Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Niat Ingin Kabur


__ADS_3

Di pelataran, Ama dan Lautan baru sampai. Lautan berjalan lemas menuju pintu, dia gagal untuk mendapatkan dompetnya kembali dari pencopet seksi.


"Awas aja ketemu lagi, gue pitis lo," gerutunya. Ama hanya tersenyum tipis mendengarnya.


Sampai di sebuah ruangan, di mana para Kurcil lainnya berkumpul santai kecuali Topan yang sudah tidur bersama Gerhana.


Kening mereka berkerut kompak saat menyadari wajah Lautan yang ditekuk lemas.


"Kenapa?" tanya Petir. Perhatian sebagai kakak.


"Sedang patah hati kah?" goda Angkasa seraya memaksa wajah Lautan untuk menghadap ke arahnya.


"Apa sih!" tepis Lautan akan tangan Angkasa di wajahnya itu.


"PMS 'kah? aku ada kunyit asem, mau?" tawar Vay dengan nada bercanda. Lautan hanya mendelik malas.


"Dia habis ngemodusin cewek seksi di pantai, digerepein sama tuh cewek, eh... tau-taunya maling," jelas Ama menehan senyumnya agar Lautan tidak cemberut berlebihan.


Hahaha...


Sorak tawa geli pun menghadiahi Lautan, membuat anak kedua Langit itu semakin menekuk wajahnya. Mereka bukannya prihatin malah tertawa puas. Sahabat laknat memang mereka!


"Terus saja ketawa," cetusnya. Angkasa yang ada didekatnya dapat injakan kesal. " Dah ah, aku mau tidur. Lihat saja kalau ketemu tuh cewek, aku tembak mati," racaunya kesal dalam langkahnya.


"Kita pun tidur, besok akan menjadi hari libur yang sangat panjang," ujar Petir ke semuanya. Tapi matanya itu tertuju misterius ke Vay yang sudah membuat janji untuk berduel di atas ring. Ah, tidak sabar! lirihnya tersenyum cerdik.


...****...

__ADS_1


Sinar matahari sudah menampakan wujudnya di pagi hari yang cerah ini.


Gerhana bangun dari tidurnya, menoleh kesamping untuk memastikan keberadaan si batu.


Pakai ini, kami menunggumu di meja makan.


Notes itu dibaca malas-malasan oleh Gerhana yang tertumpu di atas pakaian indah yang disediakan Topan untuknya.


"Menurut manis Gerhana, nanti kalau ada kesempatan, baru kabur," otaknya memberi ide luar biasa. "Pokoknya, aku harus keluar dari sini." tekadnya.


Di meja makan, team Kurcil sudah berkumpul untuk sarapan bersama.


Ehemm...


Topan berdehem, kode untuk bersabar. Sebelumnya dia telah berkata sopan untuk menunggu Gerhana, baru boleh ada yang makan. Bukannya makan bersama-sama itu nikmat? itulah yang diterapkan Topan.


"Astaga, perut ku kok meronta ronta ya. Lama banget sih Nana?" keluh Ama yang hobinya makan. Melihat makanan diangguri sedikit lama membuat ludahnya berliur.


"Aku akan menyusul__" belum kelar Topan bersuara. Gerhana sudah datang menggunakan baju yang dibelikan Topan yang sengaja memborong satu butik khusus Gerhana secara dadakan. Manis! itulah kesan Topan di pagi hari ini untuk Nana. Cuma dalam hati saja. Pokoknya, dia harus berperilaku santai di hadapan semua orang, jangan sampai di cap bucin oleh Kurcil. Nanti bisa muak karena diolok-olok.


"Maaf, telat." ujar Gerhana merasa canggung.


Pe tersenyum ramah dan berkata. "Santai saja. Duduk di sini atau mau dipangku oleh Topan?" godanya seraya menepuk kursi yang berada di sisinya.


Topan hanya datar, beda dengan Gerhana yang langsung memerah malu. Dia semakin canggung. Entah apa kesalahannya sehingga di sangkut pautkan oleh orang-orang rupawan tapi berjiwa sikopet.


"Kamu ingin membuat kami keroncongan lebih lama lagi, Nana? duduk dan makan sarapan mu!" Topan bersuara dingin.

__ADS_1


Katanya pacar, tapi suaranya tidak ada lembut lembutnya. Menyebalkan! Gerutu Gerhana dalam hati. Dia pun akhirnya duduk di antara kursi Pe dan Topan, sementara di depannya yang tersekat meja ada Badai yang tersenyum tipis padanya. Ah, andai Topan mempunyai senyum, mungkin akan terkesan sedikit lebih baik. Sedikit doang ya.


Mereka pun sudah mulai bersantap, tidak ada obrolan yang terdengar diaktivasi makan itu, hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu. Dan itu adalah peraturan di antara mereka karena memang tidak baik bercanda atau pun sekedar mengobrol dalam kunyahan.


Gerhana makin dibuat bingung dengan sifat asli sepuluh kepala di hadapannya. Kadang humoris, datar, dan kadang pula terlihat mencekam kalau dalam keheningan. Apalagi Topan sesekali meliriknya dengan ekor matanya.


" Ihh, mengerikan," batinnya seraya mengunyah pelan sarapannya.


"Aku sudah selesai. Boleh tidak aku berjemur di taman?" Dusta Gerhana. Semua orang pun menatapnya. "A-aku butuh vitamin alami dari sinar matahari agar tidak dihinggapi penyakit kuning," sambungnya menjelaskan agar tidak di curigai. Dia ingin kabur. Titik!


"Di sini terlalu asing bagimu, alih-alih ingin sehat yang ada melah buntung. Kamu tidak tahu kalau di setiap area khusus ada jebakan sistem yang tersebar. Mengerti?" cerca Topan tidak mengijinkan.


Gerhana mengerucutkan bibirnya, tanda dia tidak suka dengan cara Topan yang menggila. Dia memang masalah besar, batinnya.


Yang lainnya pada diam tidak mau ikut campur. Ngapain juga repot-repot, Kan, tugas Topan yang menjaga Nana. Jadi pergi liburan lebih asyik.


"Aku duluan ya, ada pameran lukisan yang sayang beut dilewatkan." Pe beranjak cepat. Bebas pokoknya dari belenggu Topan.


"Pe, kali ini aku mempercayai mu, tapi kalau ketahuan bohongnya, a-w-a-s saja." ancam Topan dengan suara dingin, dia tahu kalau Pe memakai kesempatan emas kesibukannya untuk lepas dari pengawasannya.


"Santai!" sahut Pe dengan jempol terangkat.


Dan semuanya pun bubar dengan kesibukan masing-masing.


"Aku dan Vay pun ada acara," tandas Petir menarik tak sabaran pergelangan Vay. Anak Nata itu hanya pasrah, dia juga tidak sabaran untuk mengerjai Petir di saat pertarungan nanti. Entah siapa yang akan menang? Kelicikan anak mantan celuk-celup--Nata atau kelicikan anak mantan celup-celup--Langit?


Entahlah?

__ADS_1


...****...


__ADS_2