Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Tugas Topan Semata


__ADS_3

"Ok, jadi penjabarannya adalah...." pointer layar Badai semakin menzoom benda asing yang tertanam di lengan kiri Gerhana. Vay menyeringai dengan mata memicing ke tangkapan CT scan Badai. Ada hal menarik yang dia tangkap dari jaringan lapisan chip itu.


"Ini, bagian ini adalah jaringan buatan ilmuwan khusus yang merupai lapisan dalam kulit manusia. Orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu telah melapisi chip kita amat apik, lalu menanamnya di dalam lengan Nana. Jadi itulah kenapa benda asing atau chip kita tidak di deteksi antigen tubuh Nana secara otomatis," terang Badai, tanpa menggunakan bahasa medis agar para rekannya lebih mudah memahaminya.


"Hebat juga pelakunya," Topan mengakui itu. Di angguk setuju oleh teamnya.


"Tunggu apalagi, ayo kita bedah lengan Nana. Selasai masalah." Ide Pe seketika diberi gelengan kompak oleh Vay dan Badai. Jelas, membuat tanya di otak kepala orang di ruangan itu.


"Tidak semudah itu," ungkap Badai.


"Jaringan pelapis itu telah disambungkan alat GPS yang seketika tersambung kepihak tertentu, kalau kita mengeksikuisinya maka siap-siaplah kita terdeteksi oleh musuh secara bergerombolan dari sisi berlawanan. Premisku mengatakan, ada pelaku yang ingin bermain-main dengan kita. Dan mungkin saja itu Xian sendiri, atau Xian-Xian jahat lainnya. Masih abu-abu pelaku sialan itu." terang Vay. Hanya mata telanjang, dia sudah bisa menebak adanya permainan teknologi yang melapisi chip mereka.

__ADS_1


"Ayolah, Xian udah mati__"


"Kita tidak melihat jasadnya, little boy." serga Guruh akan keluhan Angkasa.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?" bingung Bhumi.


"Kita tidak harus melakukan apapun. Untuk sementara, chip itu aman di dalam tubuh Nana. Saat ini, kita hanya perlu menjaga Nana dari organisasi manapun yang sudah mengetahui kecanggihan zat kimia racikan kita. Setelah punya kesempatan bagus, baru kita bertindak untuk membedah lengan Nana." tandas Topan, final.


"Kita tidak perlu turun tangan dong ya untuk menjaga Nana. Secara kamu-Topan, pasti sanggup melakukannya. Sekali merengkuh dayung, dua tiga bahkan sepuluh pulau terlampaui, buatmu." Pe berambigu.


"Tidak bisa begitu__"

__ADS_1


"Ok, jadi pembahasan selesai." Petir secepatnya memotong keprotesan Topan yang nampak tidak setuju. Dia dan Pe secara tidak langsung mempunyai otak bercabang. Namun beda kategori... Petir ingin mempunyai banyak waktu untuk merebut hati si Neng Bule, sementara Pe ingin bebas sejenak dari keposesifan kembarannya. Kalau Topan sibuk bersama Gerhana, maka bebas sudah kakinya dari rantai tak kasat mata itu. Badai? bisa diaturlah walaupun hanya sedikit kemungkinan, Pikir Pe.


Kamu penerang kebebasanku, Nana. Batin Pe segera beranjak keluar dari ruangan itu. Bibirnya tersenyum jumawa disela langkah indahnya.


Bukan hanya Pe yang meninggal ruangan, melainkan semuanya meninggalkan Topan yang cengong bak orang bodoh.


"Besok kita berduel, Neng Bule!"' Petir memastikan tantangannya yang sempat disetujui bersama.


"Siapa takut! Nanti kita bicarakan taruhannya." setuju Vay tidak pikir panjang. Dia tidak sadar akan ditipu muslihat oleh anak Senja yang mempunyai otak licik mendarah daging keturunan itu...Chris-Dewa Opa-Opanya, Langit-Senja selaku orang tuanya, mempunyai otak licik semua. Otomatis buahnya pun ikut licik-licik cerdik. Bila dia sudah berkeinginan maka gunung es pun akan ditempuh oleh Petir sampai salju mencair melicinkan jalannya, tetap... tidak akan menyerah.


"Hais, kalian meninggalkanku tanpa tahu harus berbuat apa di sini! Badai, kamu temani aku saja." Panggil Topan. Badai mengangkat tangannya tanpa menoleh ke belakang, cuek.

__ADS_1


"Menyebalkan!" Dumel Topan. Pasrah, dia pun menunggu orang yang masih setia tertidur pulas di atas bed.


"Aku yakin, kamu pasti mengalami hal buruk saat berada di dekat Xian. Dia bukan orang baik Nana, Orang tua angkat mu hanya memanfaatkan mu." Topan berbicara sendiri.


__ADS_2