Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Tembakan Di Tengah Hujan


__ADS_3

Beberapa menit yang lalu saat awal rintik-rintik hujan turun dari langit tanpa permisi dahulu.


Gadis yang dikhawatirkan Topan Cs yaitu Pelangi bersama Guntur tetiba dapat serangan dari beberapa orang yang tidak dikenal oleh mereka. Padahal awalnya, mereka ingin berlari ke arah mobil saat hujan datang, tapi berbelok haluan karena si penembak berdatangan dari arah mobil yang terparkir.


Dor...


Dor...


Dor...


Hais, tanpa memberi jeda. Klan itu terus menembak Pelangi dan Guntur. Namun, peluru yang digunakan oleh gerombolan itu adalah peluru sejenis bius, karena bos mereka hanya menginginkan target hidup hidup, bukan mayatnya.


"Ayo Pelangi! Lari terus!"


"Ini juga lagi lari, lo pikir lagi ngesot, hah?"


Mereka jadi berdebat seraya terus mengelak dan berlari ke arah gedung yang mirip semacam rusun-rusun yang berhempitan bangun dari bangunan lainnya. Tangan mereka bergandengan hingga keduanya menjadi dejavu.


"Lo dari dulu selalu banyak masalah dengan gerombolan penjahat sangar," pekik Palangi yang terus di tarik tangannya oleh Guntur. Persis seperti mereka saat remaja yang dikejar kejar penjahat sampai disekap.


Pelangi salah, musuh tersebut menginginkan dirinya, bukan guntur karena Tommy anak-Jerry ada diantara musuh. Matin sendiri lebih memilih untuk tidak bertindak gegabah. Takut ketahuan oleh Guntur, lebih baik bermain hati-hati, bukan. Pikirnya cerdas, yakni menyakiti Pelangi disaat Guntur tidak ada di sekitar gadis yang dinilai Matin adalah pengganggu Belen.


"Di mana ada nafas maka masalah selalu menyertai, Nona." sahut Guntur berambigu. Hujan kian deras saja memberatkan lari mereka karena jalanan terasa licin. Tubuh basah kuyup tidak dihiraukan, yang terpenting tidak terkena tembakan.


"Shiit, jalanan buntuh!"


Guntur mengumpat kesal. Pelangi malah terkekeh ledek. Sementara musuh kian mendekat.


"Dari dulu selalu jadi pecundang, berlari dan berlari terus dari musuh."


Pelangi menarik tangannya dari genggaman Guntur yang rasa rasanya tidak mau dilepas oleh laki-laki ini.


Guntur memicingkan matanya ke Pelangi. "Aku bukan pecundang." ujarnya seraya mengeluarkan senjata apinya. Siap saling membeli sahutan senjata yang sialnya musuh kian bertambah jumlahnya yang sudah terlihat dari ujung jalan sempit sana.


"Iya! kamu pecundang, Guntur! Dan aku kira setelah penculikan di waktu itu, kamu sudah mati!" Kata Pelangi dengan nada bercanda. Tangannya ingin menarik senjata apinya, tapi sialnya.... tertinggal bersama jam khusus beracunnya. Apa boleh buat, Pelangi hanya menggunakan pisau lipat yang selalu ditaruhnya disela-sela sepatu boots hitamnya.


"Kamu selalu nyebelin, Pelangi. Aku tidak takut oleh mereka melainkan mengkhawatirkan dirimu," elak Guntur. Tapi dalam hatinya menyadari ucapan pedas Pelangi yang benar adanya selalu lari dari musuh. Dan musuh terbesarnya adalah Matin, penjahat sejati dalam hidupnya yang sudah menyembunyikan keberadaan Mommy-nya.

__ADS_1


"Hah, lihat saja aksiku! aku akan membunuh orang-orang itu."


Pelangi tersenyum tipis mendengarnya sehingga bibir itu berbentuk sabit.


"Kita main hujan-hujanan!" Antusias Pelangi.


Kini musuh sudah berada di hadapan mereka. Guntur dan Pelangi saling memunggungi demi melindungi satu sama lain.


"Halo, Nona cantik! kamu masih mengingat ku, Sayang?" Tommy melepas topinya agar terlihat oleh Pelangi.


"Oh, jadi kamu yang ingin olahraga di tengah hujan ini__"


"Just call me, Tommy!" potong Tommy ke Pelangi. Guntur sedari tadi muak saat mendengar ucapan kurang ajar pria itu yang main manggil sayang ke Pelangi. Tapi, emosinya dia tahan seraya bersiaga ke anak buah Tommy yang telah mengepungnya saat ini.


"Tommy! nama yang jelek, sejelek tangan mu yang pernah dipatahkan kakak ku." Pelangi sengaja mengolok olok musuhnya.


Dan terlihat kepala Tommy bergerak memberi kode ke anak buahnya yang berjumlah lima belas orang. Dia sendiri hanya menunggu hasil kerja anak buah Daddy-nya, hingga memilih mundur beberapa langkah. Dalam hatinya, dia akan menghabisi nyawa Pelangi setelah puas memakan gadis itu di atas ranjangnya. Awas saja!


"Main keroyokkan," beo Guntur.


Shiiiit! Kesal Tommy dari jauh karena Pelangi pun tak kalah lihainya melumpuhkan senjata bius anak buahnya. Dengan cara, Pelangi melempar pisau pisau kecil ke tangan enam kacungnya. Gerakan tangan Pelangi seperti sedang menabur asal asalan tapi pisau itu tertancap sempurna ke tangan enam orang itu secara berjamaah.


" Ini merepotkan," kata Pelangi seraya mengambil ancang-anang bertarung. Dia menyesali juga jam tangan sistem beracunnya tidak dia bawa.


"Kamu akan menyesal, bedebah!" marah salah satu musuh yang sudah mengeraskan ototnya untuk menyerang Pelangi dan Guntur.


"Hati hati Pelangi, aku tidak mau Topan menggorokku hanya karena luka kecil yang ada pada tubuh mu, nanti." ucap Guruh kembali saling memunggungi, biarkan enam orang itu sendiri yang mendekat.


"Takutkah?" tanya Pelangi dengan bibir terangkat sedikit. Guntur tidaklah menjawab.


"Kalau begitu, bantu aku!"


Sekonyong-konyongnya, Pelangi membuat tubuh Guntur sebagai tumpuannya.


Awalnya, Guntur sedikit tidak mengerti. Tapi setelahnya...dia enggeh dan dengan cepat menautkan jari jarinya hingga telapak itu menyatu menghadap ke atas, sebagai alat pijakan kaki Pelangi yang ingin melayang di udara membawa flying kick-nya.


Bugh...Bugh... Bugh.

__ADS_1


Tiga orang seketika tumbang karena tendangan terbang Pelangi yang memutar di udara.


Sebelum jatuh ke tanah yang berair. Guntur sigap menawarkan kedua tangannya untuk diraih Pelangi.


Hap...


Sempurna!


Bukannya langsung berpijak di tanah, Guntur malah kembali memutar tubuh Pelangi yang luntur tapi bertenaga untuk menendang tiga orang lainnya yang masih berdiri kokoh, dengan kuda kudanya pun siap menyerang balik mereka.


"Seruuuu, hahaha!" Pelangi malah tertawa riang dalam aksi putaran itu. Kini, sepatu boots heels yang ber-hak runcing lima sentimeter kembali berjua di wajah musuh. Sakit tidak?


Kreeekkk...


"Awww... Guntur!"


Mampus! Saat ingin menginjak tanah, heels sebelah kanan patah. Hingga, kaki Pelangi sedikit tergilir keseleo. Dia pun marah tidak jelas ke Guntur.


"Hehehe, maaf!"


Guntur terkekeh kecil seraya tangannya terjulur ke Pelangi sebagai bantuan.


Keduanya melupakan Tommy yang sudah marah karena anak buahnya sudah terkepar. Kedua tangan Tommy sudah membidik sasaran dua sekaligus.


"Kena kalian..." Dor...Dor...


"Pelangi, Awas!" pekik Guntur seraya mendorong Pelangi agar sasaran Tommy meleset. Guntur pun terjatuh ke genangan air untuk menghindari tembakan itu.


Tembakan itu memang tidak bertuan.


Sekali lagi dari kejauhan, Tommy melepaskan pelurunya.


Dor...


Deg...


Dan saat itulah, Topan dan Badai-lah yang merasakan jantungnya berdetak sakit tidak karuan di tempat lain dalam kesibukan masing-masing. Saat itu.... Badai di tempat seminar, dan Topan lagi mengemudi mobil bersama Nana.

__ADS_1


__ADS_2