapi suatu saat nanti, cintanya akan bertuan. Semoga! Kan perjuangan tidak akan mengkhianati hasil, bukan?


Vay jadi memanyunkan bibir kesalnya karena Petir tidak mau memberikan kemurahan. Pegimane coba? end sudah hidupnya malam ini.


"Awas saja sampai gue hamil, gue sunat empat kali burung Lo, nyaho." telunjuk Vay menghardik kesal ke arah handuk Petir.


"Laaah! lo nyunat gue ampe habis, yang ada lo kagak bisa merem melek di tindihan gue. Siapa juga yang rugi? lo juga. Iya 'kan? Kalau lo hamil, ya bagus. Biar anak gue jadi bule kayak lo."


Petir menyahut santai seraya memainkan gawainya yang mau memesan makanan. Sejenak, dia melirik Vay yang mati kutu tidak bisa menyahut kata kata vulg*rnya.


"Nyebelin, huuu!" Vay berdesis seraya menuju kamar mandi. Kalau memungkinkan, Vay akan tidur saja di buthtup. Kagak mau keluar dari pada nanti habis digarap oleh Petir. Matilah sudah!

__ADS_1


__ADS_2