
Di sisi Topan dan Gerhana, keduanya memasuki kamar Pe. Saat ini, si cantik Pe duduk tegang menahan sakit punggungnya yang telah diganti perbannya oleh Badai.
"Hati-hati, Dai." Topan memperingati agar jangan melukai Pe.
"Aku tau dan aku Dokter-nya di sini," sahut Badai malas tidak mau melirik Topan. Mood ngambek.
"Apa kalian mau pergi?" tanya Pe karena melihat Topan dan Gerhana sudah rapi yang setia berdiri di hadapannya.
"Eum, aku ajak Nana jalan jalan, kamu mau ikut?" tawar Topan penuh kelembutan.
"Tidak boleh!" Badai yang menolak cepat. " Luka Pe masih basah. Dia tidak boleh melakukan pergerakan banyak terlebih dahulu."
Badai melerai bukan sebagai saudara melainkan seorang Dokter.
Topan hanya datar seraya menghela nafas pelannya. Rupanya, Badai masih saja marah kepadanya perihal insiden pemukulan itu. Biarkan, nanti juga adiknya itu luluh sendiri, cuek Topan.
"Kalian pergilah. Nanti ada Twins yang akan menemani ku setelah Badai pergi," kata Pe tersenyum manis ke Gerhana. Dan dibalas senyum indah dari Nana pun.
Topan dan Gerhana pun pergi meninggalkan kamar Pe. Badai benar benar cuek, hingga Pe mencubit pipi adiknya yang menyadari kekesalan Badai ke Topan.
"Jangan ngambek gitu, ah. Kagak baik, Dai. Di sini, akar permasalahannya adalah aku. Jadi, ku mohon maafkanlah Topan yang sudah memukulmu." tangan Pelangi mengelus sayang pipi Badai yang masih sedikit membiru.
"Aku ada urusan kerjaan, baik baik ya." Badai mengabaikan kata maaf Pe, karena merasa yang harus minta maaf adalah Topan. Dia beranjak pergi meninggalkan Pe yang menunggu jawabannya.
"Punya saudara aneh semuanya," gerutu Pe.
...****...
Di perjalanan, Topan mengendarai mobilnya seraya patuh mendengar titah Gerhana yang entah mau pergi kemana si Inces ini.
"Na, sebut saja nama tempat atau alamat lengkapnya, biar tidak berisik."
"Oh, jadi menurut kamu suara aku sangat berisik menggangu mu? begitu?" Gerhana menoleh sinis.
Emang! Topan hanya membatin dengan mata terus memperhatikan jalan di depan.
"Belok kanan, setelahnya ada pertigaan. Kamu ambil jalan kiri, ada pasar khusus penjual ikan. Nah, itu tempatnya." ketus Gerhana karena dibilangin perempuan berisik.
Pasar ikan? walaupun penasaran, Topan segera melesatkan mobilnya ke tempat yang di tuju Gerhana, dia tidak mau terlalu banyak bertanya.
Hingga, mobil pun terparkir asal asalan saat sampai di sebuah pasar yang terletak tidak jauh dari pesisir pantai.
Amis ikan, bau keringat pengunjung serta pembeli, seketika menyeruak menggangu hidung Topan yang tidak biasa ke tempat kotor nan becek itu. Gerhana sih santai saja. Bahkan, Gerhana amat riang berjalan mendahului Topan yang terlihat canggung untuk masuk ke area penjual ikan yang tidak beraturan lapaknya.
"Na, tunggu!" teriak Topan. Mau tidak mau dia mengikuti Gerhana. Sesekali Topan dapat tatapan khusus dari pelanggan pasar karena terpesona dengan ketampanannya.
"Kamu mau ngapain disini sih?" bingung Topan. Dia segera menggenggam tangan Gerhana agar tidak semaunya meninggalkan dirinya.
Gerhana tidak masalah dengan tangan Topan, bahkan dia tidak sadar kalau dia pun membalas genggaman itu.
__ADS_1
"Aku mau cari uang," ungkap Gerhana sedikit berteriak karena pasar dalam ramai pengunjung. Mereka terus berjalan ketengah tengah pasar.
Bugh..
Pundak Topan sedikit tersenggol oleh orang, tapi dia abaikan karena tau ini pasar maka pasti tidak jauh dari desak desakan.
"Aku bisa memberikan mu! katakan berapa? dan mau buat apa?" tawar Topan. Menyanggupi segala kebutuhan Gerhana.
"Itu bukan hak mu. Di luar dari itu, ada seseorang yang membutuhkan tenagaku di sini, jadi bukan hanya karena uang melainkan kepedulian sesama." Gerhana tersenyum manis, sangat manis hingga Topan terpesona melihatnya.
Setelah berjalan desak desakan, Gerhana pun berhenti dan otomatis Topan juga tertahan di depan lapak seorang wanita tua ber-uban nan sedikit bungkuk karena usia.
Lapak itu sepi dari pembeli, tidak seperti lapak lainnya yang terus berteriak-teriak memanggil pelanggan.
"Mau beli ikan apa___ Gerhana? Kamu kemana saja? Nenek rindu!"
Nenek tua itu memeluk Gerhana penuh kehangatan. Gerhana pun membalasnya.
"Hehehe, maaf ya, Nek! Aku sedikit ada Ma-sa-lah, jadi baru datang lagi."
Saat mengeja kata Ma-sa-lah, Gerhana menatap penuh arti Topan. Lebih tepatnya, menyindir Topan. Tetapi yang dilirik malah memasang wajah datarnya.
Nyebelin, dasar batu! Umpat Gerhana dalam hati.
"Masalah?" ulang Sang Nenek itu.
"Ah, sudahlah, Nek. Tidak penting!" ujar Gerhana dan segera mengambil posisi untuk menggantikan nenek itu berjualan.
"Apa Anda akan terus berdiri di situ, Pak Topan? Menyingkirlah dari depan lapak ku!"
Topan budek, dia masih dalam lamunan terpesona nya. Hingga, Gerhana yang tidak sabaran, segera menarik tangan Topan untuk berdiri di belakangnya.
"Ada apa?" Tanya Topan bodoh.
Gerhana tidak lagi menyahut, lebih memilih memulai berjualan dengan berteriak... " Ikan...ikan...Pak, Bu. Ikan segar, ada udang juga kepiting."
Topan yang tidak mau menggangu, hanya setia berdiri. Sesekali dia tersenyum kagum dari belakang tubuh Gerhana yang tidak menyerah memanggil pelanggan padahal sudah setengah jam, suara Gerhana hanya terbuang sia sia.
Sungguh, ternyata Inces lemot ini jiwa penuh perjuangan, tidak mudah mengeluh dalam bekerja.
"Bu, ikan tunanya, Bu!" Gerhana menawarkan lagi ke Ibu ibu yang sialnya, tidak menoleh sama sekali. Pembeli mah raja dan ratu. Beeeh, dalam hatinya sih... Gerhana sudah meneriaki orang cuek seperti itu. Memang hak pengunjung sih, tapi seenggaknya menoleh apa salahnya coba.
Uhuuk...
Gerhana sampai batuk batuk karena merasa tenggorakannya kering kebanyakan berteriak. Tetapi satu pelanggan pun tidak ada yang tertarik kepada dagangannya.
"Padahal ini pada segar semua lho." Lirih Gerhana melirik macam macam ikan di hadapannya. Kepiting dan udang udang pun masih pada segar sekali karena masih hidup di dalam aquarium terpisah. Bedanya, kepiting itu sudah dibelenggu jari jarinya agar tidak kabur.
"Coba aku ya." Topan ingin menjajal pemasaran langsung. Dia kasihan melihat wanitanya kerja keras tapi tidak ada satu pun pembeli.
__ADS_1
"Memangnya orang tajir seperti mu bisa?" Gerhana meremehkan. "Udahlah, aku saja yang sudah biasa, terbatuk-batuk kering kerontang nih leher. Tetapi biasanya ramai lho. Tumben sekali hari ini sepi. Apa jangan jangan karena ada kamu? Pelanggan ku pada takut melihat otot otot bicep ini?"
Gerhana menyalahkan Topan, saat berkata ini, tangan itu mencolok colok otot lengan Topan.
"Kamu meremehkan dan menyalahkan ku, Nona?" Datar Topan seraya melirik jari Gerhana yang masih mentoel ototnya.
Gegas, Gerhana menarik tangannya lalu tercengir bodoh ketika melihat mata tajam Topan.
"Berapa perkilonya?" Tanya Topan seraya mengangkat kedua sela ketek Gerhana seperti anak kecil yang mau digendong orang tuanya.
"Topan!" Pekik Gerhana di udara itu. Sejurus dia sudah di belakang Topan. Berganti posisi.
"Huu," Gerhana menaruh tinjunya di belakang kepala Topan, pertanda kekesalannya. Namun dia tertangkap basah karena Topan segera berbalik.
"Hehehe," cengir Gerhana dengan kepalan tangannya masih mengudara persis di depan hidung Topan.
"Singkirkan, atau ku gigit?" Topan sudah membuka bibirnya, seolah mau menelan tangan Gerhana. Lantas, Gerhana segera menarik tangannya. Nenek yang tua itu setia bola matanya menatap dua anak muda yang ribut tapi terkesan romantis di mata senjanya.
"Jadi perkilonya berapa?" Tanya Topan.
"Itu 10$ dolar. Ini 15$, 5$ dan itu...." Gerhana menjelaskan semua harganya yang berbeda beda. Topan dengan mudah mencernanya.
Dan sejurus pun Topan mengambil posisi marketing pemasarannya.
"IKAN SEGAR PENUH PROTEIN! BELI PERKILO, GRATIS SATU KILO! IKAAAANN__ hmmmpp."
Gerhana segera membekap mulut Topan yang berteriak membahana. Dia tidak terima kalau Topan mau membuat bangkrut modal kecil yang di miliki sang Nenek. Sialnya, beberapa pengunjung seketika tertarik dan mendekat ke lapak sederhana itu.
"Betulkah beli satu kilo, gratis satu kilo lagi?" Tanya ibu ibu. Topan mengganguk yang masih di bekap oleh Gerhana.
Melihat persetujuan kepala Topan, Gerhana semakin kesal. Hingga, sangat kuat dia menginjak kaki Topan di bawah sana, lalu melepaskan bekapannya segera mungkin karena pembeli kian berdatangan ulah Topan yang meracau.
Rugilah! keluh Gerhana dalam hati dengan wajah cemberut akut. Tidak seperti Topan yang selalu setia dengan wajah datar namun sialnya selalu tampan untuk di benci.
"Ini ya. Lima kilo saja, tampan." Ibu yang lainnya menggoda Topan seraya menunjuk ikan tuna segar.
"Aku udang dua kilo."
"Bawal tiga kilo."
"Ikan tampan eh tongkol dua kilo."
Semua ibu ibu itu malah genit. Topan yang di goda mah, cuek bebek seraya melayani semua ibu ibu buntel bin gemoy di hadapannya. Yang penting laris, iye kan? Buat apa coba punya ketampanan terhakiki, tetapi tidak digunakan untuk menjadi marketing hebat. Ck, disayangkan.
"Satu kilo masing masing 30$ ya, ibu ibu. Tanpa terkecuali. Harga rata semua nya, baik itu ikan kecil sampai yang besar pun."
Inilah taktik smart penjualan Topan. Katanya saja beli satu kilo, gratis satu kilo. Tetapi sama saja bohong. Laaah, Gerhana kan tadi bilangnya cuma berharga paling tinggi 15$ bin 220.330 IDR kurang lebihnya segitu perkilonya. Sementara Topan menghargai semua hasil laut rata rata 30$ tanpa terkecuali yang tadinya harga 5$ pun naik berkali-kali lipat. Rugi apa untung?.
Ajibnya, pembeli yang didominasi Ibu ibu itu, malah kagak protes, setuju setuju saja bak terhipnotis oleh ketampanan itu.
__ADS_1
Gerhana sampai speechless melihatnya, dan satu lagi yang meresahkan.... Topan memakai marketing lainnya dengan cara, beli lima kilo per-orang, maka boleh berselfi ria. Kok dia cemburu ya melihat Topan di kerumunin ibu ibu? Mana si batu tidak menolak lagi pipinya di cubit-cubit gemas. Hadeeh!
Astaga, ini keterlaluan! Demi Gerhana, Topan menahan diri dalam hatinya untuk tidak menghempas satu persatu pembeli itu yang telah berani menyentuh pipinya.