
Topaaaannnn!
Saat Kurcil sibuk mencari Topan yang tak kunjung terlihat.
Tiga helikopter datang beriringan dengan jarak tertentu. Ada Vay yang mengemudikan salah satu alat transportasi khusus itu.
Charel dan rekan nya pun siap mengangkut bos nya.
"Kak Topan!!!" cari Angkasa. Dia dan Bhumi bergantian menenggelamkan tubuhnya, berharap bisa melihat Topan yang mungkin tenggelam.
"Hey, ayo naik!" pekik Vay yang sudah menjatuhkan tangga monyetnya kebawah. Dia belum tau kalau personil nya belum lengkap.
"Sialan lo, Vay! kenapa baru datang, hah?" Badai marah.
"Maaf, kami___"
"Maaf kalian tidak diterima! Lihatlah.... Topan tidak ada!" Teriak kesal Badai memberi tahukan.
Vay jelas mendengarnya walaupun ada baling baling helikopter yang berisik. Oleh karena itu, dia kembali mengudarakan helikopter nya untuk mencari Topan dari penglihatan atas.
"Ama, naik buruan!" Guruh memaksa Ama untuk naik ke helikopter yang di kemudikan Charel.
"Tapi, Topan...."
"Biar kami yang mencari nya. Ayo naik!" Guruh membentak demi keselamatan adiknya. Mau tidak mau, Ama meraih tangga monyet tersebut.
"Temukan Topan!" pinta Ama ke kakaknya seraya menaiki tangga tali itu.
Guruh dan lainnya pun menelusupkan tubuhnya tanpa ada satupun SCUBA sebagai alat bantu menyelam.
"Topan, Topan, Topan." Lirih Vay terus menyebut nama itu seperti mantra, seraya iris amber khas Belanda nya setia melirik ke laut. Helikopter nya sibuk berputar putar mengelilingi tempat kejadian ledakan. Begitu pun helikopter Charel dan satunya yang dikemudikan oleh anak buah Topan.
...****...
Waktu yang sama, Pe sudah berada di villa Guntur.
Duduk di sofa berhadapan dengan Guntur. Ada Embun dan Erlan juga di ruangan itu.
"Pe, aku menginginkan chip kalian, tolong berikan." Guntur to the point dengan suara memohon nya.
Pelangi yang mendengar itu, terkekeh remeh seraya menatap lekat lekat lawan bicaranya.
"Yang benar saja! kalian meminta chip kami seperti meminta permen karet," mata Pe berpindah ke Embun dan Erlan. Lalu kembali menatap sinis Guntur. "Aku kira kamu baik, Guntur. Tetapi aku salah! kamu sama saja dengan orang ambisius ambisius itu." Pe kecewa kepada Guntur.
__ADS_1
"Tidak seperti itu__"
"Maaf, apapun alasannya. Aku tidak bisa mengabulkan nya. Aku--Pelangi salah satu pembuat chip itu, me-no-lak keras memberikan nya." Pe sengaja menekan kata kata nya agar jelas terdengar bagi ketiga orang dihadapannya. Dia pun berdiri kasar, berniat untuk pergi.
Akan tetapi, Erlan mencegatnya dengan cara menghalangi nya di pintu itu.
"Apa kamu mengibarkan bendera peperangan, Guntur. Suruh dia menyingkir atau___"
"Coba lihat ini dulu, apakah kamu masih keras kepala tidak mau membantu kami." Embun menyela Pe yang sedang tersulut emosi karena kelakuan Erland.
Sejurus, dilayar proyektor memperlihatkan seorang wanita setengah bayah dengan penampilan menyedihkan telah di jerat lehernya menggunakan tali.
"Dia Mommy-ku, Pe. Orang-orang serakah itu memerasku dengan cara kejam seperti itu. Ku mohon padamu, berikan kepada ku Chip kalian."
Pe kehilangan kata kata sejenak, di saat Guntur berlutut berada dibawah kaki nya untuk meminta. Dia juga iba melihat Mommy Guntur, sekeras apapun perangainya... Pe sejatinya penyayang dan pemaaf seperti sifat Ibundanya.
Embun dan Erland saja nyaris tidak percaya, kalau seorang yang digadang-gadang anak konglomerat dari negara lain, sampai bersimpuh dihadapan seorang wanita.
"Bangunlah! jangan begini." Pe mundur perlahan dari Guntur yang bersimpuh.
Embun yang melihat kelemahan Guntur, berinisiatif untuk menuntunnya berdiri.
"Apa susahnya, tinggal berikan saja!" cetus Erland bersuara. Sedari tadi melihat Pe, dia selalu menahan emosinya karena dia tau kalau wanita cantik itu adalah pujaan hati Guntur. Otomatis, wanita penghalang yang sudah membuat kakaknya menangis tiap malam karena patah hati. Walaupun Embun-kakaknya tidak mempermasalahkan hal itu, tetapi dia tetap saja ingin memperjuangkan kebahagiaan Embun.
"Dan kamu Guntur! aku prihatin atas musibah orang tuamu. Akan tetapi, apa kamu pernah berpikir lebih smart lagi, hah?"
Guntur terdiam akan suara Pe. Otaknya memang hanya terfokus keselamatan sang Mommy-nya.
"Misalnya! kami memberikan chip itu demi keselamatan satu orang yakni Mommy-mu. Lantas, nanti bagaimana nasib orang orang banyak yang tidak bersalah, eum? kisi kisi rekaman chip itu sangat berdampak bila dipergunakan kejahatan oleh orang serakah. Asal kalian ketahui, project kimia itu bisa mencairkan tubuh bak air hanya dalam waktu lima menit, bila mana tersentuh oleh kulit."
"Aku tau dampak nya, tetapi... bisakah kamu menolong ku?" pinta Guntur masih merendah.
"Pelangi!"
Pe melirik Embun yang memanggilnya.
"Orang orang itu sebenarnya meminta kami menangkap salah satu dari Kurcil, sebagai penukaran Mommy Guntur yang entah dimana mereka menyembunyikan orang tua malang itu. Jadi, kami meminta bantuan mu dengan terang terangan, berharap kamu mau menjadi umpanbalik kami. Tetapi tenang saja, kami pasti akan menyelamatkan mu."
Embun ikut membujuk tanpa basa-basi. Beda dengan Erland yang sudah menyeringai licik.
Pelangi yang mendengar Embun, tertawa kecil seraya menatap Guntur yang menampilkan air muka prustasi nya .
"Rencana konyol! aku bukan ikan segar yang seenaknya dilempar ke kandang singa. Aku menolaknya! Tetapi...." Pe menggantung ucapannya karena menyadari aura lain dari Erland. Dia melihat dari pantulan kaca kalau pria urakan itu mengeluarkan semacam suntikan.
__ADS_1
Ck, mau main paksaan kah?
"Guntur! bilangin ke salah satu orang mu. Kalau dia berani membius ku, maka balasannya adalah jarum beracunku. Aku masih bersabar karena masih menganggap mu orang baik yang pernah menyelamatkan nyawa ku." Pe menatap tajam Erland.
"Er!" Guruh dan Embun kompak membentak.
"Aku hanya membantu, pembicaraan yang tidak berujung ini sudah membuang buang waktu. Ingat! kita hanya punya waktu satu jam untuk membawa salah satu Kurcil, jadi maaf Nona...aku memaksa...."
"ERLAND!"
"PELANGI!"
Embun dan Guntur masuk ketengah tengah berdirinya Pe dan Erland, untuk mencegah terjadinya bidikan racun Pe serta biusan Erland.
"Jangan!" Embun mengambil jarum bius itu di tangan adiknya.
"Maafkan dia, Pe!" pinta Guntur seraya menggenggam tangan Pe yang terdapat jam jarum beracun nya.
Pe tidak menjawab, tetapi matanya menatap sinis ke Erland seraya menepis tangan Guntur yang main menyentuhnya. Begitu pun sebaliknya dari Erland, menatap sinis.
"Entah apa masalahmu kepada ku, Bung? kenapa perasaan ku berkata, kamu mempunyai niat terselubung?"
Gegas, Erland menekan rasa gugupnya akan tuduhan Pe. " Mana ada begitu, kita baru berjumpa, Nona. Aku tak ada masalah apapun dengan mu melainkan hanya membantu kak Guntur disini." Erland selalu berketus ria.
"Pelankan nadamu, bocah!" lerai Embun. Dia tidak paham, kenapa adiknya tidak bisa menahan emosinya.
Erland hanya mengangguk kecil, pertanda menuruti kakak tersayang nya.
"Jadi bagaimana decide-mu, Pe? waktu ku tinggal satu jam lagi." tanya Guntur akan keputusan Pelangi yang inti kunci permasalahannya ada pada gadis pujaannya itu.
Sungguh, Guntur sebenarnya tidak mau membawa bawa keselamatan Pelangi masuk ke dalam masalahnya. Akan tetapi, keadaan terdesaklah yang memaksakannya.
"Oke, aku setuju!"
Guntur dan Embun tersenyum kompak, beda dengan Erland yang tersenyum lain.
"Setelah aku di tangan musuh, baru kalian hubungi Badai atau yang lainnya!" pinta Pelangi. Karena diyakini nya kalau Kurcil cs tidak akan setuju akan keputusan nekatnya itu, kalau minta izin terlebih dahulu.
"Serahkan tugas pesan kecil itu kepada ku," Erland menyanggupinya. Guntur dan Embun menyetujui nya.
"Aku juga sebenarnya bosan di Negara ini karena chip itu. Dengan apa boleh buat, aku akan memasang diri ku demi mempersingkat waktu," ungkap Pe. Guntur mengerutkan keningnya, tidak paham dengan kata Pe, mempersingkat waktu? Tetapi, karena tidak punya waktu banyak yang sekedar bertanya kepo, diapun mengabaikan itu.
Bagi Pe, ini adalah jalan untuk bertemu orang orang ambisius yang mendambakan chip Kurcil. Pe ingin mengakhiri semuanya, tak apa berkorban sedikit demi menyelasaikan permasalahan yang berbelit menghantui ketenangan nya serta semua orang, agar tidak terus menganak dan menganak lagi.
__ADS_1
" Kurcil, sebentar lagi kita dipertemukan 'akar' permasalahan kita," Pelangi tersenyum devil. Dia sebenarnya tidak sekedar membantu Guntur, melainkan menyelesaikan misi teamnya sendiri.