Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Matin is Dead


__ADS_3

Matin yang melihat Guntur, sedikit lega. Pikirnya, ponakannya itu akan berbelas kasih mau menyelamatkannya. Bukannya ada pepatah mengatakan kalau darah lebih kental dengan air. So, seburuk apapun kekakuan kalau keluarganya dalam bahaya maka pasti Guntur akan membantunya.


"Laric, bantu aku, Nak." Matin meminta pilu yang terus saja ngesot mundur menjauhi Topan. Berdiri pun dia sudah tidak berdaya.


Topan yang dasarnya tidak menyukai Guntur, saat ini sudah menatap sinis orang yang ikut campur.


"Aku tidak suka dicegah bila mana sudah berkeinginan." Topan menantang Guntur yang sudah berdiri didepan matanya. Anehnya, Guntur malah tersenyum tipis. Itulah yang dilihat oleh Topan.


"Bunuh saja! Aku sebenarnya ingin membantu, dia sudah menyiksa orang tua ku. Jadi, beri aku kesempatan untuk membunuhnya." Pinta Guntur seraya menatap berani mata elang Topan.


Topan tentu saja tidak mau memberikan mangsanya ke pemburu lain.


Enak saja, Kurcil lainnya aku larang. Kamu datang datang meminta dagingku, batinnya. Namun dia tidak melontarkan keprotesannya secara langsung. Topan hanya menyeringai lain dalam otaknya itu.


Mendengar Guntur, Matin dibuat melotot ketakutan. Ternyata Guntur pun ingin membunuhnya.


"Jangan mendekat!" pekik Matin pada ke dua pria yang kembali mengikis jarak darinya. Sementara dibelakang sana sudah mentok di pembatas rooftop. Matin pun hanya duduk gusar tidak bisa bergerak lagi.


"Mati, kamu!" Guntur mengajukan senjata apinya yang bersebelahan dengan Topan, ke arah jidat Matin.


Lantas...Braaak..


"Jangan bunuh mangsaku!" dingin Topan seraya menendang tangan Guntur hingga senjata pria itu terpental jauh.


Guntur dibuat kaget akan pergerakan Topan yang menyerupai hembusan angin. Sejurus pun, Topan sudah memotong kedua tangan Matin.


Aaaarghhhh, lolongan keras menggema di mulut Matin yang masih punya nyawa. Para Kurcil berikut Guntur dibuat terpaku untuk menonton saja. Erlan pun sudah berkeringat dingin melihat itu dari kejauhan. Tapi tak urung niatnya untuk membunuh Pelangi.

__ADS_1


"Itu ulah kamu yang sudah berani menyentuh kulit Pelangiku." Dingin Topan bersuara. Dan lagi, Sreet...Kaki kanan Matin pun sudah


ditebasanya.


Aaargh...


Belum is dead, Matin kembali terpekik. "Bu-bunuh sa-ja sekarang...." Dari pada disiksa perlahan, Matin lebih baik meminta kematiannya cepat.


"Sayangnya, aku suka akan hal ini..."


Sreeettt...


Kaki kedua Matin sudah terpisah, tubuh lemah itu sudah rubuh ke lantai, tanpa tangan juga tanpa kaki. Namun hebatnya, nafas Matin masih saja berhembus dengan mata lemah itu terlihat berkedip perlahan.


Dalam mata buramnya, Matin melihat Topan sudah berjongkok tepat di sisi kepalanya.


Setelah berbisik santai di telinga Matin, Topan mengambil satu botol kecil dari kantong jaketnya. Membuka hati hati tutup benda kecil itu. Lalu menuangkan zat tersebut masuk kedalam mulut Matin yang pasrah saja karena sudah lemah tak berdaya.


Secepatnya, Topan berdiri dan menjauh dari tubuh yang sebentar lagi akan mencair itu. Dia melewati Guntur yang ingin berjalan santai ke arah Pelangi. Namun terhenti, mundur tiga langkah dan berdiri tepat di sisi kanan Guntur.


"Kalau tidak mau bernasib seperti Matin, maka jauhi Pelangi." Warning keras Topan tanpa mau menoleh ke arah Guntur. Tatapannya hanya tertuju ke arah Pe yang sedang dipapah oleh Vay.


Guntur tidak menjawab, bukan karena takut. Tetapi ini bukanlah waktunya untuk meraih cinta Pe. Ada saatnya, batinnya seraya menatap satu persatu personil Kurcil. Terakhir, dia menatap wajah letih Pe amat lekat lekat. Gadis itu pun menatapnya namun terlihat datar.


"Ayo kita pergi. Dan kamu Ama, jangan lupakan coklat mu untuk meratakan tempat ini."


Ama hanya mengangguk kecil akan titah Topan. Si batu itu sudah berjalan duluan di susul oleh semuanya, kecuali Guntur yang masih terpaku di tempatnya.

__ADS_1


Lantas, Pe yang merasakan Guntur tidak bergeming. Seketika tertahan dan menoleh kebelakang. Jelas Vay pun terhenti karena saat ini dia masih dalam memapah Pe.


"Apa Mommy-mu sudah kamu selamatkan?" tanya Pelangi.


Badai yang mendengar Pe berbicara, seketika pun terhenti. Membiarkan Kurcil lainnya untuk berjalan duluan yang saat ini Topan sudah memimpin cepat menuruni anak tangga pertama. Topan dan lainnya tidak tahu kalau Pe, Badai dan Vay belum ikut serta meninggalkan rooftop.


"Sudah. Maaf dan terimakasih!" jawab Guntur seraya tersenyum manis.


Pe hanya datar, namun sangat dimengerti olehnya akan ungkapan singkat Guntur.


Maaf karena sudah memposisikan dirinya sebagai umpan dan berujung gagal. Itulah yang di tangkap oleh Pe.


"Eum, Maafmu di terima karena kamu sudah membantu kami secara tidak langsung, untuk memunculkan tikus tikus itu, sehingga mungkin rahasia chip itu sudah tidak ada yang mengetahui nya selain kita. So, pergilah dari tempat ini karena sebentar lagi kami akan meledakannya," jelas Pe. Guntur mengangguk paham.


Mendengar akan diledakkan, Erlan semakin memberanikan diri untuk bersiap-siap membidik punggung Pelangi, yang sudah berjalan kembali dipapah oleh Vay untuk menghampiri Badai yang menunggu mereka di dekat pintu rooftop.


Badai yang gerah melihat cara jalan lelet Pe dan Vay karena tubuh kembarannya itu sudah lemah, Badai pun memutuskan untuk berjalan ke arah dua wanita rekannya. Berniat untuk mengendong Pe saja.


Namun...


"Pe, Vay...awas!!!" pekik Badai yang tidak sengaja matanya melihat bayangan orang yang sedang mengacungkan senjata.


Dor...


Terlambat...


...****...

__ADS_1


Hais, gantung lagi ðŸĪŠðŸ™ˆ Hayo... tebak tebakan guys, siapa yang tertembak? siapa yang mati? dan siapa juga yang membunuh Erlan? siapa... siapa, siapa, siapa ðŸĪ”ðŸĪĢ🙏 Dan ohya...Si Embun kemana? Akan muncul di bab selanjutnya... Yuk ah, RL dulu....kerja kerja kerja...


__ADS_2