
Badai pulang ke markas dengan penampilan berantakan, masih sama seperti tadi, bau amis darah melekat kuat di tubuhnya.
Lantas, semua penghuni bangunan itu dibuat bertanya tanya? apalagi Topan yang sudah melotot selidik ke arah tubuh Badai yang penuh dengan darah.
Badai?! Beo semua Kurcil meminta penjelasan.
"Nanti akan ku jelaskan, tapi setelah mandi. Aku butuh aroma sabun untuk menghilangkan kotoran menjijikkan di tubuhku ini. Jorok sekali bau darah laki laki sialan itu." Badai berlalu, mengabaikan rasa penasaran semua kepala di ruangan itu. Dia baru bangun dari kesadarannya yang sesaat tadi telah menjadi sikopet.
Setelah Kurcil plus Gerhana menunggu sabar di hadapan kamar Badai, orang yang mereka nantikan akhirnya keluar juga dari kamar dengan aroma segar musk menyeruak yang ditimbulkan harum jantan parfum Badai.
"Katakan segera, ada apa? dan Pelangi... dia tidak kunjung pulang di waktu yang sudah senja ini? apa kamu habis mendapat masalah? dan Pelangi___"
"Pelangi!" Badai menjeda cercaan Topan. Tangannya pun menepuk pundak kakaknya itu, agar tenang terlebih dahulu. Walaupun sebenarnya, dia juga masih resah mempertanyakan kesehatan Pelangi.
Dan akhirnya, Badai menceritakan semua apa yang dialami Pelangi, tanpa terkecuali termasuk cara memutilasi Tommy tanpa manusiawi.
Nampak semuanya tertegun. Terlihat, Topan sesekali menekan dadanya setiap cerita Badai mengalir, karena itulah sebabnya ada degup sakit yang tidak menentu menyapanya... Ternyata, salah satu kembarannya diambang pintu kematian.
"Lantas, di mana Pelangi sekarang? Guntur? apakah kamu mempercayai begitu saja ke orang itu? Hah!" Topan mengusap wajahnya prustasi, antara kesal dan cemas adiknya diapa-apain oleh Guntur.
"Itulah penyesalan ku....mempercayai Guntur begitu mudahnya." ungkap Badai dengan nada sendu.
"Ayolah, guys! Aku mengenal kak__maksudku Guntur. Ia orang baik kok, cuma orangnya sedikit misterius." Vay sedikit membelah Guntur walupun sedikit ragu juga karena dia 'kan sudah lama tidak berjumpa oleh Guntur-teman kecilnya, semasa dia tinggal di desa waktu Ibell-Bundanya kabur dari Nata-Ayahnya.
"Dari pada bertanya tanya bak orang bodoh, mari kita geledah setiap rumah sakit yang ada di kota ini. Aku yakin, Guntur membawa Pe kesalah satu rumah sakit terdekat dari TKP." Guruh segera mengusulkan idenya.
"Kamu benar. Ayo berpencar!" ujar Petir menyetujui usulan Guruh. Saat berucap ayo... Dia menarik Vay agar ikut bersamanya dalam satu laju, nanti. Si Neng Bule hanya pasrah. Dari pada ditagih hutang hasil duel sama Petir malam ini juga, mending nurut manis dulu. Mana tau Petir berbaik hati, batinnya berharap.
Semuanya pun beranjak pergi kecuali Gerhana yang merasa tidak dianggap keberadaannya oleh si Kurcil. Namun tetiba, Topan berbalik lagi yang berjalan paling belakang.
"Na, apa kamu tidak mau ikut?"
__ADS_1
Gerhana yang tadinya sudah berjalan ke arah kamarnya, seketika berhenti. Tetapi tidak berniat berbalik ke wajah Topan. "Pergilah, aku di sini saja. Takutnya, aku malah merepotkan kalian. Semoga lekas menemukan Pelangi."
Topan menghela nafasnya sejenak dengan kasar. "Kuharap, kamu tidak lagi memikirkan kabur? Untuk saat ini, kumohon jangan pergi keluar tanpa pengawasan ku, karena di luar sana banyak musuh yang sedang mengincar mu."
Gerhana segera berbalik kasar setelah mendengar itu, tetapi si batu sudah beranjak cepat hingga punggungnyalah yang ditatap dalam dalam oleh Gerhana.
"Musuh? aku bahkan tidak tau salah ku apa, sehingga di incar musuh? Huh, padahal aku itu bukan anak petinggi Negara yang harus di culik, lalu ditebus." Gerhana menggerutu. Tetapi setelah berpikir lagi kalau tempat yang dipijaknya dalam keheningan tanpa teman serasa kuburan yang banyak penghuni kuyangnya. dia pun segera berlari keluar menyusul Topan.
"Aku ikut!" Gerhana berteriak yang saat ini Topan sudah di atas moge, siap meluncur. Dia pun segera berlari, dan cepat cepat naik ke boncengan motor Topan yang kembali merenggangkan gasnya.
"Hais, Na. Naiknya Pelan-pelan! kalau motornya terbalik__"
"Uda jalan, di dalam serasa ada kuyang...."
"Kalau kamu mau ikut, kita naik mobil saja, ini bahaya bagimu. Ayo turun dari boncengan ku."
"Apaan, buruan jalan. Nanti Pelangi tidak ketemu sesegera mungkin karena macet di jalan, Bagaimana?" Gerhana tidak menurut. Dan mau tidak mau Topan segera melajukan motornya. Benar kata Gerhana, di jalan bisa saja terjebak macet kalau membawa mobil. Topan mengakui itu, makanya sebelum Gerhana berubah pikiran dia sudah memilih motor seperti teman-temanya yang sudah berangkat sedari tadi.
...****...
" Sus, apa ada pasien atas nama Pelangi yang baru masuk hari ini?" Badai segera melayangkan pertanyaan cepat ke suster yang bertugas di bagian resepsionis. Dia bersama Guruh saat ini.
"Sebentar, Pak! saya cek terlebih dahulu."
Keduanya pun sabar menunggu dan hasilnya sama saja... Maaf! tidak ada, Pak!
Begitulah pernyataan suster suster setiap rumah sakit yang di kunjungi Badai dan Guruh.
Rasa sesal pun kian menggorogoti perasaan Badai karena mempercayai Guntur begitu saja.
Di tempat lain bagi Kurcil yang berpencar dalam berpasangan. Sama saja, nihil!
__ADS_1
"Ya ampun, ini sudah hampir seluruh rumah sakit kota yang kita singgahi, tetapi nol besar lho." Vay pun mengeluh yang saat ini bersama Petir.
"Jangan menyerah! Ayo, kita ke klinik atau di tempat medis terkecil pun kita harus singgahi." Petir kembali menyalakan mesin motornya. Dan Vay pun menurut naik keboncengan.
Di tempat Lautan-Purnama yang selalu bersama, pencariannya pun nihil. Si Twins pun di tempat lain tak kalah mengeluh, bahkan jawaban suster di resepsionis itu.... Maaf, Pak! Tadi sepertinya sudah ada yang menanyakan nama itu, tetapi dengan sangat terpaksa...saya mengulang, kalau rumah sakit ini tidak mempunyai pasien baru ataupun lama yang bernama Pelangi Sagara.
"Sebelumnya team kita sudah kesini, Bhum." Keluh Angkasa.
"Ho'oh, kak Pe di mana ya?" Bhumi mengusap kasar wajahnya di koridor rumah sakit, capek pakai benget.
Braaak...
Di sisi Topan dan Gerhana sama saja, nol. Topan sampai memucat karena perasaannya kian tidak enak terasa.
Saking emosinya, helm yang tidak bersalah dia lempar setelah berada di pelataran rumah sakit. Ini adalah rumah sakit ke sepuluh yang di singgahinya bersama Gerhana, tapi adiknya tidak dia temukan di malam yang sudah larut.
"Topan, aku mohon! Turunkan emosi mu!" Gerhana memberanikan diri untuk menyentuh lengan bicep Topan, berniat menenangkan. Padahal jujur, dia amat takut dalam hati yang melihat wajah Topan mengeras menahan amarah karena merasa gagal melindungi adiknya. Takut-takut, jab Topan tertuju kepadanya karena pelampiasan.
Tidak ada respon dari Topan, Gerhana semakin memberanikan dirinya untuk menarik tangan Topan duduk di kursi taman rumah sakit.
"Coba nilai aku? apakah aku kakak yang buruk untuk mereka? terkhusus untuk Pelangi yang aku tekan kebebasannya?" Topan mulai meracaukan isi hatinya yang ke-dua insan ini duduk bersisian di bawah gelapnya malam.
Gerhana belum menjawab, dia hanya menatap dalam dalam mata Topan yang terlihat kacau tidak ada ketenangan di iris pekat itu.... Dia mengerti kegelisahan Topan, dengan itu dia akan bersahabat sementara untuk si batu demi menenangkan hati orang asing yang main mengklaimnya menjadi pacar.
"Aku hanya tidak mau adik adik ku terluka dan seperti inilah kejadiannya. Pelangi marah kepada ku sehingga bersembunyi dariku." Topan semakin meracau, sudut matanya memanas.
"Topan!" Gerhana menggenggam tangan kanan Topan, meskipun sedikit canggung.
"Tidak selamanya pikiran dan aksi kita dianggap benar oleh orang-orang sekitaran kita, meskipun kita berpikir demi kebaikan dan keselamatan orang tercinta kita, tetap saja.... kamu salah. Aku sempat dengar dari Vay dan Ama, kalau kamu terlalu merantai kebebasan adik perempuan mu? itu salah, Topan. Ibarat kata, semakin kamu menarik rantai di kaki Pelangi untuk mengeratkan agar tidak terlepas, semakin pula dia akan memberontak untuk bebas bagaimana pun caranya. Setiap manusia mempunyai HAM, kita hanya perlu melerainya bila mana orang itu masuk ke alur hidup yang salah. Protektif boleh saja, tapi tau batasan. Sayang dan peduli ke saudara pun sangat boleh dan wajib, tapi ingat...dia dan semua orang berhak memilih jalan yang mereka anggap nyaman dalam melangkah."
Penjelasan panjang lebar Gerhana yang terdengar bijak, membuat Topan tertunduk dan mengintropeksi dirinya sendiri. Pertanyaan demi pertanyaan menari-nari dalam benaknya.
__ADS_1
Apa iya, aku salah besar? itulah salah satunya dari sekian pertanyaan gelisahnya.