
Di Negara lain, lebih tepatnya di Negara kelahiran si Kurcil. Seorang wanita setengah baya, duduk di kursi taman dengan mata menangada ke langit cerah, seolah-olah mau melawan cahaya silau matahari itu.
Ia adalah Mentari-Ibunda si kembar Triplets dan Twins.
" Petite."
Wanita yang lagi merindukan kehadiran anak-anaknya itu, menoleh kebelakang saat suara yang amat dikenalnya telah berseru memanggilnya penuh kasih sayang.
"Ya! kenapa, Hulk?" sahut Mentari ke Biru-suami tercintanya. Petite dan Hulk adalah nama sapaan sayang mereka. Unik bukan? seunik kisahnya di RANTAU. (Author Promo) hihihi.
"Sedang apa di sini? cuacanya sangat panas. Kamu 'kan lagi sakit, petite. Ayo masuk, Sayang.___"
"Hulk, aku merindukan anak anak," ungkap Mentari cepat. Matanya amat terbaca oleh Biru, kalau benar adanya istrinya ini sedang rindu berat.
"Sayang, nanti mereka akan pulang bila mana sedang senggang. Sabar ya." Biru mengelus pipi kanan Mentari, bermaksud untuk menenangkan perasaan istirnya.
"Hm, sampai kapan mereka mau bertahan mencari keberadaan benda kecil itu? Topan dan lainnya, belakangan ini jarang mengabari. Hulk, kita ke sana yuk!" ajak Mentari seraya mengguncang pelan lengan suaminya yang saat ini sudah duduk di kursi taman bersisisan.
Biru tidak mungkin membawa istri tercintanya ke sana, bukan karena biaya melainkan karena keselamatan, cukup anak anak smart itu saja yang main-main dalam hal berbahaya. Biru tidak mau Mentari menjadi incaran musuh. Vay berikut Nata-Ayah Vay sudah mati matian menyembunyikan identitas semua keluarganya dari ahli hacker anak-bapak itu, jadi jangan sampai gegabah.
"Biar aku aja, Aunty. Aku yang akan menyusul dan menjewer mereka semua. Aku pun sudah sangat rindu ke Pelangi. Adik kecilku yang sudah besar saat ini."
Suara itu adalah milik Galaksi Miller Al Malik, kerap disapa akrab.... Dibi.
"Pergilah, Sayang! bawa mereka pulang. Dan pukul mereka kalau lagi dalam kenakalan." Mentari tersenyum pipi bolong.
...***...
__ADS_1
Kembali ke Negara yang memiliki ikon Golden Gate Bridge. Vay yang telah kalah berduel, saat ini sedang mengompres wajahnya yang berdenyut sakit karena terkena jab demi jab Petir.
Di ruangan itu, hanya ada para cewek cewek.... Gerhana, Pelangi, Ama dan jelas ada si ratu hacker-Vay.
"Duh, Vay! ish, aww, pasti sakit ya?"
Ini...Yang terluka adalah Vay, dan yang mengompres lebam itu adalah Vay juga. Tetapi, kenapa Gerhana-lah yang sedang meringis-ringis berisik. Aneh memang!
"Sakit lah, Nana! Apakah kamu mau merasakannya?" Vay mengepalkan tangan kanannya, bermaksud untuk menakuti Inces lemot Topan.
"Ya, jangan! Aku bilangin Topan nih." Tanpa sadar, Nana sudah meminta perlindungan si batu kaku yang tidak ada di ruangan itu. Takut, dia pun pindah duduknya ke sisi Pe yang sedang bermain gawai.
"Ck, sana bilangin___"
"Lo kenapa Vay, bisa berduel hebat begini bersama Petir? Apa dia berbuat iseng lagi?" Tanya Ama yang menyerka Vay ke Nana.
Gerhana yang sebenarnya terpaksa duduk diantara tiga wanita ini, akhirnya menzipper mulutnya. Takut-takut dia berbicara salah lagi dan berujung Vay atau dari dua wanita lainnya, benar benar berbuat kasar kepadanya. Nana masih dalam tekad mencari waktu tepat, untuk kabur dari orang-orang asing yang sok akrab mengganti namanya menjadi Nana.
"Guys, apakah bercinta itu sakit?"
Vay tidak menjawab pertanyaan Ama dan Pe. Dia malah melempar pertanyaan yang ketiganya tidak tahu menahu.
Mendengar pertanyaan aneh Vay, membuat Ama dan Pe antusias mencerca Vay.
"Kok, Lo nanyanya itu?"
"Lo lagi sang* ya?"
__ADS_1
"Atau lo kebelet kawin?"
"Nikah dulu Vay, baru kawin. Jangan kayak kucing."
"Kata orang sih, sedap Vay!"
"Gurih juga katanya!"
"Terus, ditusuk-tusuknya bikin merem melek, katanya."
Lontaran pernyataan katanya-katanya itu, terdengar bergantian dari mulut Pe dan Ama. Bola mata Vay sampai berputar putar ke Ama dan Pe berganti, bikin tambah pusing baginya.
Gerhana sendiri masih menzipper mulutnya, padahal ingin mengatakan sesuatu.
"Hmm, Gue ketiban sial coeg! Petir memenangkan pertandingan, dengan imbalannya satu malam tidur bersama. Hiks, tolongin gue dong jalan keluarnya. Lo pada tau 'kan nih, kalau gue punya Cole-kekasih gue. Kalau gue bercinta dengan Petir, itu tandanya gue khianatin do'i dong. Ah.... pusing, pusing, pusing, ini itu karena Petir, sepupu kalian yang selalu nyebelin dari kita masih kecil. Reseh, jahil, dan sekarang....oh Tuhan__" Awww...
Karena emosi, Vay tidak sengaja menekan sendiri wajah lebamnya yang masih dikompres menggunakan handuk kecil basah.
Ama dan Pe sontak tertegun melongo mendengar pengakuan Vay, Gerhana sendiri memasang tampang wajah cueknya.
"Ya ampun, Petir akan menang banyak di kasur. Kamu juga Vay.... selamat ya! __eh, sabar dulu Vay. Gue ngeberi Lo selamat karena setidaknya nanti pas malam pertama sama suami Lo kelak, kagak malu maluin. Kenapa? itu karena lo uda pernah belajar plus praktek bersama sepupu kami. Iya nggak Pe?"
Ama segera berkelit karena Vay mendelik tajam kepadanya. Salah bicara, uihh.
"Tau ah, gelap! gue mau istirahat aja sebelum gue mati diwik-wik oleh si kilat."
Vay beranjak, Ama pun demikian. Kini hanya ada Pe dan Gerhana di ruangan itu. Pe sengaja menunggu momen sepi ini. Dia ingin mencuci otak Gerhana untuk lebih merepotkan Topan lagi. Bukan apa apa, tadi saja waktu keluar rumah, Topan ternyata mengawasinya diam diam melalui anak buahnya. Jadi, rasakan pembalasannya melalui Gerhana.
__ADS_1
...*****...