Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Terganggu


__ADS_3

Rencana tinggal rencana, perburuan misi Dibi hari ini dibatalkan.


Menurut info dari anak buah Topan, penyelundupan BD cimeng terlarang yang akan dikirim besar besaran melalui kapal, diundur waktunya karena hujan badai memperburuk.


Hingga akhirnya, Topan pun memasuki kamarnya untuk istirahat lebih awal. Begitu pun yang lainnya.


"Sudah tidurkah?"lirihnya dengan mata memperhatikan tubuh Gerhana yang meringkuk tanpa selimut di atas king size-nya.


Topan menutup pintu rapat-rapat, lalu mendekat ke arah kasur. Dia berjongkok demi melihat mata Gerhana yang tertutup rambut panjang.


"Maaf ya, pasti kamu bosan." lirih Topan seraya menghela rambut itu, lalu mengecup kening Gerhana.


Sekonyong-konyongnya, mata Gerhana terbuka dan menggenggam tangan Topan yang telah mengganggunya.


Topan tersenyum lembut dan memilih duduk di sisi kepala Gerhana.


"Apakah sudah selesai urusan kalian?" parau Gerhana. Topan telah menuntun kepalanya untuk tiduran di paha pria yang sudah mengambil hatinya ini.


"Belum, dan maaf sudah membuat mu bosan." Topan terus membelai belai rambut itu.


"Hmm,"' jawab Gerhana dengan deheman kecil. Dia pun diam seraya menikmati belaian lembut tangan Topan di kepalanya, seakan akan membuatnya mengantuk.


"Tidurlah lagi," kata Topan. Tetapi, Gerhana malah menarik tubuhnya untuk duduk bersila di atas kasur king itu.


Topan tersenyum geli melihat pipi Gerhana yang sengaja dikembungkan. Dia paham betul, itu adalah ekspresi wajah mengeluh protes.


"Aku sudah tidak mengantuk lagi. Kamu pengganggu."


"Yak maaf! terus, sebagai gantinya... aku harus apa? apakah butuh di nina-ninain? " Topan terkekeh kecil. Sungguh, wajah acak acakan Gerhana yang baru bangun tidur, membuatnya gemas sendiri. Dia pun sedikit menggoda.


"Dih, senyum senyum gaje lagi, memangnya muka ku ada tampan badutnya." Gerhana memukul mukul Topan dengan bantal guling. Bibirnya tersenyum geli dikala Topan berpura pura pingsan.


"Help," kata Topan dengan mata tertutup. Dia memonyongkan bibirnya berharap Gerhana menyambutnya. Walaupun yakin, kalau Gerhana tidak akan menyosornya seperti bebek.


Tapi tunggu,. Cup... itu apa? kok pipinya terasa basah?


"Harusnya di bibir, Nana!"


Di kasih jantung, minta empedu si Topan ini. Gerhana yang ditawar tawar, malah rebahan dengan lengan bicep Topan sebagai bantalannya.


Hening sesaat dalam posisi saling berhadapan direbahan itu seraya saling menatap.

__ADS_1


"Jangan pernah kecewakan aku," pinta Gerhana dengan binar mata memohon. Sungguh, dia amat mencintai si batu ini. Rasa nyamannya sudah dikuasai tentang nama Topan.


"Definisi kata kecewa sangat bermacam-macam, Nana. Jujur, aku tidak mau berjanji, karena janji adalah hutang. Tetapi, percayalah... Definisi kecewa dalam arti menduakan, aku tidak akan melakukannya. Dari kecil pun, aku sudah menaruh perhatian padamu, mencari mu dan akhirnya kita bertemu di sini. Aku akan selalu bersamamu, hari ini, besok dan sampai tua. Semoga, jodoh kita adalah kebersamaan sampai mau didepan mata."


Untaian manis Topan membuat Gerhana terbuai, dia tersenyum manis. Namun sedikit mencerna. Dari kecil pun, aku manaruh perhatian padamu?


"Dari kecil? apakah sebelumnya kita saling kenal? aku rasa, kita berjumpa pertama kalinya di tengah malam itu?"


Alis Gerhana mengkerut bingung, dia mencoba berpikir keras. Tak kunjung ingat, dia pun kembali cuek dengan bermaksud menarik tubuhnya untuk duduk kembali. Tetapi, Topan menahannya hingga posisi itu lebih dekat dari sebelumnya.


Kepala Gerhana sudah berada disisi leher Topan, beradu pandang dengan posisi amat dekat.


"Kamu dulu adalah anak panti di Negara kita ah maksud ku di Indonesia. Kamu bukan pribumi California, tetapi dari Indonesia. Xian mengadopsimu dan membawa mu ke sini," terang Topan dengan mata tidak mau berkedip menghunus iris mata Gerhana. Berharap, Gerhana mempercayainya yang memang itu adalah kenyataannya.


Topan sebenarnya ingin mengatakan, kalau Xian itu orang jahat. Tetapi, dia menelan kembali kata kata nya karena Gerhana pasti akan marah, bila mana orang tua angkatnya di singgung.


"Entahlah, aku tidak mengingat apapun. Aku hanya mengingat kalau Daddy-ku adalah orang yang baik."


"Dia tidak baik." Topan keceplosan. Sejurus, dia menggigit pelan lidahnya. Ketika Gerhana mendelik tidak suka.


"Lepas, ah. Malas banget, selalu saja menjelekkan Daddy-ku. Sekali lagi ku pertegas, kalau Daddy-ku bukan pencuri yang pernah kalian tuduhkan, nyebelin. Huuu..."


Gerhana ingin menjauh karena kesal. Topan sudah merusak moodnya untuk bermesraan. Tetapi si batu itu tidak mau melepaskannya. Tubuh rampingnya malah dibuat guling.


"Mr. Stone, ishh... berat ah. Singkirkan tubuh gorila mu."


Topan tidak bergeming, cubitan Gerhana hanya sekedar gigitan nyamuk saja.... Gatal gatal gimana gitu....


"Na, semakin kamu bergerak untuk melepas diri, maka semakin kuat pula pelukanku. So, berhentilah mencubit ku. Itu hanya membuatku geli, macam dikelitiki." Goda Topan meremehkan. Tetapi kok kian sakit terasa karena Gerhana kini memakai kukunya untuk mencubit perutnya.


"Aww, Na. Ampun! itu sakit lho. Baiklah, aku lepas." Topan meringis. Sementara, Gerhana tersenyum jumawa yang sudah lepas dari guling Topan.


"Eeeh...."


Bugh...


Pria normal tetap saja suka bermodus ria, meskipun perangainya dingin, kaku dan sebagainya, tetap saja ada sisi modus busuk nya seperti Topan yang kini menarik Gerhana, hingga jatuh tepat di atas tubuhnya. Tangan bertenaganya pun merangkul sepenuhnya pinggang Gerhana agar tidak kabur.


"Hais, kalau tangan ku patah bagaimana, eum?" ketus Gerhana karena merasa Topan menarik nya amat kuat.


"Ada tangan aku yang sedia selalu menggantikannya," ujar Topan berucap pelan di depan wajah kekasihnya.

__ADS_1


"Gombal." Meskipun tahu itu kata manis mengandung racun, tetap saja Gerhana berbunga-bunga.


Semakin lama, semakin pula wajah itu kian mendekat tanpa jarak, mata mereka beradu penuh arti. Topan melahap mesra bibir yang sudah membuatnya candu. Gerhana yang dulunya kaku, kian memberanikan diri untuk membeli serangan bibir Topan.


Mereka sudah terbuai oleh manisnya cinta, hingga Gerhana yang risih disentuh oleh tangan laki laki, kini telah menguap. Sampai, tangan Topan yang meraba nakal menelusup masuk ke baju tidak ditepisnya, justru membuatnya geli geli sedap.


Tok tok tok...


"Bagi penghuni kamar yang ada di dalam sana. Diharapkan keluar! Saya sebagai polisi budiman yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Indonesia nan moral bangsa tentang hukum yang ada, akan mengeledah kamar Anda, karena ada laporan yang ku terima. Anda di dalam sana sedang kumpul kebo."


TOK TOK TOK...


"TOPAAAANNN!"


"BUKA PINTUNYA!"


Mampus! Ada pengganggu!


Topan dan Gerhana yang lagi asyik candu canduan bibir. Terkesiap hebat dan saling sadar dari godaan syaitoni.


Lekas mereka saling menjauh mendengar teriakkan terhakiki Dibi, mana ketukan pintunya kenceng beut lagi. Topan sampai speechless.


Gegas, Topan merapikan pakaiannya yang kusut. Gerhana pun demikian.


Di gerebek, coeg! batin Topan mendengus kesal dalam hatinya, hanya seorang Dibi-lah yang selalu songong dalam hidupnya dari kecil sampai sekarang. Memang menyebalkan lakik satu itu.


Setelah rapi, keduanya memasang wajah santai-sesantainya mungkin. Gerhana lebih memilih duduk di sofa dengan majalah dia tarik sebagai objek bacanya, berkelit doang. Sialnya, majalah itu terbalik tanpa sadar karena gugup, malu luar biasa .


Digerebek... Hadeeh! Malunya, malu malu, malu, hiks... Dasar, Gerhana stupid, batin nya.


Topan pun sudah menetralkan wajah tersipunya. Kini, wajah itu datar datar kecut asem cuka. Siap menyemprot Dibi yang terus saja menggedor gedor pintu kamarnya.


Tok__


Ceklek...


Tok Tok..


"ADUH."


"Eeh, maaf! tidak sengaja, buka pintu tidak permisi sih."

__ADS_1


Dibi yang tadinya memasang wajah sangar tegas kepolisiannya, jadi terkekeh kecil karena tangan kurang ajarnya mengetuk dahi Topan yang baru membuka pintu.


...*****...


__ADS_2