
Masih di pasar....
Dagangan yang di jual Topan sudah ludes tidak tersisa, tetapi gantinya pipi itu terasa panas karena beberapa kali dicubit oleh pembeli genit.
"Ini, ambillah!" Topan menjulurkan ember berukuran lima liter ke hadapan wajah Gerhana yang masih setia cengong. Di dalamnya adalah uang hasil penjualan.
"Ah, emm, aww__" Gerhana salah tingkah karena Topan menyadarkan lamunannya dengan cara mencubit gemas pipinya. Sejurus dia menarik ember tersebut dan memberikan ke Nenek itu.
Topan tersenyum tipis akan mata Gerhana yang memutar malas terhadapnya.
"Terima kasih ya, Nak. Ini upah mu."
"Nek, ini terlalu banyak__"
"Bagi dua sama kekasih mu." Sang Nenek tersenyum ompong ke Topan dan Gerhana yang ragu untuk mengambil upahnya yang menurut Gerhana banyak sekali. Tetapi sejurus, dia pun mengambilnya. Rejeki tidak boleh ditolak.
Kekasih? batin Gerhana. Rasanya, ada kupu kupu yang menggelitik hatinya. Tidak mau pede, dia akhirnya mengibaskan kepalanya, pelan.
"Terima kasih ya, Nek. Besok__ah, tetap sehat ya. Aku pergi dulu."
Gerhana pamit, dia tidak jadi mengatakan besok akan datang lagi. Karena pasti hari bebasnya sudah tidak sama yang selalu terbelenggu oleh Topan saat ini.
"Sekarang kita kemana?" tanya Topan. Mereka berjalan menuju mobil, meninggalkan pasar.
"Ikut saja. Dan ini upah mu, ambillah!" Gerhana membagi uang yang di berikan oleh Nenek tadi.
"Buat mu saja__"
"Hak orang tidak boleh diambil, itu namanya korupsi."
Karena Topan tidak mau mengambilnya. Secara paksa, Gerhana menaruh uang itu masuk ke dalam saku celana Topan.
"Na__"
"Ayo, ini udah siang." Gerhana menjeda Topan yang ingin protes. Tersenyum sejenak lalu segera menarik tangan Topan agar cepat sampai mobil.
Mereka tidak tahu kalau ada anak buah Jerry yang telah melihat Gerhana, yang memang sedang gencar mencari keberadaan gadis itu.
Anak buah itu pun, memotret Topan dan Gerhana dengan wajah tertangkap kamera begitu sempurna.
Selain itu, anak buah itu setia mengikuti Topan.
...****...
__ADS_1
Di Markas, Pe hanya duduk bosan paska penyembuhan luka tembak yang memang sangat dalam melukainya. Tidak ada Kurcil lainnya, pada sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya ada anak buah Topan yang mondar-mandir tidak jelas.
Dia menopang dagunya di sofa itu seraya menonton drama yang membosankan, padahal itu adalah drama romantis.
"Bikin iri aja! kejombloan gue meronta ngenes, woiii." Pe berucap kesal sendiri ke TV itu karena menampilkan scene berbagi bibir.
"Maka carilah pacar supaya bisa beradu bibir."
Deg...
"Kak Dibi?" perlahan-lahan, kepala Pe menoleh kebelakang. Suara itu sangat mirip laki laki yang amat menyayangi dan memanjakannya sedari balita sampai sudah dewasa pun.
"Kak Dibiiiii."
Pe terpekik girang, dengan pergerakan secepat kilat menyambut pria rupawan yang sedang merentangkan di tengah tengah ruangan itu.
"Ini betul, kak Dibi?" Pe seakan akan tidak mempercayai apa yang sedang dipeluknya sekarang.
"Hehehe, ini hantu," seloroh Dibi. Dengan tangan itu mengelus surai hitam Pelangi yang sedang memeluknya erat-erat. Dia amat rindu ke gadis yang sudah dianggapnya adik sendiri.
Lantas, Pe sedikit mengurai pelukannya. Lalu, mendongak menatap Dibi yang amat tinggi darinya. "Hantunya tampan, mau dong jadi pacarnya," goda Pelangi. Sejurus keningnya dapat toyoran gemas dari Dibi yang terkekeh-kekeh seketika.
"Anak kecil belum pantas untuk jadi pacar saya," kata Dibi. Dia tidak sadar akan wajah Pe yang sedikit terlihat kecewa.
Pe menekan wajah kecewanya dengan tersenyum paksa. Jujur, dia selalu berdebar-debar bila mana berdekatan dengan Galaksi Miller Al Malik ini, anak dari sahabat orang tuanya plus saudara jauhnya.
"Karena kangen kamu?" Dibi selalu menggoda, dia menoel ujung hidung Pe. Mumpung si kembar tidak terlihat di matanya. Kalau Topan atau Badai ada 'kan, mana dibolehin.
"seriously?"
Dibi mengangguk mantap membuat hati Pelangi berbunga-bunga.
"Lebih tepatnya, aku di utus Bundamu untuk menggiring kalian pulang ke Negara sendiri."
Hem, wajah Pe melengos lagi. Ternyata hanya keterpaksaan.
"Aku juga merindukan mereka, tetapi satu langkah lagi urusan Kurcil akan selasai." Pe berbalik membelakangi Dibi, lalu duduk di sofa.
Dibi pun turut serta menaruh bokongnya di dekat Pelangi.
"Sebelum membahas tentang lainnya, coba katakan! kenapa wajah cantik ini menjadi pucat seperti mayat hidup? dan kemana semua Kurcil Smart itu? aku ingin memarahi satu persatu dari mereka yang main meninggalkan Warna pelangi ku seorang diri, hingga menjadi bosan berujung wajah itu tidak ceria lagi."
Dibi menangkup ke-dua pipi Pe hingga bibir itu manyun sendiri akibat tangan lebar Dibi amat gemas untuk bermain di pipi Pelangi.
__ADS_1
"Ish, sakit!" dengus Pe memaksa tangan gemas Dibi untuk menyingkir.
"Yang lain pada sibuk kerja, dan wajah ku jelek bak mayat karena sedang dalam pemulihan luka sialan ini," Pe sedikit melirik punggungnya yang susah untuk dilihatnya. Ada rasa nyeri lagi yang timbul karena tadi Dibi tidak sengaja menekannya saat berpelukan. Tetapi karena rasa rindu nan senang, Pe tidak meringis sakit dalam dekapan Dibi, tadi.
"Pemulihan? coba lihat!" Tidak pikir panjang, Dibi menyilak baju oblong pink itu.
Pelangi sampai menahan nafasnya. Selalu, jantungnya itu tidak akan bersahabat bila di sentuh Dibi.
Buang rasa itu Pe, Kak Dibi hanya menyayangimu sebagai seorang adik.
"Ini berdarah lagi. Aku akan mengganti perbannya."
"Tidak usah, jantungku bisa mati karena sentuhan kak Dibi." Pe keceplosan.
Dibi yang mendengar itu, segera menatap Pelangi dengan alis tebalnya terangkat satu. Dia kira gadis tengil ini hanya turut menggodanya.
"Warna? Di mata mu ada aku di sana." Dibi sebenarnya dalam keisengan, melihat wajah Pe yang tersipu jadi gemas sendiri. Dengan itu, dia semakin menggoda Pelangi dengan mulut gombalnya.
Jantung Pe kian membludak di dalam sana. Rasa perasaannya bercampur aduk. Sungguh, Dibi dari dulu membuatnya gila, tapi sayang....Dia tahu kalau Pria ini punya seorang wanita dambaan yang bernama...Azkiara Putri Gilman, anak dari Azka dan Rere.
Ngenes deh hatinya!
"Awas ah, aku tau kak Dibi hanya menggombal, kalau aku baper bagaimana coba? apa kak Dibi mau tanggung jawab?" Kali ini Pelangi lah yang menoyor jidat Dibi yang amat dekat di depan wajahnya.
Dibi yang iseng, mantan anak badung itu, terkekeh geli tidak tahu dosa.
"Tidak masalah sih, yang penting kamu mau jadi kekasih ke-dua ku." Goda Dibi lagi dengan kedua alis tebal itu naik turun.
"Mau racun?" Pe memamerkan jam tangan khususnya yang terisi jarum beracun. Dia tidak suka ucapan Dibi yang selalu sembrono.
"Eits, maaf! aku masih ingin hidup." Dibi mengangkat kedua tangannya ke udara, sebagai tanda menyerah. "Oke, fine... aku akan berhenti menggoda." Lanjutnya seraya menarik tubuhnya untuk duduk tegak, lalu membuat pergerakan menzipper mulutnya, tanda tidak akan menggoda lagi.
Pe hanya tersenyum kecil melihatnya.
"Dari pada bosan, bagaimana kalau kita makan siang di luar," ajak Dibi.
Sejenak, Pe terdiam. "Tapi nanti Topan bisa marah karena__"
"Aku borgol dia kalau masih saja over protective, tenang saja."
"Okelah, ayo...aku juga bosan. Tau nggak, mereka sangat sibuk sendiri sendiri, apalagi Badai yang selalu pergi ke rumah sakit."
Pe terus membeo dalam langkahnya, tapi jujur... tangan Dibi yang merangkul pundaknya membuat dia antara nyaman dan tidak nyaman. Tergantung seperti kuyang.
__ADS_1