
Hari ini di tempat lain, lebih tepatnya di dalam markas organisasi yang sama halnya menginginkan chip milik para Kurcil, sedang gencar mencari keberadaan chip itu.
Terlihat seorang pria setengah baya, bertubuh tinggi dengan wajah sangar, memasuki sebuah penjara bawah tanah. Tempat para tahanannya disiksa. Para penjaga penjara itu seketika memberi hormat takzimnya kepada pria sangar tersebut. Ia adalah seorang bos mafia yang digadang-gadang mempunyai kekuasaan peran penting di Negara asing itu. Ia merangkak sekaligus dua kejayaan.
"Apa kamu sudah berubah pikiran, kacung?" Ia bertanya kepada salah satu tahanannya yang terlihat kurus dan terkesan sangat kotor penuh debu, ditumbuhi bulu-bulu tebal di rahangnya semakin membuatnya sangat tidak terurus.
" Hahaha, sayangnya tidak, Jerry!" sang tahanan itu terdengar tidak ada takutnya, padahal nyawanya ada di tangan sang lawan bicaranya yang notabenenya adalah ketua tempat organisasi itu.
"KATAKAN! DI MANA CHIP ITU, XIAN! ATAU PELURU INI AKAN MENGHUJANIMU!" marah sang ketua dengan menodongkan pistol ke sela jeruji besi itu.
Ya, dia adalah Xian.... Orang tua angkat Gerhana yang sudah dinyatakan meninggal tapi itu hanya kebohongan.
Xian tidak menjawab langsung, dia malah menyeringai ejek, lalu berkata..." Tembak saja. Toh, dari dulu aku memang ingin mati. Dan ah, kalau aku mati...kamu dan semua orang yang menginginkan chip itu tidak akan mendapatkannya sampai kapan itu." Jelas Xian dengan nada mengejek orang yang bernama Jerry. Xian malah berdecak pinggang seraya melangkah mengikis jarak ke Jerry. Hanya jeruji besi lah yang menjadi pembatasnya.
"Aaargh." Teriak Jerry kesal di depan wajah Xian. "Mungkin dengan cara menggorok leher anak gadismu, kamu akan menyerah dari keras kepala mu itu. Awas saja nanti!" ancamnya menunjuk kesal dada Xian. Dia sudah tidak punya cara lain untuk menggeretak Xian. Dari menggantung, mencambuk, tidak memberi makanan satu Minggu pun, Xian masih bungkam tentang info chip itu.
Tapi anehnya, Xian malah terkekeh kecil mendengar ancaman itu. Membuat muak untuk Jerry lihat.
"Bahkan, kamu tidak pernah berhasil menangkap anak ku, Jerry. Kamu itu lemah," ujar Xian sengaja memainkan emosi lawannya. Matanya sebenarnya mengatakan ketakutan bila mana sudah membawa nama Gerhana. Dia sebenarnya menyayangi Gerhana yang sudah diasuhnya dari dulu. Entah bagaimana kabar gadis lemotnya itu? Setelah penanaman chip tersebut ke tubuh Gerhana yang di lakukan secara paksa, dia sudah tidak pernah bertemu lagi karena keburu tertangkap oleh Jerry.
"Setelah chip itu di tanganku, maka kamu akan mati saat itu juga, bangsat!"
Selasai berucap kasar, Jerry langsung saja meninggalkan penjara itu.
Semoga kamu berada di tempat aman, Gerhana. Xian kembali bersedih.
"Kalian kerjalah dengan jeli. Jangan sampai GPS pelapis chip itu terdeteksi tanpa kalian ketahui. Dengar, kerjaan kalian sangat memakan gaji buta selama satu tahun ini. Duduk santai di depan layar tanpa ada kemajuan."
Jerry melampiaskan kekesalannya ke ahli hackernya. Dia sebenarnya sudah mempunyai petunjuk akan kode aktif jaringan yang membalut apik chip itu, tapi sialnya.... GPSnya tidak kunjung aktif. Damn!
__ADS_1
...****...
Tak...
Tak...
Tak...
Derap langkah kaki dari sepatu pantofel pria tua memasuki sebuah markas besar organisasi lain. Bukan markas si Kurcil, bukan pula markas Jerry melainkan markas The Kree yang di pimpin oleh Guntur.
Pria tua itu terus berjalan cepat dengan rahang sudah mengeras karena marah. Di belakangnya ada enam bodyguard yang yang setia mengikuti langkahnya bak peliharaan membuntuti sang majikan.
"Selamat datang, Tuan Matin," sambut salah satu penjaga markas tersebut.
"Di mana Laric dan Belen?" tanya laki laki itu yang tak lain adalah orang tua Belen.
"Bos Guntur ah, maksud saya Bos Laric sejak semalam tidak pulang, Tuan," sahut anak buah itu dengan cepat-cepat meralat nama Guntur di hadapan bos besarnya.
Sang anak buah itu terlihat gugup untuk mengatakan kalau gadis sombong itu sebenarnya ada di dalam kamar, tapi masalahnya bersama pemuda yang entah siapa yang di bawanya pulang dalam keadaan mabuk.
"Mengapa wajah mu nampak gugup? ah, sudahlah! biar aku sendiri yang memeriksa peliharaan cantikku."
Sang empu suara segera berjalan ke kamar Belen. Para anak buahnya tidak ada yang ikut karena mengerti kalau kamar adalah hal pribadi sang bos.
Ceklek...
Hais, pria tua tapi masih perkasa itu, seketika di suguhi pemandangan yang tidak senonoh. Di mana Belen dan seorang pria tidur dalam keadaan naked tanpa adanya selimut yang menutupi.
"Aku memelihara ****** rupanya," lirihnya seraya mengambil pistol dari dalam jasnya.
__ADS_1
Sejurus...
Dor...
Satu tembakan yang dilengkapi peredam suara menghunus ke dada pria yang sudah berani memeluk anak angkatnya.
Lantas Belen terkejut setengah mati, gegas terduduk.
"Dad-daddy Matin!" gagap Belen ketakutan akan tatapan mata orang yang sudah membesarkannya.
"Inikah kelakuan mu selama berada di Negara ini, Belen? kedatangan ku dari luar Negeri, kamu suguhi pemandangan tidak senonohmu."
Wanita itu hanya diam di atas kasur dengan selimut segera dia kenakan asal asalan. Dia tidak berani menyahut. Ah....ini semua gara gara Guntur yang tidak mau menemaninya tidur, dan alhasil dia menggait pria asing untuk pemuasnya.
"Ck," decak laki laki berwajah ketimuran tersebut. Dia pun menarik Belen dan menghempaskan tubuh naked itu ke sofa.
"Kamu hidup karena kedermawanan ku yang memungutmu di jalan. Maka, mulai hari ini kamu bukan anak angkatku lagi, tapi pemuas."
"Dad__" Belen tercekat melihat Matin melepaskan seluruh benangnya. Jujur, pria setengah bayah di hadapannya tak kalah sixpacknya dari pria muda di luar sana. Baiklah, bukan anak lagi, tak apa! yang penting masih di beri nyawa. Toh, siapa pun yang menjadi tempat pemuasnya akan terasa nikmat 'kan?
"Puaskan aku!" Matin menjambak rambut Belen agar mendongak ke wajahnya. Belen kaget dibuatnya.
"Iya! dengan senang hati Dad. Tapi bisakah tidak secara kasar seperti ini? rambutku terasa mau lepas dari kulit kepalaku." pinta Belen memohon. Dalam hatinya, dia marah besar karena di perlakukan tidak manusiawi.
"Sayangnya, aku lebih suka permainan ektrim, Cantik." Matin tersenyum jahat. Dia pun mendorong kasar Belen untuk rebahan di atas sofa. Senjata masih ada di tangannya. Dengan cepat, dia berjongkok di hadapan belahan terlarang Belen.
"Wow, uda dol kah?" ujung senjata masuk begitu saja ke dalam sang inti tanpa adanya embel-embel pemanasan global. Matin, orangnya memang suka yang ekstrim. Berhubungan pun tidak lepas dari kata ekstrim.
"Dad__Eumm, Dad__ja-jangan Ahhhkh." Belen medesa* prustasi, antara kenikmatan juga diiringi ketakutan. Bagaimana tidak was-was... kalau-kalau Matin tidak sengaja melepaskan pelatuknya, maka lubang nikmat penadah batang pohon itu akan hancur, mati lah dirinya dalam keadaan becek kagak ada ojek. Iye kan?
__ADS_1
Matin tidak mau tahu, dia terus mengobrak abrik rongga mulut buaya Belen.
Uda ah, Tata kaburrrr...eh, like ya! Satu lagi....Minal Aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir batin, Allππππ