
"Nana__"
Topan tercekat ulah Gerhana yang main duduk di atas pangkuannya dengan posisi menyamping. Tangan Gerhana pun melingkar di lehernya dengan wajah amat dekat.
Demi kebebasan, aku rela memotong-motong urat malu sendiri. Batin Gerhana. Sementara Topan pun sibuk membatin, dalam waktu sejenak itu suasana jadi hening.
Apakah ini sifat Nana yang asli? Ah, tidak mungkin! Nana di sentuh sedikit aja kulitnya sudah marah.
Topan menepis pikiran negatifnya akan kepribadian si Inces lemot. Dia pun memasang wajah datarnya, padahal jujur... deg degan gimana gitu. Merinding ding disko, rasanya susah dijabarin oleh si batu ini.
"Ayolah, Topan! Kita jalan-jalan. Aku janji, tidak akan berbuat ulah," dusta Gerhana sudah mulai berakting. Tangan lentik itu pun bergerak menggerayangi bagian dada Topan, naik turun dengan gerakan sensual penuh kelembutan.
Topan semakin dibuat jantungan, suasana ruangan ber-AC pun seketika jadi gerah baginya. Salivanya dia telan beberapa kali hingga jakungnya naik turun. Kurang ajarnya, Gerhana semakin gila, telunjuk nakal si Inces lemot ini malah bermain di jakungnya. Meresahkan, uhh...!
Ujian berat! apakah Nana tidak merasakan ada sesuatu yang berkedut kedut di atas duduknya? Shiiiit...'Bangun 'kan jadinya. Si batu lagi menahan hasrat.
Eh, kodoknya bergerak, aduh....bahaya nggak ya buat aku sekarang ini? Inces lemot ini berbuat ulah tapi sumpah....Nana ketakutan juga. Apalagi, tangan Topan kini terasa berada di kedua sisi pinggangnya, mungkin bermaksud untuk jangan turun karena tadinya Inces ini mau menyerah di tengah tengah aktingnya.
Alamak....Aku kira batu itu tidak bisa bergerak. bahaya ini mah, bahaya!
"Ehemm," Gerhana berdehem kecil dan mulai merayu lagi, sayang....uda setengah jalan berulah, jangan sampai gagal rencananya.
"Mau ya Topan? kayaknya seru___hmmmp."
Tuh 'kan, senjata makan tuan... Topan muram durja menggila, mulut Gerhana yang tadinya sibuk berucap, kini dibungkam rakus-rakus dengan metode cipooookk. Enak pokoknya! Bibir wanitanya ini sudah menjadi candu rupanya. Apalagi wangi segar di tubuh Nana, mampu melumpuhkan logikanya untuk berbuat lebih dari sekedar ciuman ganas.
__ADS_1
Uhh, Gerhana yang tadinya sibuk berpikir untuk lepas dari pagutan Topan. Kini pun ikut terbawa arus, ketika satu tangan Topan menyelusup masuk ke dalam kaos bagian belakang. Meraba kulit punggungnya naik turun, dan sejurus melepas kaitan bra-nya. Dan apa ini? tangan lihai Topan sudah ada di bagian gundukannya, seperti main squisy diremasnya penuh penghayatan.
Balas Gerhana! sensasinya pasti berasa banget, kalau kamu membalas serangan Topan. Setan bertanduk pun mulai mensugesti Gerhana. Mau tidak mau iman yang setipis helai rambut itu, putus sudah.
Gerhana akhirnya ikut menggila, desiran di tubuhnya menuntun hasratnya ikut bermain lidah di dalam rongga mulut Topan.
Mereka saling membelit satu sama lain seperti ular yang saling berpatok ria.
Tok
Tok
Tok
Ketukan pintu terdengar nyaring, tapi keduanya masih terbawa suasana, tidak menyadari.
"Hais, kalau main tuh kunci pintu dong, bikin mupeng aja deh ah !"
"Oops, dua kali ketahuan oleh kita, Bhumi."
Damn! kepergok hansip... si Twins main masuk nerobos.
Lantas dua orang yang saling berbelit terganggu, saling berjauhan dengan cara Gerhana bergegas turun dari pangkuan Topan.
"Pengganggu!" cetus Topan kembali ke wajah datarnya. Gerhana yang malu dan berniat pergi, malah ditahan tangannya oleh Topan untuk tidak pergi.
__ADS_1
Si Twins hanya tersenyum mendengar keketusan Topan.
" Anak anak ku, Sayang. Ingat ya, Nak! perempuan adalah orang yang harus dimuliakan setelah sang Pencipta. Sekejam-kejam perilaku kalian, tapi satu yang Bunda pinta.... jangan pernah sekalipun melukai hati atau menodai kesucian seorang wanita. Haram!"
Sebelum mendapat gorokan kejam. Angkasa bergegas berdai dengan meniru gaya nasehat Mentari-Ibunda mereka.
Bhumi tersenyum bangga ke Angkasa, karena jurus ampuh untuk melawan Topan adalah nama sang Bunda. Kicep kan si Simba ini.
"Kalian berisik!" Ketus Topan dan berdiri dengan tangan masih memegang pergelangan tangan Gerhana. "Ayo, Nana! Kita pergi jalan-jalan sesuai keinginanmu."
Gerhana lantas terpekik riang dalam hati, rasa malunya terhadap kejadian tadi, sudah menguap. Yes... bentar lagi bebas! bye bye markas jelek!
"Tapi, Kak! Laporan ini bagaimana? penting lho!" Bhumi memamerkan satu berkas yang dilapisi map berwarna merah. Si Twins memang mempunyai tujuan bertemu Topan.
"Tinggalkan di meja," sahut Topan tanpa menoleh yang sudah berada di ambang pintu dengan setia menuntun tangan Gerhana.
"Angkasa! Apakah itu yang disebut Mafia bucin!"
"Hahaha, betul!"
Adik kakak ini asyik terbahak bahak menertawakan Topan yang sudah pergi.
...****...
Gerhana dan Topan
__ADS_1