Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Menjemput Pelangi


__ADS_3

Badai dan Miko dalam berkendara tanpa tujuan pasti. Mereka berdua kebingungan mencari Pelangi kemana?


"Apakah aku harus pergi ke kota sebelah untuk menggeledah setiap rumah sakit di sana, Bos?" tawar Miko seraya mengemudi.


"Sebentar!" ujar Badai menehan jawabannya karena panggilan nama tidak diketahui sudah tiga kali membuat keberisikan di gawainya.


Sedikit malas, Badai menerima panggilan tersebut.


"Halo!"


" Adik tengil, aku menghubungi mu sedari tadi__"


"Pe! Pe? ini kamu?" Badai sampai terpekik karena lega mendengar suara kembarannya.


" Iya, cepat datang ke alamat yang nanti Guntur kirimkan."


"Pe__"


Tut...


"Halo__Yah, dimatiin!" Badai masih ingin bertanya tanya tetapi sudah terputus dari Pe yang terdengar lemah suara itu.


Ting...


"Mik, kita ke alamat ini." Badai segera memberikan gawainya ke Miko saat pesan masuk tentang alamat keberadaan Pe.


"Baik, Bos! ini sangat dekat dari posisi kita," terang Miko seraya menancap gasnya lebih tinggi lagi. Badai sudah tidak sabaran ingin bertemu Pelangi.


...****...


Sampai di pelataran villa mewah Guntur. Badai langsung dipersilahkan masuk oleh salah satu anak buah Guntur. Dia digiring menuju sebuah kamar.


Ceklek...


"Pe!" ucap Badai yang tertahan di depan pintu yang sudah terbuka lebar lebar. Di matanya, kini Pe sedang disuapin bubur oleh Guntur.

__ADS_1


Pe dan Guntur pun menoleh ke arah Badai yang sudah mengikis jarak.


"Hai__"


Tuinggg...


Pelangi menyentuh keningnya saat Badai mensentilnya, sejurus dia tersenyum karena kini Badai telah memeluknya penuh rasa kelegahan dalam diam adiknya. Pe tahu, kalau Badai dan lainnya sangat menyayanginya walaupun kadang-kadang mereka sering cek-cok.


"Jangan peluk erat erat nanti luka punggung Pe bisa__"


"Aku tau, Bung!" serga Badai akan suara Guntur. Dia pun melepaskan pelukannya dan menatap senyum manis ke Pe. Gadis itu pun demikian tersenyum manis meski bibirnya masih pucat.


"Ayo kita pulang, Pe!" ajak Badai mengelus sayang pipi kakaknya. Guntur diam diam iri akan kehangatan si kembar. Dari dulu Guntur memang sudah mengakui kalau Triplets itu saling menyayangi satu sama lain.


"Ayo!" Pe antusias. Ternyata jauh dari kembarannya, terutama Topan tidaklah seindah yang dia pikirkan. Pe jadi menyesali sikap kanak-kanaknya yang ingin selalu kabur dari rantai tak kasat Topan.


"Tapi, Dai. Biarkan team medis ku memeriksa luka tembak Pelangi terlebih dahulu." Guntur menahan dirinya agar tidak terlihat sebagai pria yang merindukan bulan. Rasanya kok tidak rela beut ya, Pelanginya di bawah pergi dari sisinya. Dan kemana lagi Embun? lirihnya karena Embun tak kunjung datang untuk memeriksa Pe.


"Aku seorang Dokter kalau kalau kamu tidak tau," Badai menjawab datar. Dia hanya sibuk menyilak selimut yang menghalangi kaki Pelangi.


"Pakai kursi roda aja," tawar Guntur seraya menunjuk benda tersebut.


Badai menggeleng. "Terimakasih tawarannya, tetapi Pelangi tidak cacat dan ini lebih praktis dan cepat."


Sekonyong-konyongnya, tubuh Pe sudah di atas gendongan Badai dengan posisi gendong depan seperti anak bayinya. Pe tidak masalah hari ini dia diperlakukan manja oleh Badai. Dia amat rindu akan itu, padahal baru dua hari dia tidak bertemu dengan saudara-saudaranya.


"Terimakasih sekali lagi karena sudah membantu menyelamatkan nyawa Pe."


Guntur mengangguk kecil dengan mata sibuk menatap Pe yang sudah bertengger nyaman wajah cantik itu di sisi pundak Badai.


Gadis manja! Batin Guntur gemas.


"Permisi!" kata Badai dan berlalu cepat. Sebagai laki laki dia menyadari tatapan aneh Guntur ke Pe. Seperti mata mendamba.


"Dai, apakah kalian mencari ku?" kata Pe di sela langkah Badai yang menulusuri villa tersebut menuju keluar. Guntur pun ada dibelakang mengekor.

__ADS_1


"Tidak usah ditanya lagi, kamu pasti tau," sahut Badai. Pe mengerti.


"Hm, pasti Topan sangat marah kepada ku ya? dan pasti aku dipukul deh."


"Dan aku yang akan menghajar Topan kalau berani bermain tangan kepadamu."


Badai sedia kala berjalan cepat seraya mengobrol pelan dengan Pelangi. Kemewahan villa Guntur tidak mampu menghipnotis Badai yang bodo amat dengan suasana sekitar.


Saat ketika jenjang kaki Badai berbelok ke lorong ruangan, tepat itu Embun keluar dari kamarnya sehingga hanya Guntur lah yang terlihat dari matanya.


"Laric, ah, Guntur!" Embun memanggil yang seketika meralat nama itu.


Dan reflek Guntur tertahan mengekor Badai yang berniat mengantar si kembar ke pelataran, menoleh ke arah Embun yang sedang mengikis jarak kepadanya.


"Maaf lama! ayo kita ke kamar Pelangi, aku sudah siap memeriksanya."


"Tidak usah, dia sudah pergi. Dan kenapa mata mu merah begitu?" Dagu Guntur memberi kode kearah pintu keluar.


"Yaek, telat ya? Ini karena kelilipan sih!" Embun berdusta seraya mengucek matanya. Dia tidak melihat wajah pemilik punggung kekar yang telah menggendong Pe. Hanya wajah Pe yang bertengger manis di pundak Badai yang terpampang nyata.


"Eh, itu siapanya Pelangi?" Embun penasaran, jangan bilang kalau pria itu suami Pe? Bagaimana dong hati Guntur. Pasti sakit seperti dirinya saat ini.


"Kembarannya."


"Oh, lega aku dengarnya! Aku kira suami Pelangi. Itu tandanya kamu tidak jadi sakit hati karena cinta tak bertuan seperti ku. Ah, sudahlah... aku uda enjoy ini...bye, mau lanjut istirahat agar nanti malam bisa menangkap buaya lagi."


Embun berucap cepat seperti angin, tidak memberi kesempatan untuk Guntur menyela racauan bodohnya. Dia pun berlalu cepat-cepat saat mata Guntur melototinya karena ucapan ngaur tentang buaya.


"Embun! jangan bodoh hingga menjadi wanita murahan! Aku akan membunuh orang itu yang berani mempermainkan mu." pekik Guntur menasehati. Embun hanya mengedipkan bahunya tanda cuek seraya terus berjalan tanpa mau menoleh kebelakang.


"Lebih baik kamu utamakan misimu tentang chip itu, agar Mommy mu segera dibebaskan, dan sebelum membunuh buaya ku, kamu saja yang membunuh diri mu sendiri, karena kamu orang pertama yang melukai hati ku." balas Embun tak kalah lantang dari jauh.


Hais, aku melupakan misi itu karena Pelangi. Bagaimana jalan keluarnya sekarang? Guntur kembali pusing. Dan dia tidak bisa bersuara tentang perasaan Embun yang kecewa kepadanya. Hebatnya Embun bagi Guntur... wanita itu selalu profesional dalam membantunya walaupun di sisi lainnya sedang kecewa berat kepadanya.


Maaf, Mbun!

__ADS_1


__ADS_2