Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Bon-chap 2


__ADS_3

Bugh...


Bugh...


Penyambutan yang sangat lazim bagi Petir dan Lautan terima dari orang tuanya.


Tepat ingin menginjak teras, dari balkon atas sana, dua koper telah jatuh ke tanah akan ulah Senja dan Langit, yang berdiri galak selesai melempar dua koper milik dua anak perjakanya.


"Ma, Pa?" bingung keduanya seraya mendongak ke atas.


"Lebih baik kalian pergi dari rumah kami," usir Senja. Laki-istri itu kompak mendrama demi membuat anak anaknya sadar kalau bertingkah sok punya nyawa sepuluh itu, halu belaka saja. Pergi jauh ke California, bukannya jalan jalan dan pulang gandeng mantu, eh..hanya untuk bertarung nyawa demi seupil chip. Kan, ngeselin!


"Kok, gitu sih, Ma?" tanya Petir dengan suara dibuat teraniaya sebisa mungkin.


Lautan malah tersenyum tipis melihat kakaknya seperti anak tiri yang khawatir diusir dari rumah.


"Kalian sudah pasti tahu alasannya, jadi pergilah mengembara sesuai keinginan kalian. Tetapi tetap ingat, harus wajib video call ya."


"Ck, ngusir kok setengah hati..." batin Langit mendengar kata-kata Senja yang terdengar tidak tega juga.


"Astaga... kalian tega amat," Lautan ikut serta mendrama. "Ayo, Kak! kita tidur di kolong jembatan malam ini. Tahu sendiri, kalau kita diusir itu, pasti fasilitas mewah serta ATM pun akan dibekukan. Dahlah...kita pakai baju sobek sobek aja di pinggir jalan seraya menangadakan telapak tangan___"


"Eh, stop!" serga Senja. Langit menepuk jidatnya. Pasti istrinya termakan oleh kata kata ngenes Lautan. "Cepat masuk rumah! Enak saja anak dari Senja Batara akan jadi gembel tampan. Kagak rela! kagak rela pokoknya!"


"Hahahaha, berhasil kak...segalak galaknya Mama, pasti tidak akan tega juga kalau anaknya akan menjadi gembel." Lautan berbisik lucu. Dan Petir pun tertawa seraya merangkul kepala adiknya masuk ke sela ketek, di depan pintu utama itu yang masih tertutup karena Senja dan Langit otw menuruni tangga di dalam rumah.


Ceklek...


Dugh...


Dugh...


Aduh...

__ADS_1


Tepat pintu terbuka, kepala Petir, Lautan seketika berdenyut karena dipukul oleh Senja menggunakan botol kaleng bekas minuman bersoda.


"Mama, rindu!" Senja tersenyum tanpa dosa yang seakan akan tidak melakukan apa-apa barusan. Secepatnya, dia sudah masuk kedalam pelukan Petir, seraya tangan kanannya yang tidak punya mata itu, meraba telinga Lautan untuk dijewernya sebagai balasan drama Lautan yang ingin jadi gembel.


"Pa..." protes Lautan meminta pembelaan ke Langit. Masa iya, Petir dipeluk sedang dirinya dijewer kesal. Kan pilih kasih...."Lepas, Ma!" pintanya seraya meringis.


"Papa tidak melihat apa-apa!"cuek Langit seraya menahan bibirnya untuk tidak tersenyum geli, karena telinga Lautan sudah memerah.


"Eh, ya ampun. Mama kira sedang menjewer Papa kalian," ujar Senja sok lugu. Sejurus, akhirnya diapun memeluk Lautan yang sudah manyun manja itu.


Hahahaha...Setelahnya, tawa terdengar geli meledek Lautan dari Petir dan Langit.


Lautan memang sering menjadi bully-an canda keluarganya.


...*****...


Di sisi Purnama dan Guruh. Adik kakak itu sudah duduk manis di tengah tengah keluarganya. Tidak ada drama konyol apapun, karena Gema sang Papi mereka, sangat mendukung segala jalan keputusan sang anak, dengan catatan...harus tau mana yang salah dan mana yang benar untuk dijalankan. PIKIR!


Lain halnya dengan Anevay yang baru sampai. Sebagai anak cucu tunggal dari Abraham, tentu sangat diemaskan dalam keluarga. Namun tidak juga dimanjakan dalam didikan. Salah, tetap saja salah!


Vay hanya menunduk yang saat ini di omeli oleh Nata-Ayahnya. Dia memang berbohong ke Eldath.


Ibell-sang Bunda dan Kemal-Opanya tidak ada yang membelanya, karena mereka sepemikiran sang Ayah.


"Maaf, Ayah..." lirihnya. "Bunda dan Opa juga. Maaf... Vay, Vay..." Cucu wildflower itu kehilangan kata kata. Matanya sesekali melirik ke dalam rumah untuk mencari keberadaan sang Oma wild-nya. Mungkin Oma tersayangnyalah yang bisa membantunya.


Dia diberi kultum pedas di depan pintu utama yang tidak boleh masuk terlebih dahulu.


"Kalau kalian masih marah, Vay ke Belanda sajalah!" Vay balik mengancam. Pada dasarnya, dia memang berencana cuma sekedar dua hari di Indonesia.


"Oh, jadi kamu mau ke Belanda lagi, eum?!"


Nah, si wildflower sudah muncul dari dalam rumah menggunakan tongkat elegannya yang berbentuk J terbalik, sudah tua rupanya. Dia bersuara dingin saat mendengar cucu yang dinantinya akan ke Belanda lagi, kagak terima, jadinya. Padahal tadinya, Yola akan membela Vay...tapi sudah menguap rasa pembelaan itu.

__ADS_1


"Oma, Miss you...eh___" Vay terhenti yang ingin memeluk Yola, karena sang Oma malah mengangkat tongkat, ingin memukulnya.


"Miss you, tai kucing..." Yola memang sudah ubanan, tapi mulutnya masih somplak seperti dulu. "Kalahkan Oma dulu baru kamu boleh ke Belanda lagi. Tapi, jikalau kamu yang kalah, maka Oma akan mencarikan mu jodoh orang Indonesia. Bukan orang Belanda seperti darah Oma." Yola menantang. Vay melototkan mata mendengar tersebut. Drama apa lagi ini?


"Opa, Bun, Ayah! ini becanda kan? Masa iya Vay harus berkelahi sama Oma. Duh, bukan apa apa lho. Vay takutnya Oma akan encok tak bisa bangun, kalau kena tendangan Vay dan___"


Bugh...


"sakit Oma!" protes Vay yang dapat tendangan dari Yola seketika, yang tidak terima cucu satu satunya itu meremehkannya.


"Oma masih wildflower ya, Vay. Bedanya sudah tua. Tapi kekuatan Oma masih prima. Jadi majulah."


Vay menggeleng. "Durhaka nyerang jompo." Dia kesal, jadinya. Drama apa coba yang dihadapi saat ini. Apa katanya tadi? mau dijodohkan? Ck, bukan jamannya siti-sitian lagi.


Jompo....? Nata, Ibell dan Kemal terlihat menahan tawanya. Yola dan Vay jelas melihat mimik geli itu.


"Jompo... inilah kekuatan jompo itu."


Vay sudah tergeletak di keramik dingin. Dia tidak menyangka kalau Omanya beraksi cepat macam angin dengan memakai besetan.


Besetan, yaitu teknik menjatuhkan lawan yang dilaksanakan dengan menggunakan kaki atau tungkai yang dikaitkan ke kaki lawan.


"Hahahaha... Nata, Ibell. Sebentar lagi kalian akan mendapat mantu." Yola tertawa ejek. Lalu berjalan santai masuk ke rumah bersama Kemal yang ikut menertawakan kekalahan Vay.


"Bangun, Sayang." Pinta Ibell ingin membantu berdiri anaknya, tapi Nata langsung merangkul pinggangnya dengan sangat posesif. Lalu meninggalkan Vay yang benar benar shock.


"Oma... huawaa. Vay kagak setuju dinikahin, selain bersama pacar Vay." Huawaa..


.


Untuk kedua kalinya, Vay kejer di lantai. Meraung raung tidak jelas. Yola dan lainnya tidak peduli pada Vay yang masih terisak isak.


"Oma tahu itu hanya modus busuk minta dikasihani." Yola terpekik seraya tersenyum lucu. Wildflower dilawan.

__ADS_1


 


__ADS_2