
Sementara, orang yang dicemaskan dan dicari cari keberadaannya oleh Kurcil. Pelangi, sedang di atas bed dengan posisi tengkurap. Mata itu terpejam lemah tidak sadarkan diri sehabis pasca operasi untuk mengambil peluru yang ada di bagian punggungnya.
Demi menghindari musuh yang tidak terduga, Guntur telah membawa Pelangi ke sebuah villa yang setara bak hotel bintang lima. Bangunan tersebut adalah tempat pribadinya. Dan yang memantau kondisi gadis itu adalah team medis kepercayaan Guntur sendiri.
Tidak tanggung-tanggung bangunan tersebut mempunyai ruangan medis yang lengkap, setara perlengkapan kesehatan milik Badai.
"Bagaimana kondisinya, Embun? apakah ada kemajuan? Aku tidak mau ada kabar buruk lagi tentangnya."
Guntur segera mencerca ahli medis perempuan muda nan cantik yang saat ini sedang mengganti cairan infus Pelangi yang sudah habis. Dia baru masuk dengan rambut basah sehabis mandi.
"Dia tidak sadarkan diri karena efek obat bius. Percaya padaku, dia akan baik baik saja." Ujar Dokter itu dengan nada seperti teman bukan sekedar atasan dan bawahan. Menjawab pun tidak menoleh sama sekali, hanya sibuk dengan selang infus yang sedang diatur ritme tetesnya.
"Tapi... siapa dia, Guntur? apakah wanita ini yang telah kamu tunggu tunggu, sehingga cintaku juga cinta Belen kamu tolak mentah-mentah?"
"Ya, dia orangnya." Guntur menjawab santai tanpa memikirkan perasaan Embun yang memang menaruh hati kepadanya.
"Hm, cantik sih?" Wanita yang mempunyai kulit tanned itu menatap dalam-dalam wajah Pelangi. "Tapi, apakah dia tangguh? kalau dia bisa mengalahkanku di area duel, aku sih rela saja mengubur cintaku padamu. Namun, kalau kamu bersama Belen si sombong itu yang jauh levelnya dengan ku, maka sorry...aku tidak rela. Mending ku suntik mati si Belen lont* itu, agar kalian tidak bisa bersama."
Guntur tersenyum tipis mendengarnya, sahabatnya ini sangat lucu baginya, tapi bar-bar punya perangai itu.
__ADS_1
Beda dengan Embun, nadanya memang bercanda, tetapi hatinya amat cemburu. Dari dulu dia dan Belen yang mati matian caper di hadapan anak sultan dari Timur onta ini, eh....ada wanita lain yang amat mudah sekali mendapatkan perhatian dan rasa suka Guntur. Tidak adil beut 'kan? nasib!!!
"Aku sudah menganggap kamu adikku. Dengan itu, ku mohon... jangan selalu menyiksa diri sendiri untuk menggapai mimpi yang tidak akan nyata." Guntur menepuk pundak Embun sejenak, lalu duduk di sisi kasur empuk yang dipakai Pelangi.
"Adik ketemu gede. Sudahlah, aku pamit dulu. Mau nyari keindahan diluaran saja." cetus Dokter itu dan berlalu pergi dengan kaki menghentak kesal.
"Mbun, awas kakimu nanti copot, dan jangan pulang malam malam. Banyak buaya yang suka melihat wanita seksi seperti mu."Guntur meledek teman sekaligus orang yang paling dia percayai dalam teamnya.
Buaya? andai kamu buaya itu, aku rela pakai banget dilahap oleh mu.
"Aku memang mau mencari buaya, biar hatiku tidak cubit-cubit lagi oleh mu."
...****...
"Ini karena kebodohan mu, Badai! Kenapa kamu mempercayai laki laki itu, hah?"
Bugh...
Di markas, Topan mengamuk menyalahkan Badai. Dia tidak bisa mengontrol emosinya yang mengubun tinggi hingga tanpa sadar penuh kereflekan, Topan men-jab pipi kanan Badai.
__ADS_1
Petir dan Guruh segera memisahkan adik kakak itu yang sama-sama meradang emosi.
"Ya! aku mengakui keselahanku. Tapi apa kamu tidak ngaca, hah? Pe pergi keluar tanpa alat lacak karena rantai tak kasat mata mu. Fine, aku pun merantai nya tapi tau batasan." Desis Badai ikut emosi. Telunjuk itu menghardik Topan yang tertegun, sementara dianya di tahan oleh Twins berikut Lautan.
"Apakah dengan ribut bisa menemukan Pelangi, hah? otak kalian telah dimakan emosional yang tidak terkontrol."
Praaang...
Anak kerajaan bisnis itu-Vay melempar guci keramik yang ditariknya di meja hias. Semua nampak kaget ulah Vay yang ikut mengamuk.
"Contohnya guci pecah itu! Kalau kalian dan semuanya bertengkar, pasti akan pecah seperti benda itu. Apa kalian mau seperti itu, hah? Dan kamu, Pan. Kamu selalu merasa benar! Seharusnya kamu jaga tangan entengmu untuk tidak menyakiti team sendiri. Aku yakin, disaat insiden tadi, Badai pasti juga bingung antara menyelamatkan Pe atau membunuh si tersangka terlebih dahulu agar tidak kabur."
Ocehan Vay tidak ada yang menyahut, Topan sendiri hanya mengusap wajah amat prustasi. Gerhana meringis melihat ketegangan yang ada dihadapannya.
"Kak! Mau kemana? ini sudah malam!"
Badai pergi membawa rasa campur aduk karena marah pada Topan sekaligus ke diri sendiri, karena merasa tidak bisa menjaga Pelangi. Dia menghiraukan pertanyaan Bhumi yang meneriakinya.
"Biarkan dia sendiri, Bhum. Aku yakin dia akan baik baik saja."
__ADS_1
Suara Petir menghentikan langkah Bhumi yang ingin mengejar Badai.