Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Bon-chap


__ADS_3

Detik, menit, jam, hari bahkan minggu pun, sudah berlalu, semenjak dari hari pertempuran itu usai.


Di setiap waktu, Topan terus mencari Gerhana di California. Tetapi tak kunjung ketemu, karena telah dibawa pergi oleh Xian tepat pengevakuasi hari tersebut. Akhirnya, hari ini memutuskan untuk meninggalkan Negara tersebut, menuju ke Negara pribuminya....Indonesia.


Xian bak setan pergi tanpa sepengetuan dari pengawasan Dibi dikala itu. Tadinya, Topan sempat menyalahkan Dibi beberapa saat, karena tidak becus menurut-nya. Namun tersadar akan sebuah makna untaian….jika jodoh, pasti akan dipertemukan kembali. Semoga saja! Topan mengharapkan hal itu, sangat! sangat! Dan sangat!


"Efek cinta itu lebih seram dampaknya, ya? Bilamana tidak saling memiliki, maka berujung…."


"Sakit tak bernanah nanah, eh darah ding." Lautan segera menyerka ucapan Ama.


Saat ini, para Kurcil berada di dalam pesawat untuk menempuh kembali ke Indonesia. Hanya Kurcil yang membuat gaduh pesawat pribadi milik Vay, tidak ada penumpang lain termasuk Dibi yang sudah pergi terlebih dahulu beberapa hari yang lalu.


Kecuali, Charel dan Bimo sebagai tangan kanan Topan dan Badai.


"Memang sakit, guys. Sangat mengiris hati," imbuh Petir seraya menatap lekat Vay penuh arti.


Saat ini kakak Pelangi itu, sedang duduk galau seorang diri di kabin paling belakang sana. Tidak ada yang berniat menggangu Topan, yang hanya duduk membisu seraya tatapan kosongnya tertuju keluar kaca jendela pesawat.


"Kenapa sakit terlalu sakit? karena area otak kita yang mencerna penolakan, ternyata merupakan area otak yang sama ketika mencerna rasa 'sakit' fisik," sambung Petir. Dia sebenarnya tidak hanya membahas mengenai Topan yang galau, melainkan juga mengenai perasaannya yang selalu diabaikan oleh Vay.


"Kenapa mata jelek kalian tertuju ke gue semua, hah? nggak jelas!" cetus Vay yang dapat tatapan aneh dari para rekannya.


Sembilan orang itu memang sedang ngerumpi di kabin yang berdekatan.


"Pura pura bodoh, Vay? atau memang tidak peka tentang perasaan Petir ke Lo?" tanya Bhumi. Petir sangat siap mendengar jawaban Vay yang didesak oleh teamnya.


"Hm, pembahasan berbelok ke gue, jadinya! Tapi tidak masalah..." Vay menjeda ucapannya, lalu menegakkan duduknya seraya iris ambernya membalas tatapan lekat Petir. "Asal kalian tau aja, kalau si kunyuk ini..." Vay menjentikkan jarinya ke depan mata Petir, tanda dia tidak suka melihat tatapan yang entah apa artinya? Sang empu mata itu berkedip kedip seketika.


Semuanya hanya diam menunggu untaian Vay yang sengaja dijeda melulu oleh si Neng bule itu.


"Petir itu hanya iseng menggoda gue. Lo pada 'kan tau betapa jahilnya dia ke gue sejak kita masih kecil sampai sekarang pun. Jadi, gue kagak mau tuh termakan oleh keisengan Petir. Sorry, gue bukan orang lugu yang main percaya aja. Lagian, kalau betul Petir memang menyukai gue? Cole mau dikemanain? masa iya gue kantongi?!"


"Tapi gue betul__"


"Dah, ah... gelap! gue mau tidur. Jangan ada yang berisik!" Vay menyerka ucapan Petir yang ingin mengungkapkan isi hatinya yang bersungguh sungguh. "Dan husss...sana semua ke tempat masing-masing," lanjut Vay mengusir semua kepala orang orang yang menatapnya berbagai jenis mimik. Si Neng Bule bomat akan hal itu, dia segera menurunkan kaca mata hitamnya, kemudian terpejam santai.


" Apakah ini saatnya, aku harus menyerah?" Batin Petir yang kadang-kadang merasa capek juga dengan perasaan cinta bertepuk sebelah tangan. Sakit coeg, sungguh!


...*****...


Tap...


Tap...


Tap...


Triplets dan Twins berjalan saling beradu langkah panjang, menelusuri rumah orang tuanya. Mereka baru sampai di Indonesia.


"Kok, sepi?" tanya Pelangi. Kelima anak Biru-Mentari ini sudah berada di ruang keluarga dengan suasana pencahayaan minim. Hanya satu lampu yang menyala, padahal ini baru jam delapan malam. Tidak mungkin kedua orang tuanya sudah tidur?

__ADS_1


"Biar adik manis ini yang menyalakan lampunya." Angkasa menawarkan diri, namun terkesan narsis.


Sementara, Topan dan Badai dari perjalanan pulang jarang sekali mengeluarkan suaranya. Dan itu aneh bagi Pe dan Twins.


Oke, Pelangi dan Twins sudah tidak aneh akan kebisuan Topan yang sudah terbiasa bertingkah dingin. Tetapi bedah dengan Badai, aneh saja rasanya bagi Pe kalau si tengil itu tidak cerewet. Dan perubahan sikap Badai itu setelah penembakan Erlan. Tatapan Badai pun kadang kala terlihat kosong, sering melamun dan banyak tingkah aneh lain lagi, itu menurut Pe dan Twins. Apa yang terjadi kepada Badai? Entahlah...


Tak...


Angkasa belum sempat berjalan ke arah kontak lampu, eh sudah nyala sendiri bohlam itu. Dan terlihatlah Biru yang berdiri datar di anak tangga lantai dua paling atas.


Si kembar kompak menelan ludahnya masing masing, seraya curi curi pandang ke Biru yang menuruni anak tangga. Kelimanya berdiri bak sedang upacara yang teratur lurus dalam satu barisan, dengan Pe berdiri paling tengah.


Ayah dalam mode garang. Kompak mereka dalam hati, mengetahui itu karena Ayah mereka yang bernama Sagara Biru Sunjaya, tidak ada basa basi raut senang akan kepulangan mereka. Sapa senyum kek? kagak ada.


"Ayah__"


"Stop di situ dan kembali merapatkan barisan!"


Pelangi yang ingin mencairkan suasana dengan kemanjaan, terhenti melangkah akan penolakan Sang Ayah dengan telapak tangan di udarakan.


"Ayah pikir, kalian sudah tidak ingat pulang!" Biru mengitari barisan si kembar yang sedang menunduk kicep. Topan saja tidak pernah berani melawan orang tuanya.


"Apa yang kalian dapatkan di sana? Emas? Berlian? atau hal mewah lainnya?" Biru bertanya dingin ke Topan. Si sulung sedikit mengangkat wajahnya, namun kembali tertunduk dikala Biru melototinya, seram.


"Yah, Bunda mana? saya__"


Glek...lagi lagi kemodusan kemanjaan Pelangi di jeda oleh Biru.


"Bagaimana chipnya, sudah aman?"


"Sudah, Ayah." Bhumi yang menyahut yang berdiri paling pojok sana. Padahal sang Ayah bertanya tegas ke Topan.


"Diam kamu, Bhumi! kamu belum saatnya ditanya sama Ayah."


Bhumi segera mengangguk patuh. Lalu, kembali tertunduk.


"Topan...?" Biru kembali ke sang empu nama untuk diintrogasi tegas.


"Sudah, Ayah."


"Yang lantang!" bentak Biru. Dia emosi karena gara gara chip itu, senyuman manis istrinya kian hari kian redup karena mencemaskan kelima anak badungnya.


"Sudah, dan ini barangnya! Saya sudah pernah berjanji akan mematahkannya di depan mata Ayah. Jadi, janji saya...." Topan mematahkan benda kecil itu seketika. "Maafkan sekali lagi kelalaian saya. Saya menyesal sudah pernah curang dengan diam diam mempertahankan chip ini. Padahal, Ayah dan semua orang tua Kurcil lainnya, sudah pernah melerai kami dan bahkan mengahancurkan lab kami__saya sudah menyesali itu. Maaf!"


Dalam hati, Biru tersenyum bangga pada anak sulungnya yang sudah menepati janjinya. Plus berani mempertanggung jawabkan kelalaiannya. Inilah yang diinginkan Biru dalam didikan khusus ketegasannya. Tidak menjadi orang pecundang, meski maut ada di depan sana, maka Biru tetap akan mendorong anak-anaknya demi makna pertanggungjawaban segala bentuk apapun yang mereka buat sendiri.


Gue aman nggak, ya? Badai mengingat kesalahan satu malamnya terhadap Embun. Macam mana nasibnya bila mana sang Ayah taju, tentang tingkah bejatnya yang tidak mempertanggung jawabkan itu? Amanlah, kan perempuan itu jauh di California. Sedang Ayah ada di sini, batin Badai lagi. Menenangkan dirinya sendiri.


"Tapi hukuman Ayah tetap akan terpatri. Demi mempersingkat waktu, julurkan ke-dua telapak tangan kalian masing-masing."

__ADS_1


Setelah meminta tegas, Biru berjalan ke arah sisi ruangan yang bermaksud mengambil sebuah kayu kecil, panjang setengah meter.


Si kembar ingat betul kayu tersebut. Kayu yang selalu membuat tangan mereka memerah, bilamana berbuat kenakalan dan berakhir mendapat hukuman.


Bunda...


Si kembar bergumam, hanya Bunda merekalah yang bisa menolongnya dari hukuman sang Ayah yang tidak pernah main-main.


Bingung si kembar, kemana Mentari? sang Bunda mereka marah juga kah? sampai sampai tidak mau menampakkan wajah?


"Pe, julurkan tangan mu juga seperti ke empat saudara mu." Biru sudah siap memukul anak anak badung nya.


"Ck, Ayah..." manja Pelangi protes dengan bibir itu mencibik seraya menurut paksa.


Dan sepuluh telapak tangan, sudah terpasang sempurna untuk diberi rasa sedap sedap nyeri.


Biru akan mulai dari Topan. Si sulung siap akan hal itu. Tetapi tidak siap kalau Pe ikut dipukul.


"Hukuman, Pe. Biar jatuh di tangan saya, Ayah." pinta Topan.


"Tidak bisa! Pe punya tangan sendiri!" Tolak Biru tegas seraya melirik Pelangi yang kian manyun tuh bibir.


"Bersiaplah berhitung, satu telapak tangan sepuluh pukulan. Itu tandanya dua puluh pukulan per-orangnya."


Alamak... Biasanya cuma sepuluh pacutan per-orang. Oke, tak apa...toh, tangan si kembar sudah kebal kok. Lima kepala itu memejamkan matanya seperti biasa di saat dulu dulu. Ayah mereka ingin bermain drum di telapak mereka... Laksanakanlah.


Tetapi...Kenapa? sedikit menunggu, tak ada rasa apapun dari kayu itu?


Aduh aduh... Kenapa malah suara Ayah merekalah yang terdengar aduh aduh? Penasaran, si kembar membuka matanya.


Ternyata ada sang Bunda yang sudah lengkap dengan baju tidur nya. Asyik...jewer terus, Bunda. Senang si kembar dalam hati yang saat ini Mentari menarik kesal telinga Biru.


"Oh, jadi kedatangan anak anakku, kamu sembunyikan ya. Hulk? Dengan cara menyuruh saya tidur lebih awal. Ternyata kamu mau memukul mereka lagi? oh, tidak bisa...enak saja!"


"Aduh, aduh, Pe! Bantu Ayah, Sayang." Biru tidak pernah bisa berkutik kalau lawannya Sang istri tercinta. Sebelumnya garang, eh..giliran pawangnya ada di sekitar, Hm..menciut.


"Hahahaha, rasakan, Yah! Sorry ya, Pe tidak lihat apa apa." Pe tertawa girang. Si kembar lainnya ikut tersenyum.


Namun Topanlah yang mengambil sikap duluan dengan cara menarik lembut tangan Mentari sembari berkata penuh kerinduan, "Bunda..."


Mentari berbalik, melupakan kekesalannya ke Biru. Binar mata wanita itu kian berkaca kaca haru, seraya tersenyum menatap Topan dan anak lainnya, bergantian.


"Bunda marah ke kalian, tetapi rasa rindu ku meluluhlantakannya. Bunda bersyukur karena kalian pulang masih lengkap... Triplets dan Twins ku, kemarilah!" pinta Mentari. Sejurus, tubuh mungilnya sudah sesak karena pelukan lima orang sekaligus.


Biru dibelakang sana, mendengus kesal karena tidak di anggap ada.


"Ingat! Yang kalian peluk isteri orang, petite ku. Paham?!" kata Biru dengan suara bulatnya. Dari dulu, Biru memang sering cemburu ke anak sendiri. Aneh membangongkan memang, tapi kenyataannya seperti itu. Dan mungkinkah itu yang namanya cemburu buta? jelas buta karena tidak punya mata itu si nama cemburu.


Lantas, pelukan itu terlepas. Sedetik... "AYAH!" Mereka berseru kesal.

__ADS_1


__ADS_2