
"PELANGI!"
Kepekikan murka Guntur di tengah derasnya hujan mampu membuat Tommy merinding.
Pelangi kini terkepar di atas tanah dengan hujan air bercampur darah membasahi tubuhnya. Punggung sisi kanannya telah tertembak menembus masuk ke dalam daging membuat mata Pelangi seketika terpejam... Gelap!
Dor...
Saat Guntur ingin bangkit dari tanah untuk menyerang, Tommy lekas melayangkan bidikannya kembali, dia tidak mau mengambil resiko. Jangan sampai nyawa dia yang melayang karena Guntur seperti monster siap memakan dirinya hidup hidup saat ini.
Dor...
Guntur membanting tubuhnya ke tanah lagi, untuk mengelak dari timah Tommy. Jarak mereka kini tinggal empat meter.
Sedikit lagi! batin Guntur amat menggebu-gebu ingin mencabik cabik tubuh Tommy. Dia amat marah!
Guntur bangkit lagi seraya melempar balok pendek yang baru ditemukannya.
Braaak...
Hanya tangan kiri Tommy yang terkena balok, tangan kanannya yang bersenjata masih berjaya. Hingga, Tommy kembali menembak Guntur membabi buta.
Dor...Dor... Dor...
__ADS_1
Kali ini, salah satu tembakan mengenai ujung lengan Guntur yang kalah cepat untuk mengelak.
"Kamu akan mati! Hahahaha...dan gadis cantik itu akan menjadi milikku, lalu menyusul mu ke neraka setelah aku puas memakainya." Tommy tertawa remeh.
"JANGAN HARAP, BEDEBAH!!!"
Dor....
Suara tajam juga tembakan itu bukan dari Tommy apalagi Guntur, melainkan Badai.
Ya, Badai? Dia berada di tempat tersebut karena memang sedang menunggu jemputan Miko. Saat dia berteduh di sekitaran telepon umum, samar samar telinga kelincinya mendengar suara tembakan demi tembakan dalam iringan gemercik air hujan. Penasaran, dia pun mengikuti suara bising itu. Dan betapa terkejutnya, saat matanya melihat dari jauh....salah satu korban yang tergelepar adalah Pelangi. Tidak perlu secara dekat untuk mengenali kembarannya, Badai sudah yakin betul hanya sekilas saja sudah mengetahui itu adalah saudari kembarnya.
Sempat Badai terpaku untuk menetralkan rasa sesak di dadanya karena tidak mampu melihat kembarannya tumbang ke tanah yang kotor. Dia dan Topan sama sekali tidak pernah menyakiti kembarannya.... Sementara, Tommy begitu entengnya. Maka rasakan Badai ini dalam mengamuk.
Aaargh...
"Ah, sial! pakai habis segala pelurunya," dengus Tommy yang ingin membalas serangan Badai. Tidak mau mati sia-sia, dia pun berlari terpincang-pincang ke arah jalan tidak tertentu.
Badai sempat terdiam, berpikir keras, Mau menolong Pelangi atau mengejar Tommy yang akan kabur.
"Kejar dia, Topan!" Pekik Guntur yang terseok-seok ingin membantu Pelangi. Dia pun salah prediksi.... Badai dikiranya Topan.
"Aku, Guntur!" sambung Guntur ingin meyakinkan Badai kalau dia akan menjaga Pelangi untuk si Triplets. Dia yakin, Badai tidak mengenalinya lagi.
__ADS_1
"Guntur?" lirih Badai mengulang dan mengingat ingat nama tidak asing itu. Sejurus, mata elangnya pun menghardik Tommy yang hampir hilang dari jangkauannya.
"Hanya kematian yang akan menyapumu, Pria bodoh." Rahang Badai sudah mengeras marah.
Dia pun akhirnya mempercayai Guntur untuk mengurus kakaknya. Langkahnya amat cepat ingin segera menangkap Tommy lalu memotong motong tangan kurang ajar Tommy serta mulut itu yang lancang berbicara tidak baik ke Pelangi.
Apa katanya? Puas memakainya? dan ingin mengirim Pelangi ke neraka? Oh, tidak bisa! sebaliknya lah yang akan ke neraka adalah Tommy. Percuma nama dia Badai kalau dia gagal memutilasi Tommy hari ini juga.
Dor...
Badai sengaja tidak langsung menembak mati mangsanya. Dia ingin membunuh Tommy dengan kedua tangannya sendiri, bukan menggunakan peluru yang menurutnya sangat mudah bagi Tommy terima.
"Aku tidak akan mati sia sia!" takut Tommy yang terkena tembakan lagi di bagian pahanya untuk kedua kalinya.
Bodohnya, Tommy malah berlari memasuki gedung terbengkalai karena sisa kebakaran.
"Jalan mu semakin pendek Pria bodoh."
Badai segera berlari cepat seraya melepaskan jasnya dan membuangnya asal asalan.
"Daddy, kirim bantuanmu!" Tommy meracau sendiri dalam persembunyiannya di balik tembok yang akan di lewati Badai.
Saat ini, Tommy telah membawa balok setengah gosong. Benda itu sebagai senjatanya untuk melumpuhkan Badai yang kian mendekat suara langkahnya.
__ADS_1
"Kamu yang akan mati ditangan ku!" batin Tommy semakin menguatkan otot-otot tangannya yang memegang balok, siap memukul Badai
Dan Bugh...