Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Kasih Sayang Persaudaraan


__ADS_3

Badai dan Pe sampai ke markas beberapa menit yang lalu. Tadinya, tempat itu amat sepi karena masih mencari keberadaan Pelangi. Tetapi setelah dikabari kalau Pe sudah pulang. Semua Kurcil Smart sudah memenuhi ruangan medis Badai untuk memberondong pertanyaan demi pertanyaan ke Pe.


Hanya Topan dan Gerhana yang belum ada diantara mereka, karena belum sampai markas yang tadinya sedang mencari keberadaan Pe tanpa arah tujuan.


"Aku tidak menyangka kalian amat mencemaskan ku." Pe tersenyum manis ke semua Kurcil yang mengelilingi bednya. Dia menjadi tidak enak karena sudah merepotkan.


"Jelaslah! kamu adalah bagian dari kami," kata Ama. "So, bagaimana... apakah menyenangkan lepas dari rantai Topan sebelum mendapat insiden itu?" Ama menggoda.


Ceklek


Belum sempat menjawab pertanyaan itu, pintu ruangan terbuka dan masuklah Topan yang sedang terburu-buru. Ada Gerhana pun di belakang Topan.


Pe yang melihat Topan, seketika tertunduk. Pasti Topan akan memarahinya karena sudah berbuat ulah dan berakhir merepotkan semuanya.


"Apa kalian bisa meninggalkanku berdua saja dengan Pe?" pinta Topan ke semua Kurcil termasuk Gerhana.


"Ayo, Neng Bule. Sepertinya, nanti malam adalah waktu tepat untuk membayar hutan dengan ku." Petir beranjak duluan seraya menarik Vay yang tetiba mencibikkan bibirnya karena Petir masih saja mengingat hasil pertarungan duel bodoh mereka.


"Kirain uda lupa. Hah, habis gue malam ini." Gerutu Vay yang berjalan terpaksa dalam tarikan pelan Petir.


Kurcil lainnya pun beranjak keluar, termasuk Gerhana untuk memberi Topan kesempatan berdua bersama Pe. Tetapi, Badai enggan untuk beranjak dari ruangan teritorinya.


"Dai," kata Topan mengkode Badai agar keluar juga. Pe semakin kicep dalam hatinya karena pasti Topan akan memukulnya karena sudah salah.


"Pasrah saja lah mau dikuliti juga." Batin Pe.


"Ini ruanganku! kalau mau berbicara serius tanpa ada aku, maka bawa Pe ke ruang kerja mu sendiri." Cetus Badai. Dia sebenarnya mau melindungi Pelangi dari Topan yang sama saja pikirannya kalau pasti kakak tertua mereka akan marah marah.

__ADS_1


Dengan santai Badai malah duduk di sisi bed kanan Pe. Sementara Topan berdiri di sisi bed kiri, hingga Pe terlihat duduk di tengah tengah mereka.


"Dai, keluarlah! aku tidak apa apa kok. Aku juga ingin berbicara serius ke Topan. Mau 'kan nurutin permintaan ku?" Pelangi menengehai nama bencana itu yang sudah saling lirik lirikan sinis.


"Hm, baiklah!" Badai mengalah. "Tapi aku sudah menghitung luka di kulitmu, Pe. Jadi kalau ada tambahan satu saja. Fix, Topanlah yang---"


"Bacot!" sarkas Topan menserga Badai yang berpikir negatif kepadanya.


Badai pun keluar dari ruangan. Persaudaraan itu kadang kala ada pertikaian di dalamnya, termasuk Triplets yang egonya pada setinggi langit ke tujuh.


Lima menit berlalu, hanya ada keheningan di antaranya. Pe sibuk merangkai kata dalam benaknya untuk meminta maaf. Sementara Topan menetralkan rasa sedihnya karena luka tembak Pe seakan akan meneriakinya sebagai kakak yang tidak berguna untuk menjaga orang tercintanya.


Maaf!


Sekali berucap, keduanya malah kompak meminta maaf dengan mata saling bertatapan sendu.


"Aku meminta maaf karena keluar dari teritorimu, aku meminta maaf karena kabur dan membuat kalian repot. Aku minta maaf karena adikmu ini menjadi pembangkang. Aku---"


"Aku yang bersalah," ungkap Topan dengan mengelus surai Pelangi dengan penuh rasa sayang. Sungguh, dia amat menyayangi adik perempuannya. Andai bisa, nyawanya pun dia akan tukar demi hanya membuat bianglala terlukis indah di bumantara terus menerus untuk Pe.


Dengan rasa sayang sama takarannya, Pe pun membalas pelukan Topan dalam posisi duduknya. Sudut sudut matanya memanas, dia baru paham seratus persen kalau Topan posesif kepadanya hanya semerta merta kebaikannya.


"Aku janji! janji tidak akan pernah kabur ataupun memberontak lagi dari rantai tak kasat matamu," ungkap Pe. Dengan suara parau karena sudah menangis di dalam dada Topan. Meski Topan tidak mengungkapkan rasa sayang kakak kepada adiknya dengan lisan, tetapi Pe sudah paham betul dari aksi Topan memperlakukannya secara berlebihan. Entah, Pe harus bersyukur atau masalah baginya yang mempunyai saudara amat berlebihan menjaganya. Tapi, mata Pe terbuka lebar kalau Topan begitupun Badai adalah adik kakak yang sudah klop baginya, tidak bisa dipisahkan ataupun di adu domba dengan begitu mudahnya.


"Jangan menangis, kamu tau aku tidak suka melihat air bening ini."


Topan merenggangkan pelukannya, lalu menghapus air mata Pelangi yang sudah membasahi pipi mulus adiknya. Inilah alasan Topan menyuruh Kurcil termasuk Gerhana untuk keluar... dia tidak mau mereka melihat kelemahannya, dan kelemahannya itu adalah dua.... Pe dan Mentari-Ibundanya.

__ADS_1


Topan mungkin masih memaafkan orang yang ibarat kata...Menyenggolnya secara langsung dengan kata... Sorry, tidak sengaja. Tetapi cobalah senggol sedikit saja Pe ataupun Ibundanya dengan kata sama.... Maaf, tidak sengaja. Maka kata maaf Topan itu lain. Senggol sedikit, balasannya senggol bacok.


"Tapi, kamu tidak marah kepadaku, kan?"


Cup...


Kali ini, Topan sampai mengecup kening adiknya demi membuat Pe percaya kepadanya.


"Yang penting jangan mengulangnya lagi, ya? Kamu harus selalu membawa GPS pendeteksi apapun itu kalau kamu mau keluar sendiri," pinta Topan. Pe mengangguk patuh dengan senyum manisnya seraya menghentikan air mata sesalnya.


"Pan! Bagaimana hubungan mu bersama Nana? Apa kamu benar-benar mencintainya? atau hanya karena chip itu kamu menahan dia di sini, eum? katakan padaku?" Pe mencoba mencairkan suasana karena Topan masih saja menatapnya dengan binar gagal menjaga adik hingga punggung itu terluka.


"Ini pasti sakit ya?" Topan berkelit dengan sibuk menatap punggung Pe yang sebenarnya tidak terlihat karena memakai baju oblong.


"Pan!" Goda Pe ingin mendengar lisan Topan tentang perasaannya ke Nana.


"Istirahatlah!"


"Huu, menyebalkan!" Dengus Pe karena Topan mulai datar melebihi tembok.


"Pe, apakah Guntur yang menolong mu adalah Guntur teman desa Vay? plus Guntur yang sama juga akan insiden penculikan waktu kita masih remaja?" tanya Topan dengan suara penuh keseriusan.


"Betul? kenapa memangnya? apakah ada sesuatu?" tanya Pe. Dia menyadari seringai lain Topan.


"Tidak, cuma aneh aja. Dari dulu sampai sekarang, dia sangat misterius. Aku dan Vay semalam mencoba meretas identitasnya tetapi selalu gagal."


Pe hanya diam, tetapi di dalam hatinya menyetujui Topan kalau Guntur memang misterius. Tidak jelas dari keluarga mana?

__ADS_1


"Istirahatlah! aku ada urusan bersama Charel."


Topan main pergi setelah membantu Pe rebahan dengan posisi nyaman tanpa melukai punggung itu.


__ADS_2