Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Duel II


__ADS_3

"Peraturan kalah menangnya adalah....siapapun yang mengunci lawan dengan durasi waktu lima menit, maka dinyatakan kalah. Ingat! hanya teknik kuncian! bukan berduel sampai mati!" terang Petir.


Dia tidak mungkin berduel bersama Vay hingga saling berdarah-darah, bukan? sayang beut kalau wanita jelita seksi di hadapannya ini mau dibikin lebam-lebam, mending juga dibawa ke kasur untuk unboxing. Iya 'kan? lebih sedap-sedap gurih terasa untuk dinikmati berdua. Otak anak Langit itu sudah tercemar, rupanya.


"Aku tidak setuju!" tolak Vay tegas. Tangannya pun berdecak pinggang. Huh, memangnya dia mudah dibodohi apa.


"Kenapa?" Petir ikutan berdecak pinggang. Saling berhadap-hadapan.


"Hm, kamu pikir aku bodoh?! Ganti peraturannya!" pintanya. Jelas dia tidak setuju, secara tubuhnya sangat kecil bagi tubuh Petir yang segede gaban. Bukannya tubuh besar bisa dengan mudahnya untuk mengunci lawan. Ck... si kilat ternyata licik coeg.


"Maunya bagaimana? aku sih terserah kamu. Karena apapun peraturannya, tetap saja aku yang akan menang, Neng Bule." Petir menyepelekan.


"Hmm, awas aja sampai kalah! aku jadikan kamu strippers bin penari naked satu malam." sungut Vay kesal. "Peraturannya yang tepat adalah__" Vay menjeda karena dia memilih melangkah masuk ke ring. "Siapa pun yang jatuh duluan ke lantai, maka dialah yang dinyatakan kalah, deal tampan?"


Hm, pintar juga si Neng Bule, batin Petir. Dia menebak Vay akan menggunakan teknik tari di atas ring (pukul lari, pukul lari) dengan memanfaatkan kecilikan tubuhnya yang mudah berkelit lincah. Dan teknik tari elak itu sering digunakan oleh petinju hebat-Chris J. Tapi baiklah, demi memuaskan keinginan Vay, dia tidak mempermasalahkan... mau itu teknik apapun dia akan ngejabanin si Neng Bule. Secara, hadiahnya akan wow dahsyat yang bisa membuat Vay mangap-mangap shock.


"Deal!" setuju Petir menjulurkan tangan sebagai tanda persepakatan tidak bisa ter-urungkan kembali.


"Deal!" jabat Vay.


"Karena kamu berniat menjadikanku sebagai penari striptis satu malam, maka imbalannya kalau aku yang menang adalah kamu akan menjadi milik ku satu malam di atas ranjang."


"Hah?" Vay melongo seraya mengucek ucek daun telinganya, takut-takut cuma congean. "Aku tidak salah dengar 'kan? permintaan apaan itu?" tanya Vay. Matanya mendelik tajam.

__ADS_1


Petir hanya terkekeh melihat ekspresi Vay, dia malah mendekatkan bibirnya ke telinga Vay dan berkata. "Takut 'kan? kalau mau mundur maka tidak apa. Sifat manusiawi kok, kalau manusia itu mempunyai rasa ketakutan oleh sesuatu. Tapi sebagai capnya... Cucu dari Kemal Abraham dan Yolanda Aditama Perkasa yang digadang-gadang Wild flower itu, ternyata mempunyai cucu semata wayang yang pecundang! Anevay adalah seorang pecundang. Kamu tahu arti pecundang___"


"Stop..."


Vay terpekik. Wajahnya memerah padam karena emosi dikata-katain oleh si kilat ini.


"Jangan banyak bacot lo, gue terima tantangan lo." Bahkan, Vay sudah menanggalkan kata sapaan sopannya terganti menjadi lo gue. Emosi coeg! Dia pun memasang kuda-kudanya seketika.


Kena, Lo! Petir memang sengaja mencubit-cubit ego Vay agar terpancing. Ah, kagak sabar ngalahin si Neng Bule.


"Kita mulai."


Petir pun mengambil posisi, dia memulai pergerakan dengan cara memberi jab kirinya ke wajah Vay sebagai pancingan.


Belum ada perlawanan dari Vay, dia hanya mengelak dan mengelak. Kedua tangan dia taruh di depan untuk melindungi area wajah dan kepalanya, dengan memposisikan tangan itu secara vertikal dan paralel, telapak tangan pun terarah ke pipi. Hingga, pergerakan indah pun terjadi seperti menari.


Ok, apa boleh buat! Petir harus menyakiti sedikit si jelita ini secara terpaksa. Hingga, uppercut dia layangkan ke rahang kiri Vay. Namun hebatnya, si Vay tidak goyah sama sekali. Si Neng Bule ini sangat kuat, rupanya.


Demi kemenangan, hook kiri dan kanan Petir layangkan secara cepat agar konsentrasi Vay pecah dan demi membuat Vay semakin emosi.


Damn! umpat Vay.


Kali ini, dugaan Petir yang kedua kalinya betul, lagi. Vay seketika memanas, serangan Petir dia lawan secara ganas. Jab dan hook kiri kanan ke pipi Petir dia layangkan. Tapi sialnya, tidak bertuan. Tidak mau menyerah, Vay dengan cepat melayangkan jab straight nya hingga telak mengenai tulang pipi kiri Petir.

__ADS_1


Hebat! Petir mengakui itu. Saat dia ingin membalas pukulan Vay. Si gadis keturunan Indo ini mengelak lincah seperti sedang menari, tanpa mau menepis serangan melumpuhkannya. Pintar sekali!


Aku tidak boleh kalah! batin Vay. Taruhannya sangat gila, coeg! Dia amat ngeri membayangkan nasibnya bila mana kalah telak. Huuhh.... bisa di wik-wik. No big no no!


"Aww," ringis Vay lirih. Tak bisa dipungkiri, walaupun Vay terus menerus mengelak, tapi tetap saja beberapa kali mendapat pukulan Petir hingga wajahnya kini mulai berdenyut sakit. Sambil berkelit lincah, Vay juga berkonsentrasi mencari celah untuk menjatuhkan tubuh gaban Petir.


Kamu bisa, Vay!


"Apakah sudah capek, Neng Bule? Aku akan mengakhirinya, dan siap siap lah menjadi milikku."


Sempat-sempatnya Petir mengedipkan matanya. Dan itu membuat Vay geregetan.


"Rasakan ini!" Uppercut Vay kini kembali bertuan tepat di dagu Petir. Hingga anak Langit merasakan gigi-giginya saling beradu. Petir pun merasakan ada darah yang menyeruak di dalam rongga mulutnya, sepertinya gusi itu berdarah.


Ok, Petir sudah mulai bosan untuk bermain-main bersama sahabat ciliknya ini. Cukup sudah untuk membuat hati Vay senang karena permainan ini.


Dari jab biasa sebagai pengecoh, hingga hook, uppercut dan terakhir jab straight melayang secara bergantian bak petir yang menyambar Vay. Tapi itu hanya sekedar menempel bagi Vay terima... paling mirip sekedar ditimpuk sepatu, rasanya. Petir tidak tega juga melukai secara dalam.


"Lo, curang!" kata Vay ingin mengeluarkan licik-licik manisnya sebagai wanita, bibir itu pura pura cemberut kesakitan. Kata Oma wild-nya 'kan... Kalau tenaga sudah tidak mampu untuk melawan, maka gunakan IQ dan EQ mu secara bersamaan. Kecoh lawan menggunakan otak dan selipkan sedikit EQ.


Bibir Petir tersungging, dia tahu segala perangai si Bule. kagak mempan pokoknya akan wajah memelas itu. Kalau si Neng Bule telah memakai IQ dan EQ nya, maka Petir pun bisa memakai IQ di sertai sikap cuek-cuek bebeknya akan wajah yang bermain-main emosional iba itu. kagak ngena tertipu, huh!


Dengan itu, saat Vay melayangkan tendangannya ke persendiannya yang bermaksud mau melumpuhkan tubuhnya agar terjatuh. Tapi hal lain justru membuat Vay terkesiap... Petir menarik tangan kanannya, memutarnya seperti kinciran dan brakk.... Petir menjatuhkannya ke lantai dengan posisi terlentang.

__ADS_1


Bahkan, Petir malah sengaja menjatuhkan tubuh gaban itu ke badan empuk dan berlekuk-lekuk indah Vay. Maksudnya sih mau mengunci, tapi sekalian saja menyelam 'kan.


"Kamu kalah, Neng Bule!" bisik mesra Petir di sisi telinga Vay.


__ADS_2