Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Introgasi 2


__ADS_3

"Di mana Xian menaruh chip kami?" Guruh mengambil alih pertanyaan, dia heran ke Topan yang masih membisu. Biasanya 'kan paling pertama menunjukkan taringnya. Ah, ini sih sudah menyangkut hati. Tidak akan benar bila hal pribadi disangkut pautkan dengan misi. Betataran coeg macam nasi bungkus kagak di pakaikan karet. Itulah gambaran Guruh ke Topan saat ini. Virus cinta sudah menyerangnya. Makanya menjomblo itu adalah jalan terbebas dalam hidup, mau nungging pun tidak ada yang melarang. Itulah definisi cuek seorang Guruh Batara.


"Chip apa? Papaku bukan pencuri, dia orang baik. Kalian sudah salah paham tentangnya!" Gerhana membalas tatapan tajam Guruh di iringi suara tegasnya. Dia kagak terima kalau Papa baik seperti dewanya dijelek-jelekan. Enak saja main tuduh! Kesalnya dalam hati.


Andai aku ibu peri, aku sulap kalian jadi ayam goreng. Gerhana hanya berani menyumpahi dalam hati.


"Nona cantik, lebih baik buka mulutmu tanpa bertele-tele. Jangan sampai kami mengamuk." Petir menepuk pelan bahu Gerhana, seketika wajah Topan mengeras seraya menatap tangannya yang telah menyentuh bahu itu.


Elah, cemburu kok diam aja! Petir pura pura bodoh dan membutakan matanya seolah-olah tidak peduli dengan wajah dingin rekannya.


"Lepaskan tanganmu!" ketus Gerhana tidak suka kulitnya disentuh oleh tangan pria manapun. Petir pun menjauhkan tangannya.


"Di situ ada nyamuk, makanya aku usir." Elaknya. Plak plak plak... Sempurna sekali akting anak Langit ini. Dia menepuk nepuk udara seolah-olah ada nyamuk yang mau di eksekusinya.


Vay tersenyum diam-diam akan kebohongan basi Petir. Yang lain hanya memutar malas matanya.


"Gerhana." Topan sudah tidak tahan juga untuk tidak bersuara. Bahkan, tangannya sudah mencengkram rahang Gerhana saking gemasnya karena gadis ini sudah memuji Xian yang aslinya hanya berkedok baik di mata wanita naif ini. Xian itu busuk! Titik. Topan juga ingin segera mengakhiri introgasi ini. Jujur, dia tidak tega juga melihat wanita yang sudah ditandainya malah menjadi bulan-bulanan rekannya.

__ADS_1


Mau meloloskan Gerhana, nanti dia akan dapat serbuan dari teamnya. Apalagi melihat air muka Pe yang sudah mengambil ancang-ancang mau mengejeknya. Ah, Makan buah si malakama ini sih namanya. Apes! sungguh apeees!


"Ah, kulit ku sudah ternodai!" Gerhana masih mencoba garang dengan menepis tangan Topan di kulit wajahnya. Tetapi dia juga ogah ogahan menatap manik Topan yang di capnya mirip kuyang saking seramnya.


Anehnya di mata Kurcil lainnya, kenapa Topan setengah-setengah dalam mengintimidasi?


Ini sih hati Topan lagi dilematis. Batin semuanya.


Baiklah, saatnya Pe bereaksi. Dia ingin membalas perlakuan Topan yang selalu ikut campur hal pribadinya.


"Gerha__" Pelangi menelan lagi seruannya karena Badai.


Saat penyakit radang itu teruntai, Ama dan lainnya kecuali Topan, kompak tersenyum geli. Namun hanya dalam hati. Masa iya sih mau mengintimidasi lawan harus memperlihatkan wajah konyol mereka? Yang ada Gerhana menganggap mereka hanya mafia-mafian yang hanya main-mainan saja. Padahal memang iya sih, mereka 'kan memang konyol sedari kecil.


"Aku__hm, mau---" Gerhana ragu mengungkapkan hasrat buang air kecilnya. Dia malu ke tujuh pria dihadapannya, apalagi Topan tidak berkedip menatapnya. Seram bagi Gerhana. Tidak mungkin dia mengatakan mau pipis, malu pokoknya! Nanti para laki laki itu traveling dong.


"Mau apa? mau ini?" Pelangi menakuti, pistol dalam saku Topan dia rebut begitu cepat dan sengaja meniup niup ujungnya untuk menggeretak Gerhana sekaligus Topan. Hanya menakuti lho ya. Pe tidak mungkin membunuh Gerhana begitu saja karena wanita berwajah naif itu adalah kunci kebebasannya dari protektif si Simba Topan.

__ADS_1


"Huawaaa, jangan___" Gerhana berteriak prustasi. Pissss. "Tuh 'kan ke-keluar!" Dia mengeluarkan hasratnya di atas bed itu karena takut dengan senjata Pe. Dia ngompol uih.


"Apa yang keluar?" Topan bertanya dengan alis terangkat satu. Dia menatap aneh wajah memerah Gerhana yang kadang berubah pucat menahan malu.


"Eh, kalian cium bau aneh nggak?" Angkasa menimpali, memonyongkan bibirnya seraya mengendus. Konyolnya, para teamnya ikutan mengendus seperti kucing mencari makanan. Topan aja mencari cari bau itu.


"Kayak-kayak bau pesing deh?" Ungkap Lautan.


Sumpah demi ayam bertelur... Gerhana ingin bersembunyi di bawah ketiak ayam. Wajahnya reflek bersembunyi ke dada Topan. Malunya sudah di atas ubun ubun. Topan kaget karena pergerakan Gerhana yang meminta perlindungan. Labil juga nih perempuan, batin Topan yang tadi Gerhana tidak mau menatapnya barang secuil pun.


"Aku ngo-ngompol karena senjata itu.. Huawaaa." Adu Gerhana, sejurus dia nangis kejer membahasi baju Topan.


"Ngompol?" ulang Ama. Dia ingin terbahak-bahak, tapi mata Topan berisyarat diam untuk semuanya.


"Parah, urus dulu lon__ wanita mu, Pan!" Petir hampir keceplosan lont*. Sejurus mereka meninggalkan ruangan itu dengan perut sudah di obok obok ingin menertawakan Gerhana dan Topan yang terlihat lembek karena membawa perasaan hati.


Hahahaha...

__ADS_1


Pelangi dan Ama serta Vay yang paling kenceng tertawanya setelah di luar ruangan. Para laki laki tertawa dengan menutup mulutnya, takut takut Topan keluar dengan aumannya.


__ADS_2