
Brak... Pe masih saja mengamuk tidak jelas di tangga emergency tersebut. Dia geram sendiri karena tak kunjung menemukan tombol non-aktifnya.
"Jangan sampai waktu obat anti nyeri ini, hilang efeknya dari tubuhku sebelum membunuh Belen." Pe berucap resah sendiri.
Sedang Topan, dia lebih sabar dan teliti untuk mencari tombol non-aktif laser yang masih saja membentang kusut di tangga lain. Seluruh tembok pun dia raba raba begitu teliti, tanpa terkecuali. Semua, dia sudah seperti cicak yang merayapi tembok.
Di bagian penjara. Guntur yang berkeliling sedari tadi untuk mencari Mommy-nya, kini akhirnya menemukan sosok wanita yang sangat tidak terawat. Hancurlah hati seorang anak bila mana melihat orang tuanya berpenampilan bak menyerupai orang gila...
Rambut panjang kusut, mata terlihat kosong, dengan tubuh itu sangat kurus sekali. Miris, Guntur ingin sekali menangis. Tetapi, dia mengingat kalau ini bukanlah waktunya untuk menangis cengeng.
"Matin..." batin Guntur menahan kegeramannya, dengan gigi itu beradu saking marahnya.
"Mom...Mommy!" seru Guntur yang sudah membuka jeruji tersebut. Dia juga sudah berlutut di hadapan wanita yang sudah melahirkannya.
Lantas, wanita paruh baya tersebut menatap lurus anak muda dihadapannya, dengan tatapan seakan-akan ingin mengenali wajah itu.
"Gu-Guntur? kamu Guntur?" lirih wanita itu dengan nada bergetar. Guntur mengangguk, matanya ternyata mengkhianatinya.... karena, air bening itu jatuh sendiri dengan perasaan teriris amat sakit, melihat betapa tersiksanya sang Mommy selama menjadi tahanan Matin.
"Anakku? Guntur anak ku?" Wanita itu masih ragu untuk mempercayai kenyataannya, takut takut hanyalah sebuah mimpi seperti pada malam malam sebelumnya.
Ingin mengetes, tangannya bergerak getar untuk meraba wajah Guntur.
"Ini anak mu, Mom." Guntur menyambut tangan itu, lalu membantu tangan sang Mommy agar cepat meraba-raba wajahnya yang memang sudah merindukan sentuhan hangat orang tuanya.
"Iya. Ini benar anakku!" Sang Mommy segera memeluk erat Guntur tanpa ingin beranjak dari lantai dingin tersebut. Mereka melepas kerinduan masing masing dengan air mata saling menetes di dalam dekapan itu.
Tersadar, kalau waktu masih dalam kegentingan. Guntur pun merenggangkan pelukannya. Lalu berkata cepat, "Mom, ayo kita segera pergi dari sini!"
Tanpa menunggu jawaban, Guntur segera menggendong orang tuanya. Mencari jalan keluar yang aman bagi keselamatan sang Mommy.
Di lorong, tepat Guntur akan berbelok. Dibi pun sedang berada di tempat tersebut yang tidak sengaja menemukan Xian dari salah satu penjara.
__ADS_1
" Kurcil! adakah yang bisa membantu ku mengevakuasi Gerhana? chip sudah aman bersamaku. Tolong, salah satu dari kalian datang ke ruang medis lantai dua, sebelah selatan."
Suara Badai terdengar dari earphone. Embun juga sudah tidak bersamanya, karena wanita itu sudah pergi tanpa permisi padanya semenit pembedahan Gerhana telah berhasil.
Tidak ada yang menyahut permintaan Badai, karena pada sibuk dengan senjata pembantaian masing masing. Topan pun kebetulan earphonenya itu sedang jatuh dari telinganya.
Dibi yang mendengar itu, mengambil tindakan untuk membantu Badai. Niat awalnya masuk ke dalam markas untuk mencari Pe yang sudah berjanji melindungi gadis keras kepala itu. Tetapi, Badai lebih membutuhkan bantuan.
"Aku datang," singkat Dibi menyahut seraya menatap Xian yang memang harus mempertemukan Gerhana ke orang tuanya.
Badai pun bernafas lega dibalik earphonenya yang mendapat sahutan dari orang yang tepat.
"Kita harus mengevakuasi Gerhana sekarang juga. Itu tandanya kita akan pergi terlebih dahulu dari pulau ini, Tuan." Terang Dibi ke Xian.
"Tapi, aku ingin membunuh Jerry!" Xian bimbang, dia ingin segera menemui anaknya dan pergi dari tempat bahaya ini. Namun disisi lain, dendamnya ke Jerry amat mendarah daging.
"Jerry akan mati! Percayakan kematian tikus tikus itu pada anak anak didikmu, Tuan Xian. Saya yakin, Anda pasti masih ingat semua betapa kejamnya mereka, bila mana sudah disenggol duluan," terang Dibi. Xian pun mengerti dalam diamnya. Mantan murid-murid club Muay Thai-nya memang bukan anak anak biasa pada umumnya, Xian mengakui Kurcil.
Tepat akan berbelok, Dibi mendengar langkah dari arah lain. Dia pikir itu adalah musuh, sehingga sudah ancang-ancang mempersiapkan senjatanya. Xian yang berada dibelakang Dibi pun reflek terhenti.
"Kamu?" tanya Dibi yang tidak pernah bertemu sekali pun dengan Guntur. Dibi curiganya, kalau orang yang akan ditembaknya itu bukanlah musuh, karena ada seorang wanita paruh baya yang terlihat menyedihkan kondisinya yang berada digendongan pria tesebut.
"Aku bukan musuh Kurcil," terang Guntur.
"Lantas, siapa?"
"Guntur! Teman Pe."
"Oh, jadi kamu orangnya," datar Dibi seraya menurunkan senjatanya.
Sadangkan, Xian-lah yang melototkan matanya, terkejut. "Jadi Andalah yang dulu menginginkan chip itu juga?"
__ADS_1
"Ya...aku orangnya, itu karena keterpaksaan. Demi penebusan wanita ini yang tak lain adalah Mommy-ku. Maaf, saya sedang buru buru. Ingin menaruh Mommy-ku ke tempat aman terlebih dahulu."
Guntur segera ingin beranjak pergi, namun ditahan oleh Xian.
"Aku tau jalan rahasia disini yang akan mengantar kita langsung ke kapal selam milik mereka. Kalau kamu ingin mengevakuasi Mommy-mu tanpa ada hadangan dari mereka, maka tunggu kami disini. Kami ingin mengevakuasi Gerhana juga," jelas Xian seraya mata itu menggerlya waspada. Takut masih ada anak buah Jerry yang berkeliaran di area penjara tersebut.
Guntur yang tidak ada pilihan lain lagi kecuali ikut saran Xian, hanya mengangguk setuju demi keselamatan Mommy-nya.
Setelah bergerak cepat, Dibi dan Xian pun akhirnya sampai di ruangan yang dimaksud Badai.
"Xian?" Badai terkejut hebat. Dia mencoba meyakinkan matanya kalau pria yang sudah berubah kurus itu adalah Xian. Orang yang sudah membuat awal kericuhan dalam hidup Kurcil.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, Dai! Tapi, percaya sama kak Dibi, dia tidak lah jahat yang selama ini kalian pikirkan." Dibi membela Xian, karena pria tua itu sudah menceritakan awal nekatnya untuk mengambil chip itu dari tangan Topan.
"Cepat cari Pe, aku khawatir kepadanya. Urusan Gerhana dan Xian serahkan kepada ku." Lanjut Dibi karena Badai masih saja memancarkan mata singanya ke Xian yang hanya menunduk malu, pasrah mau di apakan oleh para mantan murid muridnya nanti.
"Tahan Xian untuk Kurcil!" Badai memberi peringatan ke Dibi sebelum akhirnya dia pergi menuju rooftop menyusul kembarannya.
Dan akhirnya keselamatan Gerhana yang belum sadar pasca pembedahan pun sudah aman, yang telah di bawah Dibi dan Xian menggunakan kapal selam. Xian benar, dia mengetahui jalan bawah tanah yang menghubungkan ke suatu tempat, di mana ada terdapat beberapa kapal selam.
Mommy Guntur pun ada pada tanggung jawab Dibi. Sementara Guntur lebih memilih untuk tinggal, demi ingin membuat pelajaran ke Matin.
Di sisi Pe, gadis yang menggebu gebu dalam kemarahan itu. Kini, menemukan tombol non-aktifnya.
"Ternyata kalian picik juga," Pe menyeringai devil seraya menekan sebuah tombol kecil yang menempel rata pada pintu baja emergency tersebut.
"Aku datang, Belen!"
Pe segera berlari melewati tangga yang sudah aman. Membuka pintu rooftop, dan terlihat tiga orang di sudut rooftop masing-masing yang masih mengoperasikan basokanya tertuju ke bawah sana.
Blusss...Blusss... Blusss...
__ADS_1
Tiga anak pisau, Pe lemparkan ke arah tangan masing-masing musuhnya. Sehingga menyebabkan Belen cs melolong dengan senjata peledak itu kompak terjatuh.
" Hai! kita berjumpa lagi!" Pe menyapa ejek dengan nada seperti anak kecil, akan keterkejutan tiga kepala yang melongo melihat kedatangannya.