Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Berpencar Di Atas Kapal


__ADS_3

Di sisi Pelangi. Saat teamnya sibuk menjalankan misi, dia mencoba berlatih untuk merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena luka tembak membuat gerakankannya sedikit terbatas.


"Ternyata masih nyeri walau sekedar bermain sedikit," katanya sendiri seraya menaruh pedang yang tadinya dibuat untuk berlatih.


Drrrttt....


Suara handphonenya menggema di ruangan tertutup itu. Dia pun mengangkatnya.


"Hem, apa?"


" Beginikah nada mu saat menyapa orang yang pernah menyelamatkanmu, Pe?"


Suara itu adalah milik Guntur.


"Ck, terus bagaimana lagi? oktaf ku memang seperti ini, katakan ada apa? aku lagi sibuk!"


" Bisa bertemu? ada hal penting yang ingin aku sampaikan."


Pe berpikir sejenak, lalu menjawab. " Apakah itu penting sekali? kamu bisa mengatakannya sekarang lewat telepon." Pe tidak mau melanggar peringatan Topan. Apalagi Gerhana ada dibawah perlindungannya, dia tidak mau meninggalkan Gerhana seorang diri. Bahaya!


" Sangat penting! ini tentang Kurcil Smart, Chip, dan Mommy-ku." Guntur blak blakan.


Pe yang mendengar itu, terkesiap. Gawai yang dipegangnya, dipelototi macam musuhnya. Tidak perlu berpikir dua kali lagi, Pe sudah menebak kalau Guntur sudah tau identitas-Kurcil Smart.


" Ku mohon, datanglah! atau aku yang ke markas kalian, aku butuh bantuan mu, Mommy-ku ada dalam jurang kematian."


"Kamu tidak tau markas ku, mana bisa datang kemari, dan soal chip___"


"Gps nomer mu sudah terdeteksi oleh ku!" potong Guntur. "Aku menunggu mu di villa," telaknya.


Tut...


Setelah meminta telak, sambungan di matikan oleh Guntur. Pe yang ingin berkata, di telan kembali.


"Hais, bagaimana ini?" bingung Pe seraya mondar mandir.


Dari arah pintu, Gerhana masuk membawa air mineral sebotol untuk Pe.


"Minum dulu, dan kenapa wajahmu tegang seperti itu, Pe?"


Pe tidak menjawab, melainkan meneguk air tersebut. Setelahnya, melirik Gerhana dengan senyum palsunya. "Aku tidak apa-apa," katanya berkelit.


Gerhana hanya mengangguk kecil. "Oh, ya. Apa Topan dan semuanya sudah ada kabar?"


Kalau Guntur kesini, dan mengetahui chipnya ada di tubuh Nana, dan berujung membawa Nana secara paksa, bahaya dong? aku lagi payah untuk bertarung saat ini. Tidak! aku akan menemuinya saja.


"Pe!" Gerhana menepuk kecil bahu Pe yang melamun. Sang empu bahu terkesiap hingga tangan itu menekan dadanya sendiri.


"Apa? bikin kaget aja, ah." Pe mencibikkan bibirnya.


"Ya maaf, lagian aku nanya eh diam saja__"

__ADS_1


"Aku ada urusan, Na. Sebentar doang sih. Tak apa 'kan, aku tinggal kamu di markas bersama Miko dan lainnya?" Pe berucap cepat mengalahkan angin sepoi-sepoi.


"Pergilah, aku tidak masalah."Gerhana mengijinkan.


"Tapi, janji ya! jangan berani keluar markas, kamu tau sendiri kalau ada musuh yang mengincar mu." Pe sedikit menakuti Gerhana. Dia cemas kalau Gerhana akan kabur.


"Tenang saja, aku juga tidak berani keluar. Pergilah, aku mau istirahat saja, toh di sini aman. Ada Miko dan anak buah Topan lainnya."


Gerhana pun beranjak setelah mengizinkan Pe.


"Pergi! jangan! pergi! jangan! pergi..." Pe menimang nimang keputusannya. Dan akhirnya memilih pergi dari pada Guntur yang memasuki teritorinya.


Setelah memastikan Gerhana sudah tertidur pulas di dalam kamar, Pe melangkah ke arah ruang kontrol. Ada Miko di sana.


"Nona," sapa takzim Miko.


"Mik, aktifkan dua kali lipat penjagaan sistem. Naikkan daya kekuatannya." Mata Pe menggerlya ke seluruh tombol tombol kontrol kekuasan Vay yang membingungkan untuk dipelajari oleh otaknya yang menyukai seni.


"Apa ada masalah, Nona Pe?"


"Tidak, cuma aku mau keluar sebentar. Aku hanya takut ada penyusup. Siaga tidak ada salahnya 'kan? dan ah, tolong jaga Gerhana. Jangan sampai dia kabur."


"Tapi, Non, Nona Pe__ya, main pergi saja!"


Tidak bisa melerai karena dia hanya anak buah yang kudu wajib patuh, Miko pun hanya pasrah. Semua sistem keamanan sudah berlipat ganda, dia juga sudah menyuruh rekannya, untuk berjaga di depan pintu kamar Gerhana.


...****...


Ia curiga kepada enam orang yang mendorong tiga box itu.


"Kalian penyusup ya?" tuduhnya. Dengan mata selediknya menghardik Dibi dan Guruh yang paling depan. Petir dan Lautan di belakang sana, sedikit menggerlya ke sekeliling ruangan kapal, terdapat box box besar yang diyakini isinya adalah obat obat terlarang itu.


"Lihatlah, bro! kami mempunyai ini." Dibi menunjukkan bros JH-nya kepenjaga itu. "Kami anak baru, dan kalau bisa mohon bimbingannya," ujar Dibi merendahkan diri.


Namun sejurus, Kreeekkk, Bugh... anak buah itu sudah terkapar melototkan matanya, ulah Guruh yang bosan untuk berbasa basi. Dia memutar leher korbannya dengan gerakan secepat kilat.


"Ck, kamu membunuh di depan mata polisi." Dibi berdecak lidah. Tetapi dengan santai Guruh segera menarik kaki korbannya masuk kedalam gudang penyimpanan box box.


Semuanya pun beranjak masuk dengan mendorong box box khusus isinya orang.


"Kalau kita berlama-lama hanya sekedar berkucing-kucingan dengan satu penjaga itu, maka yang mati adalah rekan kita. Adik gue bisa kehabisan nafas di dalam box ini, begitu pun dengan Badai dan Topan. Pikir!" cetus Guruh bertutur.


"Oh, iya. Buruan bukain boxnya." Dibi tercengir bodoh. Mau jadi pe-da'i malah dirinya yang dihardik bodoh oleh Guruh, walaupun si anak Gema itu tidak secara langsung menyatakannya.


Huu... IQ gue juga tinggi, tetapi dihadapkan oleh si Kurcil Smart, gue melempem... kalah cepat dalam hal apapun itu. Dibi mengakui itu, tetapi hanya dalam hati. Gengsi coeg kalau terang terangan. Nanti adanya kepala si Kurcil pada besar besar dan melayang. Huu, kagak rela.


Dibi dan Guruh pun membuka box yang isinya manusia.


"Hah! Beri gue nafas buatan... huuhuuhu." Ama segera menghirup udara rakus rakus setelah boxnya dibuka oleh Lautan dan Bhumi.


Topan dan Badai pun demikian.

__ADS_1


"Sini, babe. Gue gratiskan nafas ini," seloroh Lautan dengan bibir dimonyongin ke Ama.


"Nih,"Guruh yang sewot. Dia menaruh kepalannya tepat di bibir Lautan.


"Sialan, tangan lo bau menyan." Lautan menepisnya.


Bodohnya, Guruh penasaran dengan bau itu. "Hoekkk, ini bekas orang tadi yang gue putar kepalanya." Guruh ingin muntah.


Dibi dan lainnya tidak mempedulikan Lautan dan Guruh yang bercek-cok ria. Ama pun demikian.


Mereka hanya sibuk memperhatikan gedung box box kekayaan haram Jerry.


"Astaga, ini banyak sekali!" Bhumi speechless.


"Boleh nyicipin sehisap nggak sih. Gimana rasanya?" seloroh Angkasa. Dapat delikan setan dari semuanya. "Elaaah, bercanda kali," ujarnya cepat seraya tersenyum tanpa dosa.


"Tetapi, membingungkannya! kemana semua anak buah Jerry? bukannya kata Vay mereka banyak?" Heran Badai.


Sejurus ada suara Vay yang terdengar lewat earphone.


" Separuh anak buah Jerry ada di deck atas, dan gudang yang kalian pijaki itu bukan gudang utama, melainkan hanya cadangan. Sebagaian besarnya, box narkoba berada di lantai dua. Di situlah si otot besar berkumpul." Terang Vay. " Mungkin, lima menit dari sekarang kapal akan berlayar."


Sejurus, laporan Vay disertai suara nyaring blast kapal yang memang siap berlayar. Di mata Vay yang masih berada dalam persembunyiannya, dia disuguhi asap kecil yang keluar dari cerobong kapal.


" Selamat berperang, guys! Aku menunggu keselamatan kalian!"


Vay menutup hackernya dan menghubungi Charel yang sedang mengendarai helikopter.


"Waktunya berpencar!" Seru Badai. Dia dan Topan berkerja sama untuk menggapai ruang awak kapal utama dengan bermaksud akan menjadi pengemudi kapal, sesuai baju Nakhoda yang mereka gunakan.


"Oke, setelah plan C sudah terlaksana, kita berkumpul di deck utama. Ingat! deck uta-ma! Jangan sampai ada yang terperangkap oleh bom Ama," Dibi menjelaskan lagi rencana awal mereka.


"Siap," seru dari Kurcil kompak dengan wajah sudah tidak tengil lagi.


"Ambilah, dan bayar nanti setelah misi selasai. Hiks, coklat gue berkurang banyak hari ini."


Ama mendrama seraya membagi bagi bom yang ada diranselnya kepada rekannya, kecuali Badai dan Topan yang cuma kebagian tugas mengemudi kapal saja.


Antara, rela tidak rela coklat khusus buatannya habis banyak untuk meledakkan kapal di tengah lautan nanti. Itulah rencana misi Dibi... Meledakan tanpa sisa barang haram tersebut.


"Tenang saja, Ama cantik. Kak Dibi akan menggantinya dengan uang lima ratus juta eh ralat.. Lima ratus rupiah." ujar Dibi tersenyum tipis.


"Ciih, dapat apaan coba gopean jaman sekarang." Dumel Ama. Dapat kikikan dari rekannya.


Setelah berbagi bom, semuanya pun berpencar untuk menaruh bom bom tersebut ke tempat strategis.


Si Twins selalu setia bersama sama.


Dibi dan Guruh terlihat berjalan santai agar tidak di curigai, yang sudah di lantai dua. Begitupun adik kakak- Petir dan Lautan yang mengambil arah lain.


Dan bom pertama sudah menempel di gudang awal yang mereka pijaki, dari tangan Ama.

__ADS_1


"Uhh, kasihan banget kamu Jerry, aku pastikan... pundi pundi mu yang ini akan terbakar oleh bom ku." Ama menyeringai lebar seraya melirik box berisi narkoba. Dia paling terakhir meninggalkan gudang tersebut dengan membawa tombol sistem yang sudah tersambung settingannya dari bom satu ke bom lainnya. Sekali tekan maka Bill Of Material-nya akan boomm....


__ADS_2