Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Penyiksaan Pelangi


__ADS_3

Byuuuur...


"Bangun!"


"Shiitt...!"


Di dalam markas Jerry, tepatnya di ruang penjara bawah tanah. Belen bertingkah kurang ajar kepada Pelangi.


Belen membangunkan Pelangi dari bius gas itu, dengan cara menyiram Pe menggunakan air satu ember yang sudah diberi es batu.


Jelas, Pelangi langsung tersadar dan seketika pun memaki kasar orang yang sudah bertingkah kepadanya.


"Sialan__" Kemurkaan Pe terhenti yang ingin menghajar Belen. Kaki serta kedua tangannya telah dibelenggu menggunakan rantai. Hingga, posisi tangan kiri-kanan itu tergantung menyamping ke atas.


Guntur, Embun serta Erlan berada di masing-masing penjara yang berbeda, dengan suntikan bius sudah ditambahkan agar tidak sadar sadar.


"Kasihan," ledek Belen tersenyum miring ke Pe yang tidak berdaya dalam bergerak bebas.


"Pengecut!" Desis Pe dengan mata selalu berbinar tanpa takut.


"Kamu__"


"Ssst, sabar dong sayang." Jerry yang ada di dalam ruangan itu, mencegah bahu Belen yang ingin menghajar Pe. "Beri kesempatan untuk ku!" lanjutnya. Sejurus sudah berada di hadapan Pe.


Matin pun ada, duduk santai di pojok ruangan dengan kaki itu menumpu pada satu kakinya yang lain seraya menikmati hisapan rokoknya. Dia akan menjadi penonton setia nan seru kali ini, tanpa ingin mengotori tangan nya. Sebenernya, dia sudah tidak sabar ingin membunuh Guntur berikut orang tuanya, tetapi dia belum mendapatkan tanda tangan hak kuasa dari Guntur.


"Rekam mereka!" titah Matin ke anak buahnya. Sang anak buah menyahut patuh, karena hasil video penyiksaan Pe akan mereka kirim ke Kurcil sebagai ketekanan untuk bernegosiasi.


"Hm, cantik!" puji Jerry seraya menatap lekat lekat tubuh berlekuk-lekuk indah Pe, hingga berkali-kali, naik turun terus menerus.


"Pantas anak ku tergila gila ingin menyipimu." tangan kurang ajar Jerry ingin meraba wajah Pe.


Tetapi...


Cuihh...

__ADS_1


"Jangan sentuh aku!" bentak Pe setelah meludahi wajah Jerry.


Tentu, aksi Pe tersebut membuat Jerry semakin marah. Setelah Jerry mengusap air liur itu mengunakan bajunya, dia menatap marah ke Pe. Sedetik.... Plaak. Suara tamparan terdengar keras di ruangan tertutup itu dari pipi kanan Pelangi. Kepala Pe sampai menoleh keras ke kiri saking kuatnya tamparan Jerry.


"Itu hukumanmu, dan segera akan mendapat hukuman yang lebih sadis dari ini," jelas Jerry seraya mencengkeram kuat rahang Pe yang berdenyut. Namun Pe memberontakan kepalanya hingga terlepas.


Cuihh...


"Aku tidak takut!" Pe kembali meludahi wajah tua itu. Toh pikirnya, ngapain takut... tidak berulah atau pun berulah, tetap saja akan mendapat hadiah dari musuhnya.


"Hah, sialan! Dasar wanita kurang ajar!" kesal Jerry kembali ingin menampar Pe, tetapi kali ini Belen lah yang menghentikannya. Namun, bukan karena kasihan ke Pe melainkan dia sudah membawa cambuk untuk menyiksa gadis yang sedang terbelenggu itu.


"Giliran ku!"'Seru Belen. Jerry pun mundur dengan senyum jahatnya.


"Rasakan hukuman mu." kata Jerry sejenak melirik sinis ke Pe. Namun anehnya di pikiran Jerry, air muka Pe tidak memancarkan ketakutan atau raut untuk mengemis di ampuni.


Salut dengan keberaniannya. Jerry mengakui dalam hati nya.


"Tau ini apa, Kurcil?" tanya Belen memamerkan cambuk panjang itu.


"Wanita BEDEBAH, mulut mu perlu dirobek."


Ctaaak....


Ctaaak...


"Rasakan!"


Cetaakk...


Pe di cambuk. Pacuan demi pacuan Belen mengenai kulitnya amatlah terasa perih nan sakit. Tetapi dengan kekerasan hatinya yang tidak mau terlihat lemah di depan masuh, Pe sekuat mungkin menggigit bibir nya agar tidak melolong keras. Sudut mata Pe sudah memanas, reflek ingin keluar sendiri ari mata sialan itu.


"Menjerit lah! minta ampun lah!" pinta Belen seraya terus mengayunkan cambuknya ke punggung serta betis dan bagian tubuh depan Pe. Dia tidak ada rasa belas kasihan nya barang secuil pun.


"Kamu memang pengecut!" teriak Pe tidak sudi mengemis di hadapan rubah seperti mereka. Yakin, setelah dia mengemis...maka percuma, Belen pasti terus menerus menghajarnya.

__ADS_1


"Terserah, kamu mau bilang aku pengecut atau apapun itu! Intinya, kamu pasti akan mati." Belen tidak peduli harga dirinya dicubit.


Ctaaak...


Cambukan kembali menyentuh punggung Pe, tepat mengenai bekas luka tembak yang belum pulih seutuhnya. Merembes, itulah yang dirasakan oleh Pe... berdarah lagi. Dan cambukan itu, berhasil membuat Pelangi melolong keras.


"Aaaarghhhh!" pekik Pe menggema seraya memberontak brutal yang ingin lepas dari rantai. Pe ingin sekali mencabik cabik inci demi inci bagian tubuh Belen.


"Hahaha! aku suka suara mu, sangat merdu." Belen tertawa jahat. Dia sangat menikmati aksinya. Lihatlah.... Kepala Pe sudah tertunduk lemah, bahkan ingin terkulai ke lantai pun tidak bisa karena ikatan tangan yang menggantung, menahannya.


"Hais, cuma segitu kah pertahanan mu?" Belen penasaran, apakah Pe sudah pingsan atau belum? Dengan itu, dia membuang cambuknya ke lantai, lalu mendekati Pe. Tepat saat Belen ingin mengangkat dagu Pe agar mendongak, tetiba... Bughh.


Sekeras-kerasnya, Pe mengadu kepalanya ke wajah Belen, tepat mengenai pangkal hidung itu. Hingga, darah bercucuran keluar dari lubang indera penciuman Belen.


"Aww, wanita sialan! Mati kamu!"


Belen yang tidak terima dilukai, menjadi naik pitam. Dia mengambil cambuk itu kembali dan segera mencambuk Pe ke segala tubuh itu, kecuali ke wajah Pe.


Ctaaak...ctaaak....ctaaak.


Bahkan, Pe yang sudah pingsan pun, tetap saja Belen mengayunkan cambuknya.


"Berhenti, Belen!" cegah Matin sudah menahan ujung cambuk itu. "Dia bisa mati. Ingat! wanita ini adalah kunci kita untuk mendapatkan chip Kurcil," terang Matin. Jerry tidak ikut ikutan melerai, justru dia sangat menikmati pertunjukan yang sangat seru bagi nya.


"Hah! Nyawa mu bisa selamat hari ini, tetapi setelah rencana kami selesai, maka kematian untuk mu," sarkas Belen yang masih dicegah oleh Matin. Pe, jelas tidak mendengar itu karena sudah memejamkan matanya.


"Awas," Belen menepis kasar tangan Matin dan berlalu pergi.


Matin dan Jerry membiarkan itu. Bahkan tidak peduli lagi kepada Belen.


"Bagaimana videonya? tertangkap sempurna 'kan?" tanya Matin ke anak buahnya yang sedari tadi merekam segala tindak kekerasan yang diterima Pe.


"Sempurna bos," sahut anak buah itu.


"Oke, pastikan video itu ditonton oleh Kurcil." Jerry mentitah seraya tersenyum licik. Dan anak buah itu menyahut " Sebentar lagi, semua kekuasaan berada dibawah kendali ku, setelah menciptakan senjata terhebat ku dari bantuan Chip canggih tersebut, batin Jerry penuh ambisius.

__ADS_1


__ADS_2