Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Kekecewaan Gerhana


__ADS_3

" Kenapa pada diam?"


"Kalau kami tidak mau memberikannya, mau apa, hah? ck!" Petir sengaja menjawab seperti itu demi mengulur waktu, agar Vay bisa segera mungkin mendapatkan titik lokasi Matin dan Jerry saat ini.


"Oh, kalian menantang, Bocah? lihatlah dan jangan berkedip!"


Jerry memindahkan layarnya untuk memperlihatkan Pelangi yang sedang terbaring pingsan di atas ranjang.


Mata Kurcil dan Dibi melotot marah, dikala Matin di seberang sana ingin menyentuh nakal Pe.


"Heeeeeiiiii!" Pekik Topan sangat marah seraya menendang kursi kosong yang ada didekatnya. Andai, kedua pria tua itu ada dihadapannya, mungkin sudah mengeluarkan isi perutnya.


Badai pun melolong murka dengan wajah sikopetnya sudah terpancar. Sangat dingin aura mereka berdua.


"Hahahaha," Matin malah tertawa jahat, begitu pun Jerry. Mereka-lah yang memegang kendali saat ini, pikirnya jumawa.


"Berani kalian melewati batasan, maka__"


"Maka apa, hah?" Matin menyerka Topan. "Keputusan ternodanya wanita ini, ada di tangan kalian sendiri! Terserah, mau mempertahankan keegoisan kalian atau menyelamatkan kesucian rekan cantik kalian. Sungguh, ini sangat indah untuk dinikmati."


Matin semakin ngelunjak, dia sengaja membuka satu persatu kancing bajunya sendiri yang seolah olah siap menjamah Pe.


Topan yang melihat itu semakin murka. Namun, mencoba meredamnya, agar logikanya bisa digunakan. Ia tidak mau gegebah, dengan itu dia mengalah untuk saat ini.


"Aku akan memberikan chip itu. Tetapi tolong! jangan sentuh adik ku. Jangan!" mohonnya. Dadanya pun kian terasah sesak. Kelemahan dan kekuatannya itu adalah keluarganya, bila diminta untuk menyerahkan kepalanya, maka Topan sangatlah rela demi keselamatan Pe.


Yang lainnya hanya bisa menuruti keputusan Topan. Merelakan chip itu, dari pada harus menghancurkan masa depan Pelangi.


"Beri kami waktu untuk mengeluarkan chipnya dari tubuh Gerhana." kata Dibi mewakili Kurcil. Mata Dibi pun kian memerah menahan airnya, dia tidak bisa membayangkan masa depan Warnanya- gadis yang sudah digendong nya dari bayi itu akan kehilangan kesuciannya dengan cara dinodai.


" Oh, tidak bisa! kami maunya saat ini juga!"


Kurcil auto kembali kena mental akan permintaan Jerry yang amat buru buru. Kompak mereka menatap Gerhana. Sedangkan yang ditatap hanya diam seribu bahasa dengan mata terus menatap lekat lekat wajah Topan.


"Tapi mengeluarkan chip itu butuh waktu!" kesal Topan.


" Tidak usah repot-repot, kami sendiri yang akan membedah tubuh gadis itu. Ingat! nyawa rekan kalian ada di tangan kami. Jangan coba-coba untuk menipu atau semacam nya, karena aku tidak pernah berbelas kasihan kepada nyawa manusia.. ." Warning Jerry penuh penekanan.

__ADS_1


"Tunggu apalagi, hah? Kenapa tidak ada yang mau bergerak, waktu kalian tidak banyak! dan ah, satu lagi! hanya satu orang yang boleh turun tangan untuk mengantar Gerhana kepada kami. Kalau melanggar, maka Pelangi hanya akan tinggal nama saja. PAHAM?!!" sambung Matin tidak main main dalam ancamannya. Tangannya pun, menarik bantal yang seolah-olah ingin membekap pernafasan Pe. Aksi itu mampu membuat Topan dan lainnya menjerit lagi.


"Ja-jangan! ok, ok! lima belas menit, tunggu aku! dan jangan bunuh atau pun sentuh adik ku!"


" Tidak akan, kalau kamu datang tepat waktu. Jadi, datanglah sekarang ke tanah lapang yang memiliki gedung terbengkalai bekas kebakaran itu." Titah Jerry, lalu mematikan sambungan video. Bertepatan dengan itu, Vay berhasil mengetahui titik lokasi musuh.


"Aku dapat alamat nya," ujar Vay. Namun Topan menggeleng seraya menatap satu persatu rekannya. Kode untuk tidak beraksi dahulu sebelum keamanan Pe terjamin.


"Tolong! jangan ada yang bertindak gegabah, demi hidup Pe! Setelah Pe ada pada kita, maka itulah saat nya waktu perang kita," pintanya. Agar teman teman nya tidak berbuat plan plan yang bisa saja membuat Matin dan Jerry murka dan berimbas ke Pelangi, Topan tidak mau itu.


Tidak ada yang menjawab, pundak pundak sang rekannya hanya terlihat merosot lemah. Topan pun akhirnya berdiri cepat dan menarik tangan Gerhana dengan perasaan berat. Topan tidak berani menatap mata Gerhana, karena jujur... dia juga tidak rela kalau Gerhana dalam bahaya.


Keputusan berat bagi Topan. Kedua wanita itu sangatlah berarti baginya.


Gerhana? di dalam langkah itu, di mana Topan yang masih menariknya untuk berjalan cepat menuju mobil, dia hanya mampu menatap nanar tangannya serta tangan Topan yang bertaut. Dia kecewa! sangat! terdiam nya seribu bahasa adalah tanda dia sakit hati.


Kenapa? karena Topan tidak meminta pendapatnya. Seenggaknya, Topan berbasa basi untuk mempertanyakan kesediaannya untuk menjadi barang tukar nyawanya dengan Pe. Tetapi, Topan tidak melakukan itu. Gerhana kecewa! seakan-akan pendapatnya tidak di butuhkan, dia merasa kalau dirinya itu hanya boneka yang sediakalanya harus menerima pasrah kalau kalau sang majikan tidak membutuhkannya lagi.


Hingga, di dalam mobil yang lajunya melebihi batas normal, Gerhana dan Topan masih dalam kebisuan.


"Na__" Topan bersuara bertepatan Gerhana juga mengeluarkan suara yang amat melukai hati Topan.


" Kamu tidak mencintai ku, Topan. Kamu hanya melindungi ku karena chip kalian yang entah bagaimana ceritanya, bisa ada di dalam tubuh ku."


Itulah kata-kata telak Gerhana yang mampu membuat hati Topan mencelos sakit.


"Tentu itu tidak benar, Na__"


"Konsen saja dalam mengemudi! Jangan sampai nyawa Pe melayang karena kamu telat." Gerhana menyerka penjelasan Topan. Dia cukup membuka mata nya lebar lebar, kalau dirinya tidaklah seberharga itu bagi Topan.


"Nana." Suara Topan bergetar. Bertepatan dengan itu, mobilnya pun sudah sampai tujuan. Topan meraih tangan Gerhana dan menaruhnya tepat di permukaan jantung nya.


"Kamu pasti merasakan jantung ini berdebar keras bila mana aku di dekat mu, itu tandanya aku sangat___" Topan terjeda lagi untuk memberi pengertian, karena penolakan Gerhana yang segera menarik tangannya dari genggaman lembut nya.


"Menit demi menit adalah waktu berharga untuk Pe, dan itu tandanya waktu detik detik terakhir kita untuk tidak bersama lagi." Sudut sudut mata Gerhana berembun, dia sesegera mungkin memalingkan wajahnya, lalu turun dari mobil seraya mengucek matanya agar tidak jadi menetes.


Topan pun keluar dari mobilnya.

__ADS_1


Dia jelas paham kalau Gerhana kecewa berat terhadap nya, tetapi dia bingung juga harus melakukan apa saat ini. Jalan satu-satunya hanya pertukaran. Sumpah demi apapun, Topan amat mencintai Gerhana. Tetapi disisi lain, dia juga tidak mau Pelangi meninggalkan dunia ini karena keegoisannya.


Hah... Topan mendengus marah pada dirinya sendiri. Inikah yang namanya makan buah simalakama? tanyanya dalam hati. Sangat tidak enak rasanya berada di dua pilihan. Kalau bisa memilih, Topan lebih baik menggorok lehernya sendiri dari pada di suruh milih antara Pe dan Gerhana. Tetapi logika lagi, kalau lehernya terputus maka siapa yang akan menyelasaikan masalah yang sudah seperti benang kusut itu.


"Na, aku berjanji akan datang untuk menyelamatkan mu." Topan memaksa Gerhana masuk kedalam pelukannya. Wanita itu meronta, tetapi sekuat tenaga pun Topan menahannya.


Merasa percuma meronta yang hanya berkekuatan lemah, Nana pasrah dipeluk erat oleh Topan. Dia meneteskan air mata kecewanya di baju Topan.


Di sisi lain, sebenarnya Gerhana mengerti keadaan keterpaksaan Topan, dia tidaklah egois yang merelakan nyawa Pe melayang begitu saja . Tetapi, entah kenapa di sisi lain juga, ada rasa kecewa luar biasa yang mampu membenci cinta besarnya ke Topan.


"Ho ho ho ho! kasihan! perpisahan yang mengharukan."


Sekonyong-konyong nya ada suara Jerry yang menggangu Topan. Pelukan itu pun terlepas.


Topan menatap penuh marah kepada dua orang yang berdiri tujuh meter dari posisinya. Di mata Topan, ada helikopter pun di belakang Jerry dan Matin.


Mereka ternyata sudah merencanakan ini dengan matang. Topan sulit mendapat cela untuk menyelamatkan Gerhana setelah Pe di tangannya.


"Mana Pelangi?" tanya Topan penuh penekanan. Dia masih menggenggam erat tangan kekasihnya. Sangat sulit untuk melepaskannya.


"Tenang lah, kami tidak akan munkar. Mendongaklah ke gedung yang terbengkalai itu!"'seru Matin.


Topan dan Gerhana pun menurut. Mata ke-duanya membola, ketika melihat Pe yang digantung tangannya di atas sana sudah seperti timbah sumur. Kalau tali itu putus, maka Pelangi terjun bebas ke tanah.


Shiiit.. umpat Topan sangat marah dan ingin meringsek mengambil jarak ke Jerry dan Matin dengan bermaksud untuk mengajar. Tangannya masih setia menggenggam tangan Gerhana.


"Eeh, stop di situ!" cegah Jerry. Topan pun terhenti. "Dengar baik baik, di atas sana ada lilin yang akan perlahan lahan membakar tali yang menahan Pelangi. Waktu mu sisa sekitaran lima menit," terang Matin.


Sontak saja Topan melepaskan genggamannya dari tangan Gerhana saking takutnya Pe akan terjun bebas.


Dan sang empu tangan hanya mampu menatap angin kosong bekas genggaman Topan. Gerhana tersenyum kecut, lalu memanggil nama..." Topan..." serunya. Topan pun berhenti sejenak tapi tidak kuat untuk membalikkan badannya.


"Jangan datang untuk menyelamatkan ku!"'


Deg....


...*****...

__ADS_1


__ADS_2