Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Terkejut


__ADS_3

"BERHENTI SENTUH DIA!!!"


Badai langsung memekik kasar, dengan tangan sudah menodongkan senjata ke kepala Embun. Posisi mereka hanya tersekat bed yang digunakan Gerhana berbaring.


Embun? Jelas, dia terkesiap hebat. Bahkan saking terkejutnya, Embun sampai tertegun dengan mata bulatnya tidak berkedip beberapa saat.


Bagaimana bisa? Pria itu ada di tempat ini? Apakah Pria itu adalah salah satu dari Kurcil? tanyanya dalam hati. Dia terkesiap bukan karena takut akan senjata itu, melainkan lebih penasaran ke Pria yang melotot marah kepadanya.


Embun ingat betul, kalau pria itu adalah pria sama yang sudah menghabiskan satu malam panas bersamanya.


Sementara Badai, dia belum melihat wajah yang ada di balik masker itu. Badai pikir, Dokter wanita ini adalah salah satu anak buah Matin Cs.


"Mati, kamu!" Badai sudah siap melepas peluru pistolnya, tanpa ampun dan tanpa mau berlama-lama. Namun, terpaku dengan ekspresi kaget seperti Embun sebelumnya. Dikala, melihat wajah anggun nan teduh itu, karena wanita dihadapannya dengan cepat menurunkan maskernya hingga kebawah dagu.


Hingga, terkesiaplah seorang Badai dengan bibir itu berseru, "Kamu?!" kejutnya. Namun sejurus, dia menyampingkan hal pribadinya dengan tangannya kembali menodongkan senjata apinya.


"Ck, tembak saja!" tantang Embun menatap tajam manik elang Badai. "Tetapi, sebelum kamu menembakku, Kurcil. Ucapkan terima kasih mu dulu kepadaku, karena akulah orang yang sudah berjasa besar atas penemuan kalian akan tempat terpencil ini. Aku bukan musuh Kurcil Smart, bukan pula teman kalian, melainkan aku juga musuh dari Matin sialan itu," sambungnya menjelaskan.


Seraya berkata tegas tanpa takut, Embun memamerkan kalung Gerhana. Lalu, melempar ke arah Badai. Adik Topan itu sigap menangkapnya, sejenak melirik Gerhana yang kembali akan dibedah oleh Embun.


"Jangan sentuh dia! Ini tugasku!" Badai mendekat ke sisi Embun. Senjata dan kalung Gerhana sudah dia taruh. Entah kenapa? dia main percaya saja akan penjelasan Embun. Bola mata wanita itupun, terlihat membara saat mengatakan nama Matin, dengan nada geram pun terdengar. Itu tandanya, Embun pun membenci pria jahat tersebut.


"Jangan sembarangan! Ini bukan mainan bocah yang langsung tarik begitu saja chip itu," kesal Embun. Karena, Badai main dorong saja tubuh tingginya ke arah samping dan mengambil posisinya.

__ADS_1


"Aku adalah Dokter, sama seperti mu!" Jelas Badai seraya memakai sarung tangan medis, agar higenis dalam pembedahan yang sangat rentang terkena virus jaringan jaringan Gerhana yang sedang terbuka.


"Bagus!" Embun lega mendengarnya. "Aku mau pergi! Urus saja urusanmu sendiri." sambungnya yang akan lepas tangan dari tanggung jawabnya ke Gerhana.


"Mau ke mana, hah?" Badai bertanya dingin seraya mencekal tangan Embun. Lalu, kembali berkata datar. "Seorang Dokter tidak pernah meninggalkan pasiennya yang sedang bertarung nyawa. Ck, tidak profesional!"


Selesai mempertanyakan keprofesionalan Embun, Badai segera melepaskan tangan itu, terserah wanita itu mau pergi atau tinggal membantunya.


Sebagai seorang Dokter, jelas Embun merasa tercubit, yang mendapat ucapan remeh dari Badai. Dia memutuskan untuk tinggal dan mengambil posisi untuk membantu Badai.


Mereka bekerja kompak dalam diam masing-masing, tanpa ada satu katapun yang terucap. Padahal, dalam hati mereka bertanya tanya sendiri, "Apakah dia tidak mengenali ku? mungkin demikian! Jelas, karena dia dalam keadaan mabuk." Begitulah otak mereka masing masing.


"Setelah urusan ini selesai, sempatkanlah tanganmu untuk menulis nomer rekeningmu. Pelayanan mu yang berharga sepuluh M, belum aku bayar karena kamu sudah pergi begitu saja. Lagian, aku tidak pernah mau berhutang."


"Maaf! aku bukan pelac*r yang dihargai oleh uang. Seberapa banyaknya uang Anda untuk membayar ku, aku tidak akan mau menerimanya. Karena apa? itu tandanya saya sama saja lont* yang sedang berjualan," tolak Embun telak.


"Harga diri yang tinggi! Aku suka mendengarnya. Tetapi sayangnya, sudah ku unboxing." Rasanya, Badai ingin menggigit lidahnya akan ucapan non-filternya kepada Embun.


Kalau orang tuanya sampai tahu, dia sudah membuka segel anak gadis orang, terlebih dahulu. Maka fix...dia bakalan disunat tiga kali oleh Biru-sang Ayah yang sangat menjunjung tinggi martabat seorang wanita.


Embun yang mendengar unboxing, merasa kesal luar biasa yang mendominasi malu mengubun. Sengaja, Embun mentap-tap kasar nan kesal kening Badai menggunakan tissue, yang tadinya membantu menghela keringat Badai, karena akan fatal bilamana jatuh tepat ke jaringan pembuluh darah Gerhana yang terbuka.


"Lebih baik diam, dan bekerja dengan benar!" Embun melotot horor ke Badai yang menoleh kesal, karena tidak terima jidat itu dihardik kasar.

__ADS_1


Badai pun pasrah, dan memilih menuruti Embun. Karena, baru tersadar juga kalau dia harus cepat cepat menyelamatkan Gerhana. Lalu, membantai musuh.


Di sisi, para Kurcil lainnya masih saja beradu senjata di luar markas yang luas itu.


Topan dan Pe yang ingin menggapai rooftop, ternyata tidak mudah bagi mereka. Ke-dua anak kembar itu, dihadang oleh banyaknya jebakan sistem di tangga darurat berbeda. Untungnya, Pe dan Topan telah dilengkapi atribut kaca mata pembaca sistem. Tepat di emergency stairs lantai empat, ada laser yang menghadang, agar tidak bisa menggapai lantai lima, dimana Belen cs ada di atas sana.


"Vay! ada laser aktif terbentang seperti benang kusut telah menghadang ku! matikan segera!" pinta Topan melalui earphonenya. Pe yang ada di tangga emergency lain, tidak jadi melapor karena sudah didahului Topan.


"Kamu bodoh atau lupa ingatan?! aku sedang membawa senjata, bukan alat retas!" Vay menjawab ketus, yang sedang tembak tembakan bersama musuh. Drum besar sebagai pelindungnya, sedangkan Petir yang tadinya ada bersamanya, entah menghilang kemana? mereka berpisah sejak tadi.


Dor... Vay segera menunduk. Hampir saja kepalanya tertembak di saat lengah, karena konsentrasinya terpecahkan oleh Topan.


"Hu, jadi?" Topan menahan kegeramannya, seraya menatap laser yang siap melukainya bilamana main terobos.


"Cari sendiri solusinya, biasanya tombol non-aktif berada disekitarnya dengan bentuk tidak tertentu. Namanya saja senjata, pasti mereka menyembunyikan tombol non-aktifnya yang susah dijangkau," terang Vay. Topan tidak menjawab lagi, lebih memilih untuk mencari tombol non-aktifnya.


Pe pun di tangga berbeda, segera mencari juga. Topan dan lainnya, kecuali Badai dan Dibi, belum ada yang tahu keberadaanya, kalau dia pun ikut bertempur.


"Kamu akan mati ditangan aku, Belen!" seru Pelangi seraya mata bulat kucing itu menggerlya ke sudut tangga, mencari tombol non-aktifnya.


Belum menemukan, Pe sengaja menendang kesal steel door berwarna merah itu.


...****...

__ADS_1


__ADS_2