
Topan keluar dari ruangan, seketika mata para rekan dan adik-adiknya menatap mangsa kepadanya macam daging segar siap diterkam.
"Kalau bosan punya mata tinggal congkel aja." Ketus Topan ke semuanya. Pe pun kena semprot.
Sembilan Kurcil masih tidak bergeming, datar semua. Padahal mau mencerca Topan akan aduan si Twins kalau si Simba di dalam sana sedang otw smackdownan ah uh ah.
"Kak, wik-wik-nya uda? kok cepat amat?" tanya Bhumi sok polos.
"Pasti gerak cepatlah, takut nanggung. Iya nggak, kak?" sambung Angkasa.
Topan ingin senggol bacok jadinya. "Kalau iya memang kenapa? masalah buat kalian?!!" Tantangnya.
Dari pada dituduh sekalian aja membetulkan. Menjelaskan juga nanti ujung ujungnya mereka kagak percaya. Orang kalau sudah mengambil kesimpulan sendiri maka akan susah untuk diubah dengan untaian kata, bukan? jadi biarkan saja mereka berpikir bebas tentang dirinya.
"Masalah? Tentu saja! Lo mikir pakai otak dong, Pan?! Gerhana itu anak musuh kita. Jangan mentang-mentang Lo uda dipuasin sama dia, terus main lepas tangan begitu saja! Mana tingkat keprofesionalan Lo tentang misi kita, hah? Lo lupa siapa dalang masalah memblibet ini? Lo, Topan! Karena kekerasan kepalaan Lo yang mempertahankan chip projects itu secara diam-diam dari orang tua kita. Sini gue ingatkan lagi kalau-kalau Lo lupa??! Om Biru serta orang tua kita masing-masing sudah menghancurkan laboratorium milik kita menggunakan bom Purnama beberapa tahun silam. Tapi Lo! Lo keras kepala menyimpan data-data pembuatan kimia yang dampaknya berbahaya itu! Dan berujung apa, hah? Xian mengetahui hasil kejeniusan kita dan berakhir kisi-kisi di dalam chip itu terancam jatuh ke tangan orang tidak bertanggung jawab atau memang sudah? Pikir, Gerhana adalah musuh kita!!!"
__ADS_1
Suasana menegang. Petir ikut menantang seraya menunjuk-nunjuk wajah Topan kesal. Bahkan Lo gue uda keluar dari mulutnya. Masalah chip? semua penjelasan Petir memang benar adanya kalau itu adalah kesalahan Topan.
"Iya, aku tahu itu adalah salahku," lirih Topan mengakuinya. "Tapi Gerhana tidak memegang chipnya." ungkap Topan terdengar yakin. Dia melengos membelakangi para rekannya. Hatinya lagi gegana.
"Kamu lemah, Pan!" ledek Pelangi. Dalam hati berucap kesempatan mengerjai kakaknya. "Maka bunuh dia__ ah, aku saja yang melaksanakannya."
"PE!" sentak Topan menatap tajam. Pelangi terkejut bukan main, baru kali ini suara dingin Topan mencubit perasaannya dan itu hanya karena membela anak musuh mereka. Dahsyat sekali bukan virus-virus cinta itu? Pe menyeringai dalam hati. Dia tidak sakit hati, malah semakin ingin menggoda si Simba. Biarkan kembarannya marah.
"LO!" Badai yang tidak terima. Dia sudah menanggalkan kata sopannya ke Topan. Bahkan, Badai sudah berkacak pinggang galak di depan Topan.
"Nana? Apakah kalian ingat nama itu?" Topan menatap Petir, Badai dan Pelangi. Hanya ke-tiga orang itu yang kenal Gerhana kecil.
"Anak panti itu." Pe mengingat betul siapa Nana, Inces lemot teman favorit Topan yang cengeng terhakiki, ngantri paling belakang ngambil santunan saja nangis kejer tuh bocah.
"Apa hubungannya dengan bocah cengeng terhakiki itu?" Badai bertanya heran. Di angguki Petir pun.
__ADS_1
"Gerhana di dalam adalah Nana. Dia yang selama ini aku cari-cari." Topan mengeluarkan kalung berliontin bulan milik Gerhana. Memamerkan ke mata para sahabatnya.
"Yakin kamu, Pan?" tanya Petir.
Topan mengangguk. Dan terjadilah keheningan dengan pikiran masing-masing. Vay dan Ama yang tidak kenal siapa itu Nana bin Gerhana hanya membisu bingung.
Di dalam ruangan, para Kurcil tidak tahu saja kalau Gerhana lagi mencoba kabur. Dia keluar melalui jendela dan mengendap endap bak maling.
"Uh." Dia melenguh pelan seraya bersembunyi dari anak buah Topan yang sedang berpatroli.
" Jangan sampai ketangkap, Gerhana!" Doanya dalam hati.
"Siapa di sana?"
Gerhana segera bersembunyi masuk keruangan gelap kotor dan pengap di saat pergerakannya hampir terciduk.
__ADS_1
Meong... cicitnya mengelabui anak buah Topan. Meong... meong...meong...