
Di pagi hari, Vay sayup sayup seperti mendengar suara burung berkicauan di dalam kamarnya. Tapi tunggu dulu, sejak kapan dia punya burung? hadeeh, mimpi ini mah.
Mata itu pun mengerjap beberapa kali demi melaraskan cahaya alami alam yang mengintip masuk ke sela gorden. Aroma segar khas parfum laki pun yang amat tajam menghunus hidungnya, menggangunya.
Tidak perlu mendelik, sudah sangat khatam aroma cengkeh bercampur musk itu adalah milik wewangian Petir. Apa? Petir? itu tandanya dia dan Petir semalaman....?
"Selamat pagi, Vay. Ayo bangun, ini uda jam tujuh pagi lho. Tidak baik anak gadis bangunnya siang siang. Oops sorry, lo kan bukan perawan lagi ya, jadi bukan gadis lagi. Gue ulang ya. Tidak baik anak perempuan bangunnya siang bolong."
Seratus persen nyawa Vay langsung terkumpul dari tidurnya. Terlihat, Petir sudah duduk tampan di sofa dengan mata tak mau lepas dari penampilannya. Astaga, keadaan sekitar tempat tidur seperti terkena angin badai... acak acakan! itu tandanya semalam mereka bergulat liar? Penampilannya? Shiiiit, acak acakan juga. Itu tandanya lagi, semua tubuhnya lecet bletekek dong. Tetapi, kenapa dia tidak mengingat apa apa sama sekali?
Tadinya, Vay ingin beranjak dari kasur. Tetapi kepalanya berkunang-kunang dan akhirnya duduk di tepi kasur terlebih dahulu. Sejurus, Petir pun sudah ada disisinya.
"Lo kok kagak bangunin gue sih?" Vay kesal melihat Petir yang sudah rapih sementara dia masih berantakan. Tali bathrobe pun kian terikat kencang, takut takut Petir malah minta nambah.
"Karena gue kasihan, Lo tidurnya pulas banget. Wajar sih, lo 'kan ngelayani gue sampai lima ronde."
Mata Vay mendelik horor ke Petir. Apakah benar demikian? OMG, seluruh tubuhnya sudah di grayangin dong. Aaargh, Vay menjerit dalam hati. Iya yakin, wajahnya kini sangat merah karena rasa panas tubuhnya terasa mengepul di telinganya.
"Lima ronde? emangnya lo seperkasa itu? cih!" Vay berdecih. Kesal dengan kepedean Petir.
" Emang iya! Jangan bilang lo lupa lagi kalau kita sudah melewati malam panas kita, bahkan kamu meracau terus minta nambah dengan desa-h*n yang menggema menggairahkan, uhh... mantap!" Goda Petir lagi. Sungguh, Vay adalah moodboaster nya. Sangat menggemaskan baginya.
Vay speechless, berpikir keras. Pasti Petir berhasil menguasainya karena mencekoknya sesuatu. Huu... memang curang si penjahat kelami-nn ini. Dasar!
"Oke, agar otak lo ingat lagi. Gue segerin deh kalau kita semalam itu memakai macam macam gaya. Dan gaya kita di mulai dari konvensional, terus women on top bin lo yang bergoyang di atas gue. Lanjut lagi kita pakai gaya missionary, dogg*-style, terus split bahkan sampai kayang pun. Bagaimana, ingat belum?"
Petir nyaris ingin tertawa ketika Vay mengerutkan keningnya mencoba mengingat kejadian semalam yang pada dasarnya, Petir hanya mengarang.
"Masih belum ingat? Berarti lo juga lupa ukuran juni-or gue yang luar biasa gedenya dong? Juni-or yang sudah muasin lo sampai biji mata lo nyaris ilang menyisahkan putih putihnya doang karena saking enaknya. Uh, sayang banget ya lo lupa itu?"
Petir kembali menggoda Vay. Seru sekali baginya membuat cucu wild flower ini nyaris kehilangan kata-kata.
"Apa lo bilang? junior lo gede?" Vay melirik remeh ke arah celana Petir, lalu kembali berpaling karena malu sendiri. " Halah, palingan juga kicik. Junior lo itu cuma SNI doang, reguler rata rata tidak seperti bule bule itu. Kagak percaya gue! Palingan juga gedean juniornya kakek Sugiono yang dari Jepang itu. Dan ah..." Vay mengangkat tangannya di depan wajah Petir yang ingin menyelanya. Kode agar si kilat diam dulu. Padahal hidung Petir sudah kempas kempis karena tersulut.
__ADS_1
" Gue belum selesai ngomong tentang junior lo yang Lo banggain itu. Dedek lo itu pasti imut imut bin mungil, cuma cukup buat geli geli kuping doangan ketika masih turn off, dan saat sedang On, gue yakin... dedek lo itu cuma sependek jari kelingking." Kata Vay pedas dengan hinaannya.
Memang enak gue sentil ego lo! batinnya.
Vay jadi ingat kata-kata si Angkasa. Yang berbunyi... Kalau kaum cewek ingin mensentil ego laki laki, cukup lo bahas dedeknya saja dengan untaian begini.... duh, dedek lo kok imut imut kayak marmut deh, gemesin.
Dan betul juga si Twins, kini Petir sudah merubah raut wajahnya yang kagak terima juniornya di anggap sebelah mata. Hancur remuk harga dirinya, coeg.
"Kalau begitu, mari kita buktikan keampuhan junior yang lo katain cukup buat geli gelian kuping doang. Padahal semalam kan uda, tetapi berhubung lo kagak ingat, kita ulang sekali lagi pertempuran kita di pagi yang cerah ini."
Alamak... Vay jadi merinding lagi, menyadari Petir sudah mengeluarkan sisi Dajjal-nya. Bahkan Petir sudah berdiri yang mau melepaskan celananya.
"Kalau lo sampai jamah gue dua kali ini, kita perang antara hidup dan mati yang menentukan." Ancam Vay. Semalam dia menjadi kelinci manis karena memang merasa kalah taruhan. Tetapi hari ini perjanjian duel sudah sirna. Kagak terimalah mau di unboxing ke dua kalinya.
"Kalau gue kalah dan menjadi mayat karena pertempuran lo yang menang, baru lo boleh menjamah mayat gue, sialan!" Vay berketus ria. Dia memang menyarkas. Tetapi, hanya mulut doang yang pedas, Vay kabur menciut menuju kamar mandi karena Petir terus saja melepaskan benangnya satu persatu. Dari pada diperkaos, mending kabur...iye kan? cukup satu malam dia merasa bodoh mau di perkasa oleh si Petir.
...*****...
Bugh bugh buhg...
Vay mengamuk tidak jelas, dia masuk ke pelatihan Ama dan Lautan yang sedang mengadu kekuatan.
Syukurnya, Ama dan Lautan sigap menangkis tendangan demi tendangan Vay yang tetiba menyerang mereka.
"Vay." Pekik Ama. Lautan pun bingung yang saat ini Vay melayangkan jab straight-nya. Lautan kembali menangkis serangan itu.
"Kita latihan! jangan sungkan-sungkan untuk memukul gue."
Vay mundur satu langkah dari kuda kudanya. Sejenak dia melepaskan jaket kulitnya terlebih dahulu. Lalu kembali mengepalkan tangannya untuk mengambil posisi kuat di hadapan Ama dan Lautan yang malah saling lirik tidak mau menjabanin nya.
"Elaaah Vay! apa inti lo kagak sakit, eum? bukannya semalam habis wik wik sama Petir. Kagak takut apa itu lho nambah robek bin perih kesakitan kalau langsung dibuat bertarung melawan kami berdua?"
Ama malah menggoda, dia menunjuk bagian inti tubuh Vay saat berkata wik wik. Sementara Lautan melototkan mata, baru tahu kalau kakaknya dan Vay sedang ada affair. Para Kurcil terkhusus anggota Pria memang tidak tahu hasil duel antara Vay dan Petir.... Oh, ranjang! batin Lautan menggeleng geleng bodoh.
__ADS_1
"Bacot Lo pedas juga, Ama. Dan apa kata lo, Sakit?"
Vay yang kudet tentang bau bau ranjang baru sadar. Bukannya kata orang orang itu, kalau pertama kali di bobol rasa perihnya naudzubillah? tapi kenapa dia tidak merasakan apa-apa?
"Kok tertegun? jadi nggak nih kita latihan satu lawan duanya?" tanya Ama tersenyum geli akan wajah Vay yang terlihat bodoh.
"Tunggu, ya! Sebentar! aku mau coba memastikan, apakah sakit?"
Dengan kepolosannya. Vay membuat gerakan salto di udara dan hebatnya mendarat sempurna. " Eh, nggak sakit kok." katanya kemudian.
Ama dan Lautan dibuat melongo dengan tingkah konyol Vay.
Masih penasaran, Vay melakukan aksi dengan berposisi kayang hingga tubuh luntur itu berlekuk sempurna kebelakang.
"Nggak sakit kok, Ama!" riang Vay. Ama dan Lautan masih bungkam soal keanehan Vay.
"Kalau begini, apakah sakit?" Suara tersebut adalah Petir yang memang setia mengikuti Vay sampai keruangan pelatihan. Dia gemas melihat kekonyolan Vay dari jauh. Dengan itu, Petir mendekat, lalu menendang pelan satu kaki Vay yang sedang berposisi kayang.
Gedubrak...
"Awwww, Petir kutu kupret."
Hahahaha... Ama dan Lautan malah tertawa melihat Vay terpekik di atas lantai itu.
Petir sendiri seketika berlalu santai, setelah menjahili Vay.
"Gue kagak mau temenan lagi sama Lo." Pekik Vay kepunggung Petir.
"Tak apa, yang penting mau jadi istri gue, kan kecebong gue sudah berenang renang ceria di dalam rahim lo, Sayang." Sahut Petir tanpa berbalik.
"Huawaaa, gue kalah telak!"
Vay kejer, saking kesalnya dia nangis guling guling yang memang sedari tadi terbaring di lantai.
__ADS_1