Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Introgasi


__ADS_3

Topan telah sampai di pelataran markasnya. Dia turun dan segera membuka pintu mobil bagian Pe berada. Adiknya itu tidak bergeming.


"Mau apalagi, eum? turun." Kali ini, suara Topan terdengar sangat lembut, membujuk. Sungguh, dia tadi emosi melihat ada laki laki asing yang ingin menyentuh adiknya, hingga berujung memperlakukan Pe amat kasar.


"Aku minta maaf..." Hanya di depan Pelangi Topan bisa merendah seperti saat ini.


"Akan ku maafkan setelah kamu melepaskan rantai tak kasat mata itu di kaki ku lagi," datar Pe. Dia pun akhirnya turun mengabaikan tangan Topan yang menjulur ingin membantunya.


"Keras kepala," lirih Topan. Dia tidak sadar kalau diapun sama saja batunya. Batu di adu dengan batu, jadinya seperti apa?


"Nah, ratu madu sudah datang. Dari mana aja, sob?" Ama segera merangkul pundak Pe ketika sang sahabat membanting bokongnya di sebelah duduknya.


"Habis ngecengin babang-babang."


Pfufufu...


Tawa tertahan kompak terdengar, akan jawaban asal asalan Pelangi yang sengaja mengompori kedua kembarannya. Topan dan Badai kompak membulatkan matanya, Pe hanya menarik bibirnya ke atas.


"Dapat nggak?" Vay ikut menggoda.


"Bagaimana mau dapat! Belum apa apa sudah di gagalkan, padahal aku mau ngajak doi ke hotel." Pe semakin jadi jadi mau membuat Topan kesal.

__ADS_1


"Gila___"


"Jangan ladeni Pe," Topan menyerka Lautan. "Logikanya masih tertinggal di dalam kulkas," sambungnya. Dia tahu Pe sengaja membuatnya kian kesal.


Hahahaha...


Kali ini tawa sudah pecah menertawakan Pe yang di umpati Topan. Hanya Badai yang membisu seraya menatap wajah Pe yang sudah memerah karena kesal.


"Hust, diam!" Sentak Pe. "Kalian___"


Praaang...


Seruan Pe terhenti. Ada suara barang jatuh di dalam ruangan medis. Para Kurcil pun sejenak saling pandang dan seketika beranjak masuk di mana ruangan Gerhana di rawat. Pe yang belum tahu apa apa ikut kepo.


Kok wanita ini ada di mari? Pe hanya membatin bingung seraya menatap Topan yang tatapan saudaranya itu terlihat teduh nan cemas ke gadis yang entah siapa namanya.


"Jangan di lepas, kamu belum pulih." Badai melerai Gerhana, sebagai Dokter dia tidak suka pasiennya seenak jidat main copot alat medisnya.


"Maaf, aku ingin pulang." Gerhana tetap saja menarik selang infus itu.


"Kemana? ke rumah orang tua mu yang pencuri itu, hah? sayangnya sudah jadi abu." Ama berucap cepat. Wajah lugu Gerhana dianggapnya hanya topeng belaka. Dia tidak mau tertipu dengan wajah modelan bunglon. Bapaknya aja pencuri, anaknya pun pasti tak jauh berbeda, bukan?

__ADS_1


Pe sudah paham di sini, tanpa bertanya lagi. Ternyata anak Xian. Hihihi, Topan oleng! Gue kerjain lu! batin Pe. Waktunya pembalasan! Dia tau raut datar Topan sebenarnya hanya pencitraan saja, ada cerita tersembunyi yang di tangkap Pe dari air muka Topan yang berubah ubah. Lihatlah mata si Simba, teduh sekali bila mana tertuju ke wajah pucat wanita di bed itu.


"Abu? Pencuri?" tanya bingung Gerhana. Sungguh, dia tidak paham kata pencuri. Ayah angkatnya ternyata pencuri?


"Ya, kami sudah meledakkannya!" sahut si ratu hacker. "Dan Xian, orang tuamu itu sudah mencuri dari kami!" sambungnya seraya mengikis jarak ke sisi bed Gerhana.


Mata bingung Gerhana tertuju ke Vay yang tersenyum anggun anggun iblis. Gerhana jadi meringis karena aura di ruangan ini amat menakutkan baginya.


Topan masih saja bungkam dengan seribu pertanyaan di otaknya.


"Hm, Gerhana? itu 'kan namamu?"


Gerhana spontan mengangguk akan pertanyaan Petir yang ikut beranjak ke sisi bed-nya. Bahkan Kurcil lainnya pun sudah mengelilinginya, seolah olah mau mengulitinya. Boleh menghilang nggak sih macam jin itu. Ini kok rasanya juga mau pipis karena ketakutan.


Kamar kecil mana?


"Kamu celingukan, mau nyari celah untuk kabur ya?" tandas Bhumi.


Gerhana menggeleng, padahal benar tebakan laki laki berwajah Brownies itu. Selain kebelet buang air kecil, Gerhana pun mau kabur.


"Kalau chipnya tidak ada pada dia, berarti aku bebas menembak kepalanya, kan?" Pe berbisik di sisi telinga Topan. Kakak kembarnya itu seketika menoleh cepat dengan mata melotot. Kena Lu, Pan! Pe benar benar ingin bermain-main tentang prinsip kuat Topan yang selalu mendedikasikan kata pengkhianat tidak boleh di ampuni.

__ADS_1


Ayo, hentikan aku dengan cara smart mu! Pe mengelus elus jam beracun favoritnya di depan mata Topan. Itu kode sebagai senjata untuk Gerhana bila mana introgasi chip sudah selesai dan berakhir zonk maka Gerhana...end.


__ADS_2