Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Definisi Cinta Gerhana


__ADS_3

Gerhana hanya duduk bosan di dalam kamar Topan. Selama tinggal di markas, dia memang dapat penjagaan ketat sampai-sampai dianya selalu tidur dalam kamar bersama.... pemaksaan! Tetapi hanya tidur ya, tidak wik wik...catat!


Ceklek...


Topan masuk. Dan Gerhana hanya diam dengan menyibukkan diri membersihkan kuku yang sebenarnya kukunya itu sudah bersih.


"Biasanya seorang wanita itu amat menyayangi kukunya, hingga ke salon seperkian lamanya demi menghasilkan kuku yang bagus. Tetapi, kenapa kamu malah memotong kesal kukumu sendiri, Nana?" tanya Topan.


Gerhana diam saja, sesekali melirik Topan yang amat santai membuka kancing kemejanya. Kuku lentik bagian jari kelingkingnya sudah jadi korban.


"Na," panggil Topan seraya duduk di dekat Gerhana di sisi kasur itu. Kini dadanya sudah berpolos ria, Topan memang suka tidur tanpa menggunakan baju.


Gerhana tidak bergeming sama sekali. Bibirnya dia manyunkan.


"Aku berjanji, besok aku akan membawa mu jalan jalan, dengan syarat tidak boleh kabur dan tidak boleh cemberut seperti ini."


"Benarkah?" Gerhana langsung antusias dengan mata penuh binar menatap mata Topan.


Benar dugaanku, dia bosan dikurung terus, batin Topan seraya mengangguk kecil.


"Oke! waktunya tidur." Gerhana tersenyum manis. Memasang bantal guling ditengah-tengah sebagai pembatas mereka di kasur itu.


"Selalu jaga batasan ya, Mr Stone." kata Gerhana memperingati Topan. Sejurus dia pun merebahkan tubuhnya.


"Hm, bukannya kamu yang selalu tidur seperti kuda liar, Inces Lemot," balas Topan tidak mau kalah.


Gerhana hanya tersenyum geli mendengarnya karena memang betul perkataan Topan. Setiap dia bangun di pagi hari, tubuhnya kadang kala membuat Topan sebagai guling.


Keduanya sudah berbaring di kasur itu dengan mata kompak menatap langit-langit.


"Pan, berikan aku alasan kuat! kenapa kamu ingin menjaga ku yang katanya, di luaran sana banyak musuh yang mengincar ku?"


Inilah pertanyaan Gerhana yang selalu memberatkan otaknya. Cinta? itu tidak mungkin, pikir Gerhana menipis rasa suka Topan si hati batu itu.

__ADS_1


"Aku mencintaimu! apa itu belum cukup alasannya, Nana?" ungkap Topan dengan mata sudah menoleh ke arah Nana.


"Betulkah? itu terlalu mengada-ngada, Topan. Syukurnya, aku bukan tipe cewek yang baperan. Kalau aku termakan kata itu, terus menaruh harapan dan akhirnya kamu hanya berkata isapan jempol doang, bagaimana? pasti aku menangis sakit tak berdarah."


Nada Gerhana dibuat bercanda. Padahal, dia sudah merasakan baper akan rasa suka Topan yang entah benar atau hanya sekedar mempermainkannya saja.


"Apa kamu ingin bukti, eum?" tanya Topan penuh arti.


Bodohnya, Gerhana mengangguk cepat.


Dan Sekonyong-konyongnya, Topan sudah menindihinya dengan wajah amat dekat.


"Tu-turun! apa yang mau kamu lakukan?" Degup jantung Gerhana bekerja dua kali, antara berdegup takut dimakan, juga degupan hangat berdesir tidak karuan menyerang dadanya.


Sial, jangan terpesona, Gerhana! batinnya menepis rasa tidak karuannya. Wajah si batu ini memang bidadara, idaman kebanyakan ciwi ciwi termasuk dirinya sebagai wanita normal.


"Katanya mau bukti, maka aku akan membuktikannya," santai Topan. Dalam hatinya, dia amat gemas melihat wajah Gerhana yang sudah mengeluarkan blush on alami.


"Buk-bukti? Aahh, tidak jadi. Aku mau tidur! jadi minggir."


"Apa kamu tau arti pembuktian cinta itu seperti apa, Nana?" tanya Topan sengaja tidak mau turun dari tindihannya. Empuk gitu lho, tapi yaaak... itu, di bawah sana si Juni berangsur hidup, berkedut kedut tidak jelas.


Tetapi, sebagai laki laki bertanggung jawab, yang berpanut kuat tentang rasa hormatnya terhadap wanita baik baik seperti Gerhana, Topan rela menahan hasratnya, meskipun kepalanya sudah berdenyut-denyut.


"Kalau tau, coba kamu buktikan! Ah, pasti kamu tidak tau. Secara, kamu hanya meminjam smartphone ku untuk melihat video mukbang semata. Bukan untuk hal belajar yang lebih berfaedah."


Topan sengaja pakai benget menipu nipu halus gadis cantik tapi lola ini.


Dan benar saja, hidung Gerhana sudah kempas kempis karena mendengar ucapan Topan yang meremehkannya.


Tapi tunggu dulu? Kenapa Topan bisa mengetahui bahwa dia sering meminjam handphone, saat sang empunya mandi lama bak seorang putri? Malu deh ah, batinnya.


"Oke, aku akui. Aku memang meminjam handphone mu untuk melihat mukbang. Tetapi, itu karena aku bosan. Lagian, kamu juga kalau mandi seperti sedang tidur di dalam sana, kan aku tidak ada temannya alias sepi. Aku aja yang notabenenya seorang cewek selalu mandi bebek...."

__ADS_1


Topan tidak mau lepas dari bibir Gerhana yang berketus ria. Dia semakin gemas dibuatnya.


"Dan kata siapa mukbang itu tidak ada faedahnya? ada kok... misalnya kita yang tidak tahu nama makanan Negara asing di luaran sana, jadi tau! Iya kan?" Teori Gerhana memang simpel kok. Topan tersenyum tipis dibuat si Inces lemot ini.


"Dan tentang pembuktian cinta? Bagaimana, Nona?" tanya Topan masih bertanya penuh arti. Mana tahu si Inces tertipu.


"Taulah! Tapi sedikit saja contohnya, ya? aku takut kamu tidak kuat!" polos Gerhana akan memberikan contoh ala-ala pembuktian cintanya.


Topan sudah mengangguk tidak sabaran. Asyik, batinnya akan merasakan kemesraan dari Gerhana yang jarang jarang terjadi karena Gerhana sebelumnya selalu tidak mau berdekatan sebelum dipaksa.


"Siapakan diri mu," kata Gerhana lagi. Dia terlihat sedang menahan nafas kuat-kuat.


"Oke, aku akan memejamkan mata," siap Topan yang sudah memejamkan matanya. Pikirnya sih, agar Gerhana tidak malu yang mau menciumnya.


Dan Gerhana pun siap membuktikan arti kata cinta ala ala definisinya sendiri yang unik pakai banget.


Proot... Tut... Preeeotttprorrteterer.


Lega! Nafas Gerhana yang sengaja ditahan demi membuat ledakan gas alaminya bin kentutnya. Keluar sudah dengan nada berbeda-beda, dan lebih lazimnya... suara kentut yang terakhir terdengar seperti penyanyi sariosa yang nadanya bulat bulat panjang.


Lantas, Topan membuka matanya. Mengapit hidungnya pun menggunakan jempol dan telunjuknya.


"Na! Kamu sakit perut, kah? Bau amat, gila!" Topan tidak tau harus marah atau apalah itu. Dia segera turun dari tindihannya. Ambyar sudah mau mesra mesraannya.


Dengan santai dan tanpa wajah berdosanya, Gerhana menyahut dengan iris menatap berani ke-dua mata Topan.


"Tidak! aku tidak sakit perut melainkan itu adalah definisi pembuktian cinta simpel ku. Cinta memang manis, tetapi kadangkala awalnya saja. Bilamana sudah saling berbagi kemanisan madunya di awal kisah, tanpa saling memahami keburukan dan kekurangan dahulu. Maka, biasanya hanya kehambaran yang tersisa... Terus, apalah arti cinta bodoh itu, eum? Kehancuran, sakit hati, dan berujung perpisahan. Paham dengan peribahasa ku, Mr Stone???"


Setelah berucap, Gerhana segera merapatkan selimutnya. Dan memberi punggung untuk Topan.


"Ya, aku paham..." lirih Topan menatap punggung gadis itu.


Kamu tidak mau disentuh sebelum ada kata sah bukan, Nana? Tenang saja, aku akan membuktikan cinta ku setelah chip itu sudah keluar dari dalam tubuhmu dan orang-orang yang menginginkan chip itu mati di tangan ku. Itulah waktu tepat untuk kita bersatu.

__ADS_1


Perlahan-lahan, Topan merengkuh tubuh Gerhana dari belakang ketika menyadari nafas Gerhana sudah teratur... tandanya sudah terpulas. Dan sebelum masuk ke dalam alam tidurnya, dia terlebih dahulu mencium rambut Gerhana.


__ADS_2