Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Ikatan Batin


__ADS_3

Perubahan cuaca tidak menentu. Tadi begitu panas, seakan-akan matahari terasa tepat di atas kepala. Namun menit ini, hujan tetiba turun di sertai suara alam yang mengerikan. Apakah badai akan menerpa? angin deras, petir dan guntur saling bersahutan, hingga guruh amat terdengar nyaring memekikkan telinga yang berada di luar ruangan.


Deg....


Jantung Topan dan Badai tetiba merasakan detakan sakit yang tidak menentu, yang berada di tempat berbeda dari kesibukan masing-masing pun.


Ada apa ini? batin mereka berdua, tanpa saling janjian pun, Badai dan Topan menekan dadanya, kompak.


"Maaf, aku duluan. Maaf sekali lagi, seminar ini aku tinggal di tengah pembahasan," bisik Badai ke salah satu rekannya yang sama sama berprofesi Dokter bedah.


Sang teman hanya mengangguk.


Sementara di sisi Topan. Ckiit...


Topan yang sedang berkemudi dengan Gerhana di sisi kemudi, tetiba menginjak pedal remnya secara mendadak membuat dahi Gerhana terbentur ke dashboard mobil.


"Awww!" ringis gadis itu dengan tangan reflek mengelus dahinya yang berdenyut sakit.


"Maaf," lirih Topan. Tangan kanannya masih menekan dadanya di mana detak jantungnya terasa memompa dua kali. Bukan karena merasakan debaran cinta, tapi sebaliknya dari itu.


"Kenapa berhenti?" tanya Gerhana. " Hah, roman akan gagal lagi untuk kabur. batinnya mendengus kesal. Mana di luar hujannya ngeri amat untuk di lihat.


Hening dari Topan karena sibuk bertanya tanya sendiri... Adakah sesuatu yang terjadi kepada Badai? atau Pelangi? atau ke Kurcil lainnya?


"Topan, ayo lanjutkan perjalanan." Gerhana memukul kecil bahu itu bermaksud untuk menyadarkan Topan yang terlihat aneh.


"Kita pulang, cuaca tidak menentu untuk jalan-jalan, lagian semua orang takut sekedar jalan jalan dengan cuaca mengerikan seperti ini." Tandas Topan dan segera membelokkan setir mobilnya ke jalan pulang lagi.


Gerhana hanya pasrah dan memilih menzipper mulutnya rapat rapat, namun bibir itu cemberut akut. Apa boleh buat, rencana kaburnya gagal lagi.


"Kamu jelas tahu, di luar hujan deras. Maka jangan bermain handphone." Gerhana merebut gawai Topan yang tadinya mau menelpon kedua kembarannya.


"Na! balikin!" bentak Topan mendelik tajam. Gerhana yang dibentak seperti itu, menjadi mellow. Padahal niatnya baik, mereka tidak mau terkena petir karena radiasi ponsel yang sensitif terhadap cahaya alam itu.


"Ambil, dan jangan ngajak aku berbicara lagi." Gerhana mode ngambek. Titik! Dia menaruh kasar gawai itu di atas paha Topan dan segera melipat kedua tangannya masuk ke dada, bersender dan memilih memejamkan matanya di tengah perjalanan.

__ADS_1


Kenapa tiba-tiba hidup aku ada di antara orang-orang asing ini sih? Tapi jujur, walaupun baru baru ini bertemu dengan Kurcil itu, rasanya... ke Topan sudah berasa kenal lama. Apakah sebelumnya kami pernah bertemu? Entahlah, tapi aku mau mode patung.


"Na!" Topan tidak jadi menghubungi Badai dan Pelangi untuk memastikan keadaan mereka.


"Na!" panggil Topan lagi. "Sebelum kita keluar dari markas tadi, apakah kamu melihat Pelangi?"


Gerhana diam membisu.


Topan garuk tengkuk jadinya. Inilah yang dia tidak sukai dari wanita.... baperan uih. Di bentak sedikit aja langsung mode bisu.


Tidak mau memperpanjang masalah, Topan semakin menekan pedal gasnya di atas aspal licin penuh genangan air. Si Simba itu tidak ada takut takutnya dalam berkendara, hanya satu di otaknya saat ini... melihat seluruh Kurcil dalam keadaan baik-baik, apalagi keadaan Pelangi dan Badai yang notabenenya saudara kembarnya.


...****...


"Ah, sial! Lagaknya saja mobil mahal, tapi kebanjiran segini saja sudah mogok," dumel Badai seraya memukul kesal setir mobilnya. Dia terjebak di jalan karena mesin itu tiba tiba mati. Air hujan yang semakin deras membuat pergerakannya terbatas.


"Jalan satu-satunya hanya menelpon__Ah, ini lebih sial lagi! Pakai mati segala dayanya." Badai menaruh kesal gawainya yang tidak berguna saat ini. Dia bingung harus ngapain yang terjebak keadaan.


Hingga, dia memutuskan untuk turun dan membiarkan tubuh berototnya di basahi air hujan.


...****...


Charel-sang asisten kepercayaannya yang tiba duluan menghadap. Gerhana hanya diam memperhatikan sikap Topan yang mudah sekali emosian, padahal tidak ada masalah bukan saat ini?


"Ya, Bos!" sahut Charel. Dan bertepatan dengan itu, enam Kurcil pun bergabung. Topan milirik anggotanya dengan hitungannya dalam hati. Minus Vay, Pelangi dan Badai. Dahi itu pun berkerut tanya.


"Ada apa sih, Pan? berisik amat seperti kucing mau kawin," Petir mendengus kesal. Dia tadi baru memejamkan matanya berniat untuk istrihat karena tubuhnya pegal setelah berduel dengan Vay. Hitung hitung untuk mengembalikan tenaga agar nanti malam rencananya untuk menjerat Vay sempurna sesuai perjanjian duel. Tidur satu malam!


"Ada masalah?" timpal Guruh juga penasaran. Ama dan lainnya lebih memilih tidak bertanya karena Topan sudah mau bersuara tapi di sergah pertanyaan Guruh.


"Vay, Pelangi dan Badai ada di mana?" tanyanya.


"Kak Badai seminar 'kan, Bhum?" Angkasa bertanya memastikan tersebut ke Bhumi. Kembarannya itu mengangguk ke Topan alih alih ke dirinya.


"Vay ada di kamar, istrihat habis unboxing di ring bersama Petir." Terang Ama seraya mendelik ke Petir yang tercengir. Lautan yang masih terngiang-ngiang dengan identitas aslinya yang belum kembali karena kecopetan, hanya diam memperhatikan seperti gaya Gerhana dan Charel...membisu.

__ADS_1


"Pelangi?" tanya Topan.


Tidak ada yang menjawab, hanya mata yang saling lirik lirikan. Hingga ada Miko yang berlalu dengan tergesa-gesa.


Topan dan semuanya dibuat penasaran.


"Eh, Mik! Mau kemana bawa kunci mobil di derasnya hujan begini?" tanya Ama


"Maaf, saya tidak sopan karena main lewat tanpa permisi terlebih dahulu, Bos. Itu karena saya sedang buru buru, tadi Bos Badai mengabari menggunakan telpon umum. Beliau sedang kesusahan minta dijemput karena mobil Bos Badai mogok di tengah jalan," terang Miko amat takzim.


"Tapi keadaannya baik baik saja 'kan?" tanya Topan. Perasaan tidak enak itu kian menjadi-jadi.


"Katanya dia dalam keadaan baik, Bos. Beliau malah mempertanyakan Anda dan mempertanyakan keadaan Nona Pelangi juga Kurcil lainnya. Kalau begitu, saya pamit." Miko segera pergi karena tidak mau terkena semprotan Badai yang mungkin kelamaan menunggu.


"Pelangi ada di kamar deh, Pan. Lihatlah! GPS adik mu ada di sini," Guruh memamerkan jam khusus bersistem miliknya ke Topan.


Wow, bukan jam biasa rupanya. Pantas saja Topan memaksa ku memakai jam miliknya. Sial! kabur pun percuma kalau masih mengenakan jam keren ini. Gerhana diam diam menanggalkan jam tersebut dan melemparnya ke kolom meja.


"Aku akan mengeceknya!" Topan ingin lebih memastikan keberadaan adik nakalnya itu yang selalu berbuat ulah karena ingin diberi kebebasan.


Dan semuanya pun bubar.


Ceklek....


Bibir Topan tersungging lega, ketika matanya di suguhi gundukan panjang di atas kasur, selimut tebal nan lebar pun menghiasi gundukan itu yang dikiranya Pelangi yang sedang tidur kedinginan.


"Sudah tau lagi hujan deras, kamu menyalakan pendingin ruangan sampai fullwave," Topan mengambil remote control itu di sisi bantal yang digunakan tidur oleh gundukan di atas kasur, laku mematikan AC itu.


"Apakah perasaan ku saja, kok adikku jadi panjang tidak berlekuk seperti batang pisang kaku?"


Dengan cepat, Topan menyilak selimut sialan itu dan terlihatlah. "Boneka buaya!"


Ya, sedari tadi Topan berbicara ke boneka buaya yang di sambung bantal guling oleh Pelangi sebelum pergi mencari udara kebebasan untuk sesaat.


"PELANGIIIIII, HAH!!!"

__ADS_1


Teriakan terhakiki Topan, mampu membuat rekannya ngebirit seketika ke asal suara.


__ADS_2