
"Apa? kapal ku meledak ditengah laut?"
Jerry terkejut bukan main saat mendengar laporan anak buahnya.
"I-iya, Bos!" Sang anak buah menyahut takut takut.
Aaaarghhhh...
Jerry melolong murka, dia bak cacing yang disiram air garam. Menjambak-jambak prustasi rambutnya seraya mondar mandir didalam ruangan santainya. Bagaimana tidak pusing, usaha obat terlarangnya yang harganya bukan kaleng kaleng hingga triliunan itu, musnah di dalam kobaran api plus tenggelam ke laut pula. Rugi bandar.
"Sial, sial, sial!" Jerry menghajar anak buahnya sebagai pelampiasannya.
"Om, sudah dong! Biarkan dia pergi untuk mencari tau penyebabnya," lerai Belen yang berada diruangan itu pula. Tidak ada Matin, dia dan Jerry hanya berdua saja.
"Sa---saya permisi, Bos. Mau menyelidiki penyebabnya," izin cepat sang anak buah. Dari pada mati sia sia mending kabur, iye kan?
"Anak buah kurang ajar, belum dapat izin sudah main kabur saja," maki Jerry seraya melempar guji ke arah pintu. Setelahnya, dia membanting bokongnya ke sofa yang di duduki
Belen. Wanita itu sampai terjungkir sesaat.
"Rugi! Rugi! Rugi besar aku, hah!" Jerry terus marah marah. Belen yang tidak suka melihat itu, meringsek naik kepangkuan Jerry, menggoda.
Jerry ingin mendorong tubuh itu, tetapi terhenti karena sentuhan Belen yang meraba raba dadanya naik turun, sampai jari Belen membuka kancing baju sendiri, membuat nya meredam emosi nya. Adanya, emosi lain yang meronta.
"Dari pada marah marah menghabiskan tenaga, mending kita__hmppp."
Perkataan Belen belum terucap semua. Namun terhenti, karena bibirnya sudah dilahap ganas oleh Jerry. Secara bagi Jerry, di tawarkan gratis, yaak masa nolak? kagak lah.
Dan saat ini, Belen sudah dipolosin oleh Jerry. Di tusuk tusuk sate, dan di bolak balik seperti jagung bakar. Begitu terus dengan brutal dan kasar.
Tapi anehnya, Belen suka dan terus berteriak ah..ah..ah... enak. Belen gito lho, sukanya yang ekstrim.
...*****...
Di dalam laut, Kurcil plus Dibi masih mencari Topan.
Tiga helikopter pun masih berkeliling mengitari area ledekan kapal.
"Charel! Pelankan laju mu dan turunkan sedikit helikopter mu! ini sangat tidak terlihat kebawah."
Ama marah marah tidak jelas yang berada di dalam helikopter bersama Charel. Padahal, Charel sudah sangat pelan menerbangkan mesinnya. Dia juga sudah sangat dekat dari air laut, turun sedikit maka pluungg... Nasib anak buah mah, serba salah.
"Siap siap, Nona. Kita akan terbang di dalam laut saja," Charel menyahut santai.
__ADS_1
"Sialan! yang ada bukan terbang, tetapi tenggelam bersama helikopter." Ama memukul kesal lengan Charel.
Itu tau! Charel hanya berani membatin.
Di dalam lautan, orang yang di cari cari Kurcil dan Dibi yakni Topan. Terus menyelam ke arah dasar, mengejar jatuhnya kalung milik Gerhana yang terlepas dari lehernya.
Sedari tadi, Topan menantang matanya untuk terus terbuka di dalam air asin itu. Mati matian pun dia mengejar laju jatuhnya kalung yang berliontin unik... bulan gerhana tersebut.
Sebenarnya, sisa sisa kekuatan menahan nafasnya sudah semakin menepis.
Tidak boleh hilang!
Topan keras kepala seperti batu, dia memaksakan diri demi kalung milik orang tersayang nya. Sejenak, dia menutup mata dengan terus memberatkan tubuh nya agar melampaui laju gerak benda itu.
Tidak mau kehilangan jejak, dia pun membuka mata lagi, memaksa padahal sudah perih.
Sedikit lagi, Topan! batinnya menguatkan dirinya. Dan hap... tertangkap dalam genggaman nya. Dia akhirnya tersenyum dalam hati, lalu kembali berenang ke atas.
"Topan!!!" Badai memukul mukul air laut dengan kesal. Marah dan kesal pada dirinya sendiri karena merasa tidak bisa menjaga saudaranya.
"Bagaimana? ketemu?" Dibi bertanya gusar.
Dan yang lainnya hanya menggeleng lemah.
"Kakaaaaaak!" Angkasa berteriak kencang dengan perasaan takut. Bibirnya bergetar, bukan karena merasa dingin melainkan ingin menangis.
"Jangan, kak! aku tidak mau kehilangan kamu juga___Aarhhg Ada hiu yang menarik kaki ku," tetiba Angkasa terpekik ngaur karena merasa kakinya memang ada yang menarik nya sekejap.
Semuanya panik karena racauan Angkasa. Hiu katanya? auto matilah semuanya.
"Ayo segera menyelamatkan diri!" pekik Guruh mengikatkan untuk kabur karena temannya hanya panik tidak jelas tanpa mau bergerak.
"Ayo, kemana? haduh... ini kan wilayah nya hiu." Petir panik sendiri. Sementara, Lautan dan Dibi saling tubruk kepala yang ingin berenang tanpa arah tujuan.
Akan tetapi, Byuuuur. Kepala Topanlah yang muncul ke permukaan tepat di belakang Angkasa.
"TOPAN!"
Seru semuanya kompak mengelilingi Topan yang tetiba berpegangan di pundak Angkasa, seraya mengambil nafas rakus-rakus, dengan cara mulut itu mangap mangap mengisi oksigen.
" Topan!" lirih Badai dengan mata berkaca-kaca haru. Dia ingin memeluk kembarannya di air itu, tetapi ditahan oleh Topan.
"Kalian kenapa sih, aneh!" santai Topan. Lekas membuat rekannya melongo kesal.
__ADS_1
"Si batu, nyebelin!" Dibi menepis air hingga mengenai wajah Topan. "Kita itu mencari mu dari tadi dengan perasan takut, tetapi giliran mau dipeluk sebagai rasa lega kami, kamu malah menolaknya, dasar! kamu kemana sih?" oceh Dibi mencerca.
"Ck, gue bukan ga* yang mau dipeluk oleh batang. Coba lo lo pada berwajah Gerhana, rela rela saja gue dipeluk." Topan menjawab santai seraya tangan dia lambai ke atas, kode ke arah Vay dan dua helikopter lainnya.
Mendengar itu, Badai serta yang lainnya hanya mampu menggeleng geleng kepala. Dalam hati mereka berkata, nyesal gue udah mengkhawatirkan orang yang nyebelin nya naudzubillah.
Vay yang melihat Topan, bernafas lega seraya menurunkan tali tangga monyet nya. Charel dan helikopter satunya pun melempar kompak tali tangga mereka.
"Huu, misi yang menegangkan," keluh Petir yang sudah berada di dalam helikopter yang Vay operasikan.
Vay tidak menjawab, melainkan hanya melirik sesaat.
"Oke, sudah lengkap semua nya, Charel? Deno?" Vay bertanya melalui radar yang tersambung ke anak buah Topan saat si Twins sudah berhasil naik ke helikopter.
Sudah, Nona! sahut kompak sang empu nama yang ditanya oleh Vay.
Helikopter itu pun terbang meninggalkan laut ke arah Utara. Sementara, helikopter dari pasukan Jerry baru terlihat dari arah Barat.
...****...
Di sudut markas, tepat nya di lapangan khusus pelandasan helikopter. Miko dan beberapa anak buah Topan telah siap menyambut kedatangan helikopter yang dipakai Vay, Charel dan Deno.
Wajahnya nampak tegang. Pasalnya, Pe yang izin keluar tanpa mengklarifikasi tujuaannya kemana, sampai saat ini tak kunjung pulang.
Helikopter pun mendarat bergantian.
Miko menghampiri Kurcil dan memberi salam takzimnya tepat di hadapan Badai.
"Miko," sahut Badai ke salam anak buah kepercayaan nya.
"Tuan, aku___"
"Dingin, uih. Eh maaf, Miko."
Miko terjeda akan Ama yang sedang buru buru berjalan menggigil yang baru keluar dari helikopter, hingga tidak sengaja menabrak bahunya. Padahal, dia ingin melaporkan tentang Pe ke Badai dan Topan.
"Haduuh, gimana nyampaiin nya ya? Ah, mudah mudahan Nona Pe sudah ada di dalam kamarnya." Miko menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya menatap punggung segerombolan Kurcil yang sudah berjalan jauh di depan.
"Miko, kenapa Pe dan Gerhana tidak menyambut kami?"
Sekonyong-konyong nya, ada suara yang mengagetkan Miko dari arah belakang. Dia pun terkejut hebat, segera menoleh. Ternyata Dibi-lah yang baru keluar dari helikopter.
"Tu-an Dibi. I-itu Tuan, Nona Pe belum pulang sedari tadi dan Nona Gerhana menunggu Nona Pe di dalam markas."
__ADS_1
"Hah? Pe belum pulang? kemana?" Dibi bertanya dengan dua oktaf. Melihat kepala Miko menggeleng. Dibi pun berjalan cepat menyusul Kurcil yang sudah tidak terlihat bayangan nya.
"Dasar bocah itu ya, hobinya main kabur kaburan terus dari dulu. Minta apa sih kamu, Pe?" Dibi mendumel sendiri dalam langka panjang nya.