
Di hari yang sama. Guntur yang baru pulang ke markas, sedikit dibuat terkejut karena melihat bodyguard Matin yang berada di ruangan yang sama dipijaknya.
"Apakah si tua bangka itu disini?" tanyanya ke anak buahnya sendiri.
"Apakah maksud bos adalah Tuan Matin?" tanya anak buah itu. Guntur hanya mengangguk.
"Ada bos, beliau berada di dalam kamar Nona Belen, sedari tadi tidak kunjung keluar."
Guntur yang tadinya malas mendengar nama itu, sedikit terkesiap. Sedang apa Matin di dalam? itulah pertanyaan dalam benaknya.
"Berapa lama?"
"Sekitar tiga jam-an."
Guntur tidak berucap kembali. Penasaran, kaki itu pun melangkah ke arah kamar Belen.
Ceklek...
"Hais," lirihnya seraya melotot.
Bukan main, Guntur dibuat terkejut setengah mati yang berdiri di ambang pintu. Pemandangan menjijikkan telah mencemari matanya.
Saat ini, Belen telah digempur oleh Matin selaku Daddy-nya sendiri, dengan posisi Belen berada di atas Matin seraya bergerak lincah. Oh, Gila! Manusia apa mereka? Guntur sampai meringis sendiri.
Saat ingin beranjak dan tidak niat ikut campur, Matin justru menyadari keberadaannya dan berseru menghentikan langkahnya.
"Laric! a-apa ahhh kamu tidak mau menyapaku? ponakan apa kamu ini?" Ahhhkh...
Matin dan Belen tidak bergeming dari aksinya. Matin terus saja melenguh nikmat walaupun ada Guntur yang menatapnya jijik.
"Apa kamu mau ikutan, Laric. Kemarilah! kita bisa bermain bertiga Akhkkk..Yes...Oh, Dad! I-ini olahraga yang paling ampuh mem__ ahhhkh membakar lemak." Belen menimpali dengan sesekali merintih keenakan karena Matin amat ganas menyesaaap ujung balon ku ada dua. kokek-kikuk.
__ADS_1
"Gila! Menjijikkan! Aku bukan binatang yang suka tulang bekas jilatan anji**," sarkas Guntur.
Kedua binatang yang di maksud Guntur tidak mengindahkan ucapan kasar itu. Mereka masih saja ber-ah-uh-ah rintih tidak tahu malu di mata Guntur.
"Aku akan menyapamu, Matin, bilamana namamu sudah di pusara. Dan kamu Belen, aku tidak menyangka kamu amat murahan, Daddy sendiri kok nafs*. Sekalian saja pohon kamu puasin sana," sambung Guntur geram. Entah mimpi apa dirinya semalam hingga dapat pemandangan menjijikkan seperti saat ini? Bukannya, dia bermimpi bertemu wanita pelukis cantik beracun itu? Tapi...oh, astaga!
Dan, Braak...
Guntur main pergi tanpa mau tau jawaban Matin dan Belen akan hinaannya. Dia lebih baik pergi lagi setelah menendang pintu amat kuat. Bodyguard setia Matin sampai bersiaga mengeluarkan senjatanya, berpikir Guntur akan mengamuk ke Matin.
Aakhhhh.... Di dalam kamar, Matin segera menyelesaikan permainan hotnya setelah erangan nikmat panjang itu terdengar. Dia ingin berbicara ke Guntur mengenai chip itu.
"Dad!" Manja Belen menjegat tangan Matin yang ingin bersiap siap mengenakan pakaian.
"Apa?"
"Aku mencintai, Laric. Apakah Daddy tidak masalah? maksudku__"
"Tentu saja, Cantik. Aku memelihara mu dari kecil memang berniat menjodohkanmu dengannya. Kamu pasti tahu kalau Laric adalah tambang emas bagiku, seluruh kekayaan kakakku ternyata atas nama dia. Kalau bisa, rantailah dia menggunakan sisi kewanitaan mu." Matin menunjuk inti Belen yang baru saja memuaskannya dalam waktu tiga jam berlalu.
"Terimakasih, Dad! kalau Daddy membutuhkan kehangatan lagi, maka jangan sungkan." Belen menawarkan diri.
Hmmmpp... Tua bangka itu mendekat, dan langsung membungkam mulut anak angkatnya dan melahap mulut manis pintar merayu cumbu untuk memuaskan dirinya.
Namun, mengingat akan misinya. Matin pun menahan melepaskan pagutannya. "Nanti Daddy akan membantu mu untuk mendapatkan Laric, tapi kamu harus sedia kala memuaskan Daddy kapan pun itu."
Belen mengangkut mantap. "Tentu, Sayang!" katanya penuh manja. Matin pun berlalu pergi.
"Laric!" Panggil Matin saat dirinya di luar kamar. Beberapa bodyguardnya sudah siap mengawal barang sedetik pun.
Guntur menoleh dengan malas. Jaket kulitnya sudah membalut di tubuhnya, siap pergi.
__ADS_1
"Apa!" cetusnya.
"Chip itu, bagaimana perkembangannya?" to the point Matin.
"Gelap! tidak ada petunjuk." sahut Guntur dapat dengusan kasar dari Matin.
"Payah!" umpat Matin. Guntur reflek mencekik leher Matin dan menyudutkan ke tembok. Sang Bodyguard pun sigap mencondongkan senjatanya di bagian kepala Guntur. Tapi anehnya, Guntur tidak merasa takut.
"Lepaskan, bos kami!" ujar salah satu bodyguard itu yang berjumlah enam orang. Matin sudah mangap mangap dibuat kegeraman Guntur.
"Tembak saja kepalaku, tapi imbasnya nyawa bos kalian," santai Guntur. Matin akhirnya mengangkat tangannya ke arah anak buahnya, agar jangan menembak, dia paham betul kalau Guntur tidak pernah main main dengan ucapannya, ciplakan kakaknya persis.
"Ingat Mo_Mommy mu, a_ada di_di tanganku." uhuk uhuk uhuk.
Hah! Itulah kelemahan Guntur, Mommy-nya yang disekap oleh si tua bangka ini. Dia pun melepaskan tangannya di leher Matin.
"Andai Mommy-ku tidak berada di rantaimu, maka leher itu akan putus, berhati-hatilah." Kejam Guntur mengancam. Wajah Matin kian memucat, kalau bukan karena hal sesuatu, dia ogah juga membuat nyawa Guntur masih ada sampai saat ini.
"Kalau kamu ingin cepat Mommy-mu bebas, maka segera rebut chip itu dari tangan orang yang memilikinya. Aku punya info kalau pemilik Chip itu berasal dari Indonesia dan saat ini mereka ada di Negara ini___"
"Aku sudah tahu tentang itu!" potong Guntur.
"Kurcil Smart nama organisasi mereka, tiga perempuan dan tujuh laki-laki! Kata pencari info ku, mereka bukan orang orang yang biasa melainkan anak-anak pengusaha dalam bidangnya masing-masing. Tapi secara rincinya mereka kesusahan lebih dalam lagi untuk menggali informasi tentang mereka. Yang jelas, ini adalah foto mereka di saat masih kecil.
"Mereka?" Kaki Guntur seketika melemas, saat menerima satu lembar foto sepuluh remaja di dalamnya, yang amat masih dikenang wajah dari salah satu tiga gadis remaja.
Pelangi? Vay? dan mereka? Oh, Tuhan! cobaan apa ini? musuh yang akan aku lawan adalah teman masa lalu ku? shiiiit!
Rasanya, Guntur ingin menguburkan dirinya ke liang lahat saja saat ini juga. Dia dilema... akan mundur atau maju demi keselamatan Mommy-nya yang entah di mana keberadaannya yang ditahan oleh si Matin busuk penuh tipu muslihat iblis, perangainya.
"Laric, apa kamu mengenal mereka? secara kamu pernah bersembunyi di Indonesia waktu itu?"
__ADS_1
"Tidak! dan aku mau pergi mencari orang orang yang ada di dalam foto ini." Guntur berbohong dan beranjak pergi.
Topan, Pelangi dan lainnya! entah salah atau benar? aku hanya ingin Mommy-ku selamat tanpa ada goresan.