
"Petir, tangkap!"
Hap...
Petir sigap berbalik dan segera menangkap air botol mineral yang dilempar Vay untuknya.
Keduanya saat ini berada di area ring pelatihan. Anak buah Topan sengaja disuruh Petir untuk mengosongkan ruangan, karena akan dipakai untuk berduel dengan Vay, sehingga hanya tersisa mereka berdua.
"Minumlah!" tutur Vay seolah-olah sedikit memaksa.
"Minum?" ulang Petir seraya menatap botol berukuran 300 ml di tangannya. Alis tebalnya terlihat terangkat satu. Boleh curiga nggak sih? batinnya.
Vay menyadari gelagat aneh Petir, dia pun mengikis jarak dan merebut botol itu dari tangan Petir. "Kalau tidak mau ya sudah, aku bisa minum dua botol sekaligus, satu sebelum duel, satu lagi setelah duel," katanya seraya membuat pergerakan ingin membuka tutup botol yang sudak tidak bersegel.
__ADS_1
"Ini sudah menjadi punyaku, enak saja!" Petir kembali merebut botol itu. Vay menampilkan senyum termanisnya, sangat manis dan itu malah membuat curiga di benak Petir. Bukannya Vay selama ini hanya berketus ria terhadapnya? Pasti ada apa-apanya nih? batinnya seraya memutar pelan tutup botol itu. Tetapi matanya tidak lepas dari wajah jelita Neng Bule.
Bagus! cepatlah minum," batin Vay menyeringai. Minuman tersebut sudah diberi obat pencuci perut. Niatnya sih, agar Petir tidak bisa berkonsentrasi saat berduel.
Hei, Vay itu pintar kok… kekuatan ototnya pastilah kalah jauh dari Petir yang notabenenya laki laki. So….licik sedikit boleh lah? boleh dong! kata pepatah 'kan… banyak jalan menuju roma! licik tidaknya cara itu tergantung keadaan saja, dan keadaan Vay saat ini sedang terdesak bodoh. Awalnya, dia tidak sadar akan mulut besarnya yang main setuju saja terhadap duel ini yang sebentar lagi akan berlangsung.
"Minumnya nanti saja setelah duel berakhir." Petir mengurungkan niatnya untuk meneguk isi botol itu, dia kembali merapatkan tutupnya dan manaruhnya di sisi ring.
Vay yang gagal, hanya menghela nafas pasrah. Tidak mungkin juga 'kan dianya mendesak Petir untuk meminum ramuannya? Yang ada Petir malah curiga. Padahal memang sudah curiga si anak Senja itu yang tidak mudah dibodohi.
"Tunggu apalagi? Ayo naik ke ring. Atau mau kabur karena takut? kalau takut mending mengakuinya sekarang, Cantik." Petir tersenyum ledek. Dia sengaja menyenggol ego ke-wild-an cucu seorang konglomerat ini. Telunjuknya pun dia toelkan ke dagu Vay yang seketika ditepis oleh anak Nata.
Ini sih, nanti gue galfok. Kalah dan berakhir malu sama otot.
Petir terlihat menggeleng gelengkan kepalanya, karena oleng dengan penampilan seksi, si Neng Bule. Celana boleh panjang, tapi...pusar dan lingkaran perut tipis Vay amat nyata terkonsumsi oleh mata normalnya yang amat mengagumi kaum hawa yang bening nan cantik plus seksi pula. Auto dia berfantasi nakal.
__ADS_1
Vay tersenyum licik melihat air muka Petir yang kadang berubah-ubah, merah muram durja.
"Kenapa wajahmu memucat seperti itu? takutkah, Tampan?" Giliran Vay lah yang mengejek. Bahkan, dia sengaja berjinjit sedikit untuk berucap lirih di sisi telinga Petir.
Vay menyadari Petir bergidik merinding akan kelakuan lancangnya. "Katakan peraturan dalam duel kita kali ini, dan jenis bela diri apa yang kita gunakan? apakah Karate? Kungfu? Taekwondo? Judo atau__"
"Muay Thai!" Potong Petir ikut berucap lirih di sisi telinga Vay. Satu sama... Bahkan Vay mendesaaah tanpa sadar karena Petir meniup mesra telinganya.
"Ish." Protes Vay memukul kuat lengan Petir. Sang empu lengan hanya terkekeh kecil di hadapan wajah Vay yang hanya berjarak satu jengkal, sangat dekat.
"Imbalan sang pemenangnya boleh meminta apapun, mutlak tidak boleh dibantah dengan kata Tidak bisa! Mau itu kita harus memotong tangan pun, kita harus bersedia."
Petir sangat berambigu. Dia ingin mengklaim Vay sebagai miliknya, walaupun caranya sedikit licik untuk mendapatkan cintanya.
"Setuju." Hais... Spontan Vay menyetujuinya. Ah, rasanya, dia ingin menggigit lidahnya karena main mendealkan saja tanpa sadar. Bodoh kau Vay, rutuknya sendiri.
__ADS_1
Jelas, Petir dibuat tersenyum jumawa mendengar persetujuan itu. Dia yakin, Vay tidak akan mampu mengalahkannya walaupun Vay juga mempunyai kekuatan tak kalah hebatnya untuk disepelekan. Secara... selama diasingkan ke Belanda, Vay dibesarkan dan dididik keras oleh Eldath- Kaka Omanya yang terkenal kejam dalam hal menghukum, cambuk mencambuk coeg.
"Peraturannya?"