
Jedag jedug jedag jedug...
Musik Dj Ama kian menggema. Semua ABK turut bergoyang dengan bau alkohol menyeruak dari masing-masing tubuh itu.
Satu ABK lompat naik ke panggung kecil itu untuk menggoda Ama, membuat Ama yang sedang melancarkan aksi terselubung nya, tertahan kembali.
Ya, Ama saat ini sedang bergoyang seksi dengan satu tangan yang tersembunyi di balik mantelnya, sedang membawa sekaleng kecil yang isinya gas beracun.
Ck... Dalam hati, Ama berdecak kesal. Dia mendorong pelan pria tersebut untuk menjauh darinya.
"Kenapa?" Pria itu sedikit membentak karena ditolak.
"Ah, Maaf! Tidak sengaja!" Ama berteriak karena musik dia naikkan volumenya, sengaja.
Tidak mau terlihat kasar dalam penolakan didekati, Ama akhirnya mengajaknya bergoyang. Pria itu dibelakang Ama, sangat dekat. Hingga, membuat Ama emosi. Ama menginjak kaki orang itu, seolah-olah tidak sengaja.
"Sorry!" kata Ama lalu tersenyum devil karena sang pria meringis sakit dapat hadiah dari hak sepatu bootnya.
" Ayo, Cantik! mulailah goyangan striptis mu," tuntut satu ABK lainnya. Ikut turut naik ke panggung DJ itu.
Dua ABK lainnya pun ikut serta naik, hingga Ama dikelilingi oleh empat pria pria macho nan tinggi tinggi.
" Mati gue, kalau gue berkelahi...fix, gue kalah telak. Satu satunya hanya otak bodoh ini yang aku andalkan."
Purnama bergoyang pelan seraya bersiaga pada tangan tangan nakal yang bisa kapan saja menyentuh nya.
"Ayo, Cantik. Buka baju mu."
"Mau ku bantu?"
"Biarkan kami yang bekerja, Sayang."
Tawar demi tawaran nakal terdengar dari pria pria tersebut.
Brrraakkkk....
Ama yang mendengarnya jadi tersulut emosi, saat ingin bertindak untuk berkelahi saja, dia tertahan oleh suara keras pintu yang di buka oleh Guruh.
" BAJINGAN SEMUANYA!" Guruh murka. Jelas, kakak siapa yang tidak marah melihat adiknya dikelilingi oleh pria pria yang bermaksud kotor.
Bukan hanya Guruh saja yang sudah masuk di bar room mini itu. Kurcil lainnya kecuali si Nakhoda abal abal Topan-Badai yang tidak ada.
__ADS_1
Pria-pria itu menoleh dengan raut bingung nya. Mereka yang setengah mabuk membuat otaknya lemot, kalau ada penyesup.
Ama menggunakan kesempatan itu untuk keluar dari lingkaran sang pria yang mengelilingi nya. Berloncat naik ke meja dan bersalto salto terhenti tepat dihadapan Guruh yang siap senggol bacok tuh air muka nya.
"Serang mereka!"' Seru satu ABK itu pada rekan nya. Namun karena semuanya mabuk, mereka terlihat sempoyongan untuk mendekati Ama cs.
"Uda, jangan!" cegah Ama ke Guruh dan Kurcil, berikut Dibi yang ingin ngejabanin musuh berkelahi. "Lihat ini, dan ayo kita segera kabur dari kapal."
Ama memamerkan gas beracunnya ke rekannya. Sejurus, melemparnya kaleng gas racun itu, setelah diaktifkannya."
Kabur...
Dibi cs ngeberit keluar ruangan. Angkasa yang paling belakangan larinya, segera menutup pintu rapat-rapat biar sang musuh mati didalam sana, maksudnya demikian. Tetapi, Bhumi terhenti dan segera menarik tangan kembaran nya.
"Ayo, Dek. Ama sudah mengaktifkan tombol bomnya," kata Bhumi yang terus menarik Angkasa seraya berlari naik ke deck utama atau atap kapal.
Ama dan Guruh pun saling bertaut tangan, seraya berlari naik ke deck. Di mana Topan dan Badai sudah menunggu. Dibi, Petir dan Lautan pun sama, ngebirit sekenceng-kencengnya.
" Vay! Charel! kami membutuhkan mu. Bom sudah aktif semua," lapor Dibi melalui earphone. Tetapi, Vay dan Charel tidak menyahut yang mendapat tugas membawa helikopter.
Vay!
Semuanya meneriaki nama tersebut. Tetapi masih saja tidak ada sahutan.
Apakah earphone mereka tidak konek ke Vay dan Charel karena radarnya kejauhan? entahlah? itulah pertanyaan mereka.
"Bagaimana ini?" Bingung Dibi bertanya kepada Kurcil yang sudah berkumpul di deck utama.
"Entahlah, Vay tidur kali!" kesal Petir bersuara seraya mata itu menggerlya ke arah langit yang tidak ada tanda-tanda helikopter datang.
Kriiiinggh....
Krucil dan Dibi kaget pada suara nyaring alarm.
" Ck, Kapalnya canggih juga yang mempunyai pendeteksi bom, tetapi sayang... masih payah karena sudah aktif. Dan waktu kita hanya tersisa lima belas menit. Kalau kita tetap santai maka.... Duaaar!"
Ama memperagakan suara letusan bomnya, padahal dalam hatinya sih, gatar getir juga.
"Senjata makan tuan-lah namanya." Lautan berdecak pinggang.
"Ini anak buah Jerry sudah mati semua kah? kok kagak ada yang datang menyerang kita?" Topan malah heran. Bukannya kata Vay, mereka sangat banyak? kemana kah orang orang ABK itu.
__ADS_1
Terlihat, Lautan dan Petir tersenyum penuh arti, tanda nya habis melakukan sesuatu.
"Aku dan Lautan sudah membersihkan hama hama itu. Terkunci di dalam gudang utama." Terang Petir.
Lautan terkekeh tidak jelas mengingat betapa pengecutnya kakaknya yang katanya, sudah! bertarung tidak baik, mending mereka kita kunciin bersama narkobanya.
"Sepuluh menit, guys. Kalau kita menunggu Vay, maka fix...kita terpanggang di sini." Badai berkata seraya melirik jam tangannya.
" Uhuuu, kayaknya kita akan basah kuyup nih!" Angkasa meringsek ke arah besi pembatas kapal. "Ish, gilaaaa... serem, iiihhh!" Dia menoleh ke bawah sana, di mana laut luas nan dalam, menanti kalau mereka nekat melompat.
"Mau bagaimana lagi. Gegaslah memakai pelampung. Waktu tinggal tujuh menit." Guruh melempar pelampung yang baru di ambil di pojokan deck ke semua rekan nya.
" Vay dan Charel menyusahkan!" Dumel Ama yang tidak rela kulit indahnya terendam oleh air asin.
Semuanya pun sudah memakai baju pelampung.
"Siapa duluan?" tanya Bhumi. Saat ini mereka sudah memanjat pembatas besi itu, berjejer sembilan orang.
"Bersama sama mungkin akan seru. Mati satu maka akan mati semua, begitu pun sebaliknya," ujar Ama penuh arti. Dan semua rekannya jelas paham dengan makna solidaritas persahabatan mereka.
Ama yang berdiri ditengah tengah antara Guruh dan Lautan, tetiba menggenggam tangan kedua pria itu. Hal itu ditiru oleh semua Kurcil untuk berpegangan satu sama lain, dalam aksi ekstrim mereka yang akan lompat ke lautan lepas. Biar tidak terpisah, pikir mereka.
"Sampai tiga!" kata Dibi memberi aba aba nya.
"Oke," sahut Badai. Dialah yang akan menghitung. " Satu___"
" Jangan banyak gaya dengan hitungan. Sekarang, BEGOOO!"' Ama terpekik dengan umapatannya. Seraya manarik tangan Guruh dan Lautan untuk terjun ke air bersama, karena merasa bom nya itu sudah di menit-menit akan meledak.
Auto, semuanya tertarik satu sama lain karena tautan tangan bersama. Dan pluungg.... untung air bukan batu jadi tidak ada yang berdarah darah atau patah tulang. Gantinya, basah kuyup dan kedinginan.
"Ayo menjauh...." titah Topan segera berenang untuk menjauhi badan kapal.
Semuanya mati matian berenang di laut lepas itu, hingga pada akhirnya.... Boooomm.
Ledakan besar tak terelakkan dari dalam kapal, hingga badan kapal hancur berkeping keping karena bom yang mereka sebarkan tidak tanggung tanggung.
Kurcil dan Dibi yang belum jauh dari kapal, merasakan dampaknya. Air yang tadinya dingin berubah sedikit panas, material puing puing kapal pun mengenai mereka.
"Njriiittt," umpat Lautan yang kepalanya terkena benda tumpul.
"Hai, Topan mana? Topaaaannnn!" Badai kehilangan kembaran nya. Hanya Topan seorang yang belum terlihat. Dia pun dan lainnya berteriak seraya mencari Topan di antara puing puing ledakan.
__ADS_1