
"Buku-buku tulis, pensil warna, pen, serta buku ejaan bacaan dasar itu. Tolong dibungkus ya, Pak."
Setelah dari pasar, Gerhana memasuki sebuah kios alat tulis, ada macam macam aksesoris perempuan pun di toko tersebut.
Gerhana sibuk membeli barang yang dibutuhkannya. Topan sebenarnya bingung mau buat apa alat tulis dan bacaan itu.
Matanya setia memperhatikan Gerhana.
"Buat apa semua ini, Na?" penasaran Topan.
"Mau buat anak anak ku," seloroh Gerhana. Dia tersenyum geli saat mata Topan mendelik shock.
"Canda! Buat anak-anak yang membutuhkan," ralat Gerhana seraya membayar total harga barang tersebut. Topan akhirnya bernafas lega, iya kira Gerhana bersungguh sungguh mempunyai anak. Hedeh, patah hati dong.
Dan seraya menunggu Gerhana selesai, Topan teralihkan perhatiannya pada jepitan rambut yang menurut matanya cocok untuk Gerhana dan Pe pakai.
Dia pun mendekati gantung aksesoris itu, meraih satu pasang jepitan yang berbentuk daun unik dengan hiasan manik manik putih.
"Ini cocok untuk mu."
Gerhana tertegun, ketika Topan tiba tiba memasang jepitan itu di rambutnya. Mata itu pun mendongak ke wajah Topan yang sangat serius merapikan surainya. Rasanya, jantung Gerhana berjedug jedug ria. Dia jantungan.
Pertanyaannya? apakah rasa desiran hangat itu adalah cinta? Entahlah, Gerhana merasa nyaman. Tetapi takut salah menaruh hatinya ke orang yang belum lama dikenalnya ini.
"Cantik," puji Topan sangat lirih. Namun, Gerhana masih mendengarnya hingga pipinya tanpa permisi tersipu begitu saja.
"A...ku sudah selesai. Ayo!" Gerhana salah tingkah. Dengan itu, dia melupakan belanjaannya yang berada di atas etalase kaca.
"Lucu!" Gumam Topan tersenyum tipis. Dia pun mengeluarkan uang untuk membayar jepitan itu. Lalu, menarik belanjaan Gerhana yang tertinggal.
Di dalam mobil, Topan segera menginjak pedal gasnya.
"Sekarang kita kemana?" tanya Topan. Sejenak, melirik Gerhana yang baru memasang seat belt-nya.
"Ke panti asuhan yang barada di alamat ini." Gerhana memamerkan secarik alamat untuk Topan lihat.
Sekarang, Topan sudah paham akan peralatan tulis itu tertuju kepada siapa. Sekali lagi, Topan dibuat terkesima akan kemuliaan hati Gerhana. Ternyata, si Inces lemot memiliki hati yang dermawan, mau berbagi sesama.
"Aku siap menjadi sopir mu, Inces___ maksudku Nona." Topan meralat sapaannya yang ingin mengucap Inces lemot. Takut nanti Gerhana tersinggung. Dia selalu tersenyum manis ke Gerhana, membuat gadis itu terpana sesaat.
"By the way, kenapa kamu memberikan aku jepitan ini? apakah ini khusus untuk ku?" tanya Gerhana seraya menyentuh jepitan pemberian Topan yang terpasang cantik di rambutnya.
Topan pun menoleh sejenak, lalu kembali fokus ke depan yang berkemudi.
"Karena aku suka melihat benda itu, dan lebih suka lagi saat berada di atas kepala mu, sangat cantik," ungkap Topan. Bukan sekedar menggombali tetapi kenyataan baginya.
Jelas, Gerhana dibuat tersanjung melambung ke langit. Tetapi, sedetik...dia melihat jepitan yang sama modelnya di atas dasboard itu.
"Apakah ini buat aku juga?" tanya Gerhana seraya ingin meraih jepitan itu. Namun tertahan akan Topan yang sudah menarik jepitan itu duluan.
"Ini buat Pe!" kata Topan menaruh kembali barang tersebut.
Wajah Gerhana sedikit kecewa. Dia pikir benda tersebut adalah benda istimewa terkhusus untuk nya tanpa disamain oleh Pelangi. Ternyata tidak. Sadar Gerhana! batinnya memperingati dirinya.
"Topan, apakah benar kamu mencintai ku?" tanya Gerhana penuh arti.
__ADS_1
"Mau bukti apa?" tantang Topan agar Gerhana mempercayainya.
"Tidak ada, cuma sekedar mau bertanya dan mendapat jawaban yang tepat."
"Apa itu?"Topan sedikit memperlambat mobilnya untuk memastikan penglihatannya. Dari kaca spion, dia melihat ada hal yang mencurigakan.
Nyari mati kalian! Topan baru tahu, kalau dia sedang diikuti. Dengan itu, dia mengambil arah jalan lain yang sebenarnya bukan jalan tujuannya bersama Gerhana.
"Misalkan, aku dan Pe berada dipinggir jurang. Secara bersamaan dalam bahaya yang ingin terjatuh ke jurang tersebut. Siapa duluan yang akan kamu selamatkan, aku atau Pe?"
Sungguh, Gerhana tidak bermaksud lain... misalnya cemburu ke adik Topan sendiri. Tetapi entah kenapa, pertanyaan bodohnya itu keluar tanpa rem. Bukan apa apapun, bukannya setiap pasangan itu selalu ingin di preoritaskan? Anda munafik jadi orang kalau tidak mengakui itu. Dan Gerhana ingin diutamakan sebelum dia benar benar menyerahkan seluruh hidupnya ke Topan. Sayang terhadap saudara memang wajib, tetapi ada batasannya bukan?
"Menyelamatkan___"
Dor...
Ckiiiitt...
Aaargh...
Belum sempat Topan menjawab pertanyaan itu, ban mobilnya seketika sudah pecah, karena mendapat tembakan dari belakang.
Gerhana terpekik kaget dengan jantung mau copot. Topan sendiri masih menampilkan wajah datarnya seraya mencoba mengendalikan laju mobilnya yang oleng karena ban sudah pecah.
"Tenanglah____ Shiit!
Topan memaki keras, setir dia banting ke kiri karena di depan sana sudah ada dua mobil yang menghalangi jalannya.
Mobilnya pun menambrak pembatas jalan.
"Kamu tidak apa apa?"
"Yang jelas musuh," Topan mengeluarkan senjatanya seraya mengamati tempat sekitar. Sekiranya, mencari tempat aman untuk melindungi Gerhana dari incaran musuh. Tetapi tidak ada bangun di jalan itu, yang memang sengaja tadi dia mengambil jalan sepi demi menghindari korban yang tidak bersangkutan.
"Na, turun dan bersembunyi di sebelah mobil. Ingat! jangan jauh jauh dariku." Titah Topan, cepat. Raut wajahnya sudah memancarkan aura dingin siap untuk beradu letusan.
Gerhana patuh, dia pun turun dengan tubuh duduk meringkuk bersembunyi di sisi ban. Sialnya, disisi kiri di bawah sana adalah sungai dengan aliran derasnya.
"Kalian sudah dikepung! Lebih baik serahkan wanita itu! dari pada Anda mati sia sia, Bung. Lebih mudah menyerah saja."
Salah satu dari anak buah Jerry berteriak dengan perlahan mendekat ke mobil Topan.
Topan pun sudah berada sisi Gerhana dengan senjata siap mencari tumbalnya. Topan sedikit mengintip, lalu berdiri dan...
Dor...
Dor...
Dor...
"Jangan harap!"
Tepat bagian jantung, peluru Topan sudah mengenai musuh. Tiga tembakan lepas, itu artinya sudah tiga musuh yang merenggang nyawa.
Secepatnya, topan pun kembali bersembunyi di balik mobilnya dengan Gerhana di sampingnya.
__ADS_1
" SERANG!" Titah ketua musuh kepada anak buahnya.
Dor...
Dor...
Dor...
Semua musuh yang berjumlah dua puluh orang, kompak menembak ke arah mobil Topan dengan membabi buta.
Praaang...
Kaca kaca jendela mobil pun sudah hancur berantakan. Dan beberapa belingnya hampir menghujani kepala Gerhana yang setia duduk meringkuk ketakutan.
"Na, awas!" Topan amat sigap menarik tubuh Gerhana agar terlindungi dari jatuhan beling jendela.
"Kamu tidak apa apa?" cemas Topan seraya menenggelamkan kepala Gerhana ke dadanya, menenangkan.
Gerhana hanya menggeleng kecil dengan mata itu sudah berembun karena bergetar ketakutan.
"Beri aku waktu lima belas menit." kata Topan dengan wajah sudah murka. Dia tidak suka melihat wajah Gerhana dalam ketekanan.
Dengan itu, dia berdiri membawa senjata di tangan. Membeli sahutan tembakan demi tembakan ke dua puluh orang yang berjarak enam meter darinya.
Dor...
Tembakan terus saling menggema. Sejenak, Topan berjongkok menghindari peluru.
"Kali ini, mati lah kalian!"
Gigi gigi itu beradu marah. Tanpa takut, dia keluar dari persembunyiannya. Hingga, seluruh tubuhnya terlihat penuh oleh musuh. Dengan berdiri jantan, penuh kewaspadaan mata elangnya. Dia pun membidik cepat letak tangki bahan bakar mobil lawan yang di pakai persembunyian oleh musuh.
Duaaarhgg...
Mobil itu meledak, auto memakan korbannya.
Setelah menembak sasaran, Topan kembali berguling ke arah Gerhana yang sama saja mencemaskan Topan.
Kini tinggal satu mobil dengan sisa musuh bersembunyi di sana.
"Jangan nekat keluar lagi. Ku mohon tetap bersembunyi." Gerhana menahan tangan Topan yang ingin keluar lagi.
Topan mau menepisnya, tetapi ada tembakan lagi.
Dor...
Bau bensin seketika menyeruak ke indera penciuman tajam Topan. Itu tandanya mobil nya pun akan meledak.
"Gerhana...."
Duaaarghh....
Pluungg....
...****...
__ADS_1