
Bughh...
Dibi dan Guruh kepergok menaruh bomnya oleh tiga penjaga ABK. Sebab kecerobohan mereka yang tidak tau ada penjaga, mereka dapat serangan dari belakang hingga keduanya tersungkur mencium lantai.
"Dasar bedebah! kalian tidak akan selamat," marah salah satu ABK itu. Secepatnya, ketiga ABK tersebut meringsek menghajar Dibi dan Guruh yang belum sempat bangun dari lantai.
"Guruh, awas!" pekik Dibi seraya cepat mengelak dari injakan keras musuh.
"Aku tau!" Guruh secepatnya pun membalikkan tubuhnya yang tadinya tengkurep menjadi rebahan. Dia tidak mengelak melainkan mengangkat kedua kakinya untuk menyerang pria itu dan bughh... satu ABK terpental ke dinding kapal.
Mereka pun berkelahi, hingga menimbulkan suara berisik. Tidak mau ada ABK lain yang menyergapnya, Dibi memutuskan mengeluarkan senjatanya yang memiliki peredam suara dan dor...dor...dor...
Ketiganya sudah bersimbah darah di lantai itu, tanpa mau berlama-lama berkelahi.
"Ck, dari tadi kek senjata itu digunakannya," tutur Guruh dengan nada malas.
Dibi tidak menyahut, melainkan kembali bertugas.
Di sisi Twins, si kembar itu sudah selesai dari tugasnya tanpa ada kendala apapun yang kebagian tugas dibagian lantai paling bawah.
Lautan dan Petir pun sama, adik kakak ini sudah hampir selesai.
Beda dengan Purnama, dia dalam kesusahan. Anak kedua Gema-Jum ini terjebak dua gerombolan ABK yang berjalan dari kedua sisi dek kapal.
"Mati gue! di bawah sana laut dan kiri kanan gue ada Dugong Dugong jelek. Pikir Ama, pikir!" Ama kecacingan sendiri yang berada dibelokan tepat dibagian ekor kapal. Mau masuk kedalam kapal, tidak bisa. Kagak ada pintu dibelakangnya, sementara ke-dua sisi nya sudah semakin dekat derap langkah itu.
"Oke, rileks dan acting." Ama menarik nafas dalam-dalam dan...
Hiks....hiks....hiks...
Sekonyong-konyong nya, Ama menangis sesenggukan dengan mata memerah yang sengaja dicolok sendiri agar sempurna dalam akting nangisnya.
Kaget, dua gerombolan ABK bertemu dititik Ama yang sedang menangis.
"Ada penyusup!"
Ama diteriaki oleh mereka. Tetapi gadis itu setia sesunggukan, duduk dipojokan dengan lutut dia peluk seraya menyembunyikan wajahnya yang terisak isak lebay. Ama terlihat seperti anak tiri yang habis kena pukul Amma tirinya, itulah gambarannya.
Lantas, dua gerombolan orang berotot semua itu yang berjumlah sembilan orang, meringsek ke posisi Ama dengan kuda kuda siaga mereka.
"Hey, Perempuan! siapa kamu, hah?" bentak dari satu orang. Tidak ada jawaban, ia sedikit berjongkok di depan duduk Ama.
Akting Ama, jangan sampai mati sia sia! Ama segera menampilkan wajahnya yang terlihat teraniaya, buliran air mata palsunya terlihat betulan di pipinya.
Cantik...!
__ADS_1
Satu seruan kompak dari ABK-ABK kurang belaian itu, saat wajah Ama terlihat.
"Hiks, hiks, hiks, Sa---saya tersesak," dusta Ama kepada semuanya dengan suara tersendat sendat.
"Tersesat? kok bisa?"
Ck, Dasar lakik... tadi ngebentak. Giliran ngelihat wajah cewek cantik, lembutnya kayak jelly tuh suara.
"Saya...saya salah naik kapal sepertinya," seru Ama dengan mata sedihnya menatap lekat lekat satu pria yang berjongkok dihadapannya.
Lantas, pria itu melirik ke teman temannya dengan alis terangkat satu penuh arti.
Semua rekannya mengangguk penuh arti juga.
Dapat duyung cantik aduhai, tanpa dipancing ini mah, rejeki bagi kami. Batin nakal pria itu. Dia pun membujuk Ama agar tidak menangis lagi.
"Sudah, tidak usah sedih ya. Mending ikut kami berlayar, anggap saja sedang berlibur gratis dari kami. Dan soal uang, kami akan memberikannya untuk mu, Cantik."
Ck, gratis? mana ada! gue tau otak busuk kalian.
"Ayo ikut kami, kita happy happy di bar. Mau 'kan?" ajak satu pria lainnya.
"Mau! mau pakai banget." Ama menyahut manja, dalam hatinya menyeringai penuh arti mendengar kata bar. Itu tandanya ruangan tertutup.
Sampai di dalam bar kapal. Bukan hanya sembilan pria di dalam nya, melainkan banyak.
Mamiiii, anakmu dalam bahaya.
Ama kicep deh jadinya, ah. Apalagi mata laki laki semua menatapnya seperti ikan segar yang siap diperebutkan oleh burung belibis.
"Wow, kalian dapat cewek dari mana? buat saya!"
Satu pria yang sudah mabok, menarik tangan Ama hingga terduduk dipangkuan pria lainnya.
Aaargh, Ama terpekik dalam hati seraya berdiri lincah dari pria bule lainnya. Tenang dan nikmati permainan seru ini. Ama mencoba rileks, lalu tersenyum manis ke semuanya.
"Hai semuanya," sapa Ama dengan melambaikan tangannya ke orang orang yang sekitaran dua puluh orang.
"Sini cantik, duduk di sini!" pria dipojok sana menepuk pahanya untuk Ama.
Ciih, Awas kalian! Tunggu aksi ku.
Pria-pria itu saling beradu mulut untuk siapa duluan yang memiliki gadis cantik tersebut.
Ama sendiri mencoba menekan rasa tegangnya dengan cara menghela nafas berkali-kali.
__ADS_1
Tidak, gue kagak boleh takut. Sekali melangkah salah, mati gue diwik wik bergilir. Iyuuuhh...
"Santai, Sayang! saya adalah milik kalian, tetapi yang adil ya? Oke!" Seru Ama yang dibuat auranya setenang mungkin. Padahal jujur, Ama ingin sekali mengeluarkan bom nya untuk semua pria kurang belaian itu.
Okeee... Serempak mereka menyahut nakal, ada pula yang bersiul-siul seraya mengedipkan matanya ke Ama.
Ya, bersenang senanglah sebisa mungkin. Beberapa menit lagi, kalian akan mati.
"Baiklah! saya suka pengertian kalian," Ama tersenyum palsu seraya berjalan mempesona ke arah panggung kecil yang terdapat alat DJ di sana.
Pergerakan Ama tidak pernah luput dari mata nakal dari semuanya. Ada pula satu pria mabuk yang maju ingin menyosor Ama, tetapi Ama segera menepisnya dengan penolakan halus.
"Sabar, Sayang. Aku akan bermain musik untuk kalian dengan goyangan seksiku. Bagaimana? Tetapi kalau kalian tidak mau sabar, terpaksa aku...." Ama kehilangan kata kata. " Aku nangis lagi seperti tadi," sambungnya ngasal.
"Yakh, jangan!" Seru pria pertama yang mengajak Ama masuk ke ruangan neraka itu.
"Kamu, sini duduk." Pria itu pun menarik rekannya yang tidak sabaran ingin mencicipi Ama.
"Silahkan berjoget buat kami, tetapi yang menggoda ya, Cantik. Bila perlu goyangan striptis kamu suguhkan," pinta yang ada di ujung sana. Dan dapat persetujuan kompak dari semuanya.
Damn! goyangan telanjan*? Yang ada goyangan kematian.
"Goyangan apa pun untuk kalian akan saya suguhkan."
Ama menjawab santai. Lalu, menaiki umbakan tangga panggung. Sejenak, dia melirik sana sini stopkontak bar untuk mencari pengaktifan lampu LED agar suasananya gelap berdisko. Cahaya remang-remang tersebut juga salah satu objek ruangan yang bisa membantu nya membunuh musuh dengan cara indahnya.
" Aku di bar room, terjebak oleh mereka. Bagaimana dengan bom kalian?" Ama berbisik bisik di depan stopkontak yang membelakangi semua ABK, seraya menekan earphonenya untuk melapor ke rekannya.
DAMN IT!!!
Terdengar, Guruh dan lainnya mengumpat kasar. Tapi Ama tahu, umpatan itu bukan untuk nya melainkan ke ABK yang bertubuh gaban semuanya.
" Bom beres!" seru teamnya. Ama menyeringai lebar mendengar nya, lalu berbalik ke depan dengan senyuman sedia menggoda.
" Kakak ke sana!" Guruh terdengar cemas.
" Kami pun ke sana." Twins berucap kompak. Dibi serta Lautan-Petir sudah beranjak mencari keberadaan ruangan bar tersebut tanpa mengeluarkan ucapannya lagi. Topan dan Badai sedia kala dengan kemudinya kapalnya.
" Ready Music! just for you, baby."
Jedag jedug ria suasana pun tercipta dari kelakuan Ama yang merangkap sebagai DJ dadakan.
Semua ABK langsung terhipnotis oleh goyangan seksi Ama yang dipadukan music ber-genre breakbeat. Funk, Jazz dan R&B di mix oleh Ama menjadi satu dalam genre breakbeat-nya. Sangat sempurna suara musik nya. Sempurna mengelabui musuh maksudnya, yang saat ini tangan kanannya berusaha menempelkan bom di bawah meja DJ.
"Huuuu, asyikkk!" Pekik Ama menggema dengan goyangan pinggul serta tangan di atas kepalanya dia putar putar seperti orang kepusingan. Sesekali tangannya memutar alat Dj-nya itu.
__ADS_1