Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Gadis Sepuluh M


__ADS_3

"Namanya___"


"Hey, Mbun!"


Embun terjeda yang ingin menyebut nama Pelangi. Terperanjat kaget karena pukulan tangan kecil seorang pria yang baru tiba menepuk pundaknya.


"Sialan!" Dengus Embun memutar matanya malas ke pria yang dia tidak sukai. Dia pun lupa seketika apa yang barusan dia akan sebutkan ke Badai.


"Bagaimana kalau kita turun ke lantai dansa, Cantik? Dari pada di sini sangat membosankan." Pria itu menatap tidak suka ke Badai. Ia menarik tangan Embun sedikit paksa. Tatapannya sangat mendambah ke gadis semampai yang berkulit manis itu.... Sangat indah bila mana di bawah ke ranjang.


Badai jelas tau itu tatapan pemangsa, tapi dia cukup menonton saat ini, toh... siapa wanita itu? Nama saja dia tidak tahu, kenapa harus peduli. Setiap pengunjung pasti sudah tau bukan dampaknya yang berani masuk ke club. Banyak perempuan yang masuk keruangan ini tapi keluar-keluar sudah berganti wanita, bukan gadis lagi.


"Apaan sih, Fano! aku tidak mau, ah!" Embun menarik kuat tangannya dari pria yang masih kekeuh untuk mengajaknya pergi. Bibirnya jadi cemberut.


"Ah, ternyata kamu sudah mabuk, Embun! Aku akan membawa mu pulang saja, di sini sangat banyak buaya yang siap melahap mu hidup hidup." Lagi, Pria itu menatap sinis Badai saat kata buaya. Badai hanya mendelik santai.


Buaya? Embun mengingat peringatan Guntur jadinya. Itu malah membuatnya jadi gila.


"Aku yang akan melahap buaya itu. Kamu 'kan buayanya? Oh, bukan! kamu lebih pantas dinamai ikan kakap! dan aku sudah memancing ikan kakap rupawan yang tak kalah macho dari dia."


Embun meracau tidak karuan, dia menggila karena alkohol yang membawa logikanya nge-fly. Sekonyong-konyongnya, Badai yang dijulukinya sebagai ikan kakap kini sudah menyerang bibir Badai amat ganas di tengah tengah umum dan juga di hadapan pria yang bernama Fano.


"Embun!"'bentak pria tersebut. Tangannya ingin menarik si seksi dari aktivasi yang membuatnya hareudang. Tapi dalam pagutan itu, Badai sigap menepisnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya dia pegang tengkuk wanita yang membuat libidonya meronta ronta. Pria itu pun pergi dengan hati panas, malam ini dia gagal lagi mendapatkan tubuh Embun dan nasibnya hanya mendapat pelayanan asuhan mucikari yang sudah membosankan sarang buayanya.


"Uh, terimakasih, Bung! bibir mu ternyata manis."


Embun terlepas dari pagutan yang dimulainya sendiri. Dia sebenarnya tidaklah begitu mabuk, hingga sedikit sadar dari kelakuan lancangnya. Demi terhindar dari si pemaksa Fano, dia sampai menjadikan Badai ikan kakapnya.


Namun sialnya, kenapa Badailah yang menatapnya seperti mangsa yang siap menerkamnya. Masalah ini mah! masalah!

__ADS_1


Embun jadi kicep. Eh, tapi tunggu...Dia adalah Embun! masa begitu saja takut...Oh, tidak bisa! tidak ada yang boleh mengintimidasinya sampai kicep, tidak terkecuali pria bidadara dihadapannya. Big No!


"Kamu sudah memancing ikan kakap ini, maka ikut aku! Tarifnya bisa dibicarakan nanti." Di bawah sana entah kenapa, Badai merasakan alat tempurnya menegang begitu saja.


"Dengan senang hati, tapi maaf! aku tidak mau dibayar belakangan, aku maunya sekarang juga dan harga tarif ku.... Satu malam sebesar 2 M."


Embun bernegosiasi, dia pikir Badai akan mangap-mangap mendengar tarif pelayanannya yang mungkin laki laki ini telah menganggapnya sebagai anak asuhan mucikarinya club ini. Hm...Maam tuh harga mahal! malu deh ketahuan tidak punya uang.


"Jangankan dua M, aku bisa membayarmu lebih dari itu bila mana kamu masih virgin, tapi oh... itu mustahil. Mana ada anak mucikari yang masih bersegel. Teori tai kucing kalau mau mengaku masih perawan."


Mata Embun membulat, ternyata lakik ini punya uang banyak?


Dan Beeeh, Si kakap minta pembuktian rupanya, pedas juga mulut pria ini, batinnya menyeringai. Sebelum menjawab kesarkasan Badai, Embun menarik botol minumannya dan main tenggak amat kasar hingga sedikit menyebabkan tenggorokannya terbakar. Badai pun ikut menghabiskan seluruh minumannya hingga keduanya kini benar benar merasakan fly itu seperti apa. Enteng dan tidak tahu racauan yang sudah melampaui batasan keluar dari logika mereka.


"Ayo, aku akan membuktikan kalau ada lont* yang masih bersegel."


Embun yang malah bar bar agresif di sini. Masalah sakit hatinya kini telah menguap karena mabuk seutuhnya. Seraya sempoyongan, dia menarik tangan Badai menuju kamar VVIP yang memang disewakan di dalam Club. Satu petugas club yang telah mengantar mereka.


Embun segera saja mendorong Badai hingga terduduk di kasur setelah mereka sampai di kamar.


Badai hanya diam dengan mata mendelik memperhatikan body goals Embun yang memang ehm meningkatkan gairah kelakian setiap pria yang melihatnya.


"2 M tidak cukup bagiku, Bung! sangat rugi bagi keperawanan ku yang aku jagah untuk Guntur."


Tunggu dulu? apakah Badai hanya mabuk sehingga mendengar nama Guntur dari wanita asing ini? rupanya memang karena hanya mabuk saja. Dia mengabaikan itu.


"So...Lima M! berikan sekarang juga!" Tantang Embun seraya tangan itu menangada ke Badai yang cengong mendengar harga seorang wanita sebanyak itu. Tapi tak masalah, demi menghilangkan kekalutannya, dia akan membeli wanita ini. Tapi awas saja tidak memuaskan kelakiannya, Badai akan memutilasi tubuh goals ini menggunakan pisau tajamnya.


Badai pun bangkit dari duduknya, memutari pelan tubuh Embun dan berhenti tepat di belakang tubuh Embun.

__ADS_1


"10 M, tapi dengan catatan kamu benar-benar perawan bukan hanya tipu tipu menggeretak aku yang mungkin kamu kira aku tidak sanggup memberikan uang banyak itu, Nona! Lakukan tugas mu sekarang juga."


Gleek...


Hembusan nafas Badai yang berbisik tepat di telinganya, mampu menyentuh sisi sensitif Embun. Apalagi Badai langsung menurunkan zipper dress bagian belakangnya hingga separuh punggungnya terekspos. Tangan Badai juga reflek meraba punggung itu dengan pergerakan lembut, hingga.... seluruh bulu bulu halus Embun serasa merinding tidak karuan. Bibirnya pun dia gigit kecil ketika bibir Badai mengecup demi kecup kulit punggungnya di belakang sana.


Keduanya menggila karena efek logika yang sudah di kuasai alkohol.


"Menarilah! aku tidak mau pelayanan 10 M hanya sekedar mendesaaah di bawah kungkunganku, itu kurang memuaskan."


Breeek...


Dengan sadis, Badai main melepaskan benang Embun secara kasar sehingga dress cantik seksi itu tidak hanya terbelah sampai di paha, melainkan menjadi dua yang sudah teronggok di lantai.


Hanya pembungkus kecil yang saat ini membalut tubuh inti Embun. Itu sudah berhasil membuat Badai mengecap lidahnya karena gairahnya sudah di atas ubun. Dia tidak menyangka, pelampiasan kemarahannya terhadap masalahnya akan berakhir di ranjang bersama wanita asing yang lekuk tubuhnya memang menggairahkan.


"Menari? Oh, ok... selain penembak handal aku juga suka balet."


Nyatanya, Embun tidaklah menari balet seperti racauannya, dia malah melingkarkan tangannya dileher Badai, hingga kulitnya yang setengah polos tidak sanggup untuk Badai tahan sengatannya.


Kini, tangan Badai bertengger penuh gairah di kedua pinggang ramping itu, mereka berdansa kecil seraya saling bertukar saliva, membelit satu sama lain, hingga keduanya lupa diri yang memang sudah mabuk bersama.


Setelah nafas terasa menipis karena ciuman panas, Badai mendorong kecil Embun, lalu bersuara. "Aku ingin melihat mu menari striptis untukku."


"Oh, dengan senang hati."


Embun menari sensual seraya melepaskan satu persatu pembungkus kecilnya hingga benar-benar *naked....


Kabur*...

__ADS_1


Notes; wik wik nya mau dijabarkan atau di skip... klw scane wik wik, aku tergantung para readers...🙈🤪 komen di bawah, kuy! kabur dulu.... eh gantung lagi maksudnya🤣


Ada readers di bawah umur nggak ya di sini?😜


__ADS_2