
"Benda asing jenis apa, Dai?" Topan bertanya tidak sabaran.
Badai belum menjawab, dia masih mencoba mendeteksinya dan berharap layar pembaca CT scannya itu eror semata.
"Jawab dong, Dai. Lo mah, bisu dan tuli." Petir saja tidak sabaran apalagi seorang Topan yang sudah menandai Gerhana masuk keteritorinya.
"Sabar!" cetus Badai. "Ini juga lagi dipastikan." terangnya tanpa mata teralihkan ke monitor serta tangannya masih bermain di keyboard.
Dan keheningan terjadi beberapa saat, Kurcil memberi ruang ke Badai untuk berkonsentrasi.
"Benar! Aku tidak salah, benda asing itu tertanam di lengan kiri Gerhana," yakin Badai memfinalkan keputusannya. Matanya pun tertuju ke Vay.
"Perasaan ku tidak enak, Dai. Kamu melototiku seakan-akan aku yang bersalah." kata Vay bingung dapat delikan misterius.
"Tidak seperti itu, aku hanya mau meyakinkan kode chip kita__Ah...maksudku, apakah chip kita tidak bisa terdeteksi oleh hackermu bila mana tertanam di tubuh manusia?" tanya Badai. Auto sang Kurcil pada bingung. Mereka semua menampakan air muka bodohnya, servernya belum tersambung. Badai jadi meragukan nilai jual nama teamnya yang di sematkan smart. Malu-maluin!
"Dan kamu, biasa aja tuh mulut mu." Badai menutup paksa mulut Angkasa yang melongo. Bhumi selaku rekan klop Angkasa membela adiknya dengan cara menepis tangan Badai.
"Ish," desis Angkasa. Bhumi tersenyum.
"Betul, sistem hackerku akan non-aktif bila mana terlapisi jaringan tertentu," sahut Vay. Ingat! kejeniusan pasti ada kelemahannya. Vay dan semua teamnya punya kelemahan tertentu.
"Jangan bilang benda asing di tubuh Nana adalah chip kita?" Topan mengambil kesimpulan, karena Badai menyinggung chip di saat pemeriksaan detail Gerhana.
__ADS_1
"Dan sayangnya, aku mau bilang itu." tandas Badai mampu membuat tujuh kepala di depannya terkesiap.
"Seriusan?" Pe tidak percaya.
"Kamu meragukanku, Pe?" sentil lembut Badai di jidat kakaknya. Pe tersenyum bodoh.
"Ok, misalkan benar itu adalah chip kita yang ditanam Xian di dalam tubuh Nana. Apakah tidak berbahaya bagi kesehatannya? bukannya benda asing di dalam tubuh bisa dibilang antigen dalam kata medisnya? pasti ada dampaknya, kan?" tanya Guruh.
"Pertanyaan bagus," Badai tersenyum tipis seraya menjentikkan jarinya ke Guruh yang bertanya jenius. "Baiklah, dari pada terus diragukan. Aku akan menjelaskan secara detailnya," sambungnya. Dan diangguki antusias semuanya.
Badai pun kembali duduk di depan monitor. Tangannya bergerak menggeser mousenya hingga pointer itu berada di titik chip dalam lapisan kulit Gerhana.
"Aku zoom biar kalian lihat kerjaan ilmuwan terkemuka yang bersangkutan di dunia medis," ujar Badai.
Badai tersenyum tipis. "Aku seperti sedang menjadi narasumber seminar." lirihnya meledek para rekannya yang berdiri anteng bak kucing manis di belakang duduknya.
Tuinggg....
"Aku mendengar mu, Adik tengil." Pe menjitak kesal kepala Badai dari arah belakang.
"Pe, diamlah!" tegur Topan ingin segera mendengar penjelasan Badai.
"Bukan waktunya becanda!" Petir meniru slogan Topan. Dapat delikan tajam sekilas dari sang empu.
__ADS_1
"Suka suka mulut aku dong, iya nggak Neng bule?" bisik Petir di telinga Vay. Dia pun tersenyum jahil setelah Vay menoleh tepat di depan wajahnya. Petir hanya berani berbisik, takut Topan mendengarnya jadi simba deh.
"Pan, kata Petir dia ngajak duel di ring setelah pembahasan di ruangan ini selesai." Vay memprovokasi. Dalam hatinya dia tersenyum devil.
"Hais, bohong, Pan! Vay hanya membual." Petir segera menepisnya, cepat. Bukan dia takut atau apalah, cuma masalahnya... damai itu indah. Ngelak aja si anak Langit-Senja ini.
Topan hanya menghela nafas, tidak mau menanggapi seloroh sahabatnya.
"Kau ini!" Petir pun segera menyikut pelan lengan Vay yang tersenyum diam-diam.
"Takut ya?" ledek Vay.
"Mana ada, aku maunya kita yang duel setelah ini. Bagaimana? menang kalahnya ada imbalannya. Deal, Neng Bule? Ah, kamu pasti tidak mau, secara kamu kan payah." tantang Petir penuh maksud. Dalam hatinya punya rencana bagus untuk menjahili Vay. Siapa suruh menyinggung kata duel.
"Siapa takut!" sahut Vay, ketus. Dia paling anti tantangan seperti Oma wild-nya, Yolanda. Apalagi mendengar nada remeh Petir. Minta ditampol.
Keduanya tidak sadar, kalau enam pasang mata di dekatnya telah memancarkan kilatan kesal. Apalagi Badai yang tidak mau melanjutkan penjelasannya sebelum orang-orang menutup rapat-rapat mulutnya, padahal Topan sudah tidak sabaran. Inilah yang dia tunggu-tunggu... chipnya sudah menampakkan hilalnya. Itu tandanya, perburuannya akan berakhir tanpa bersusah-susah payah lebih lama lagi, pikirnya akan jumawa dan segera pergi dari Negara ini menuju ke Negara sendiri.
"Ayo, teruskan saja berisiknya...aku mau tidur kalau begitu," malas Badai mau beranjak dari kursi kerja beroda itu.
"Dai!" warning Topan kembali menekan pundak Badai untuk duduk. "Dan kalian, jangan berisik!" sambungnya ke Vay dan Petir. Si Twins berikut Guruh tersenyum diam diam meledek Vay dan Petir yang kompak membuat gerakan me-lem bibirnya.
"Oke, jadi penjabarannya adalah...." jeda Badai.
__ADS_1
Karena bersambung😊