Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Kesal Ke Dibi


__ADS_3

"Apa sih? Ganggu saja!" ketus Topan berdecak galak di tengah tengah gawang pintu kamarnya.


Dibi tak kalah nyolot dengan tangan pun berdecak tegas di pinggangnya.


Enak saja, gue disini polisinya. Masa orang yang mau digerebek lebih sangar. Oh tidak bisa! batin Dibi yang ingin menerobos masuk ke dalam kamar. Tetapi, dia dihadang oleh Topan.


Di sisi ruangan, sebenarnya ada para Kurcil yang menguping seraya mengintip Topan dan Dibi yang akan beragumen alot. Ulah ini adalah kejahilan mereka yang melebihi-lebihi aduan, kalau Topan dan Gerhana melalui batas di markas sebelum ada tali pernikahan.


"Mau kemana sih?" tahan Topan, galak. Dia menendang tulang betis Dibi yang sudah berani mengusiknya.


"Sialan, pedas amat, Nyukk!" Dibi berlompat kecil dengan betis dia angkat karena merasa ngilu.


Hahahaha.. Para Kurcil kompak terkikik geli dibalik persembunyiannya namun tertahan, karena tidak mau ketahuan.


"Awas! aku mau membacakan norma norma bagi yang mesum kayak kalian berdua, mana Gerhana?"


Dibiih kekeuh ingin masuk. Hingga, keduanya dorong dorongan di gawang pintu itu. Rusuh! itulah yang terlihat.


"Ya ampun, kagak nyangka kelakuan jahil kita mengundang tontonan seru seperti ini," Angkasa dan Kurcil lainnya malah menikmati.


"Hehehe, lihat tuh. Kepala Topan diketekin sama kak Dibi yang lebih tinggi tubuhnya." Ama terkikik geli seraya menutup mulutnya yang ingin tertawa lepas.


"Kira kira siapa yang akan menang dalam argumentasi mereka?" Petir membuat teka teki.


Kak Dibi...


Topan...


Kurcil pun kompak memilih joki nya masing-masing yang seakan-akan mau bergulat betulan.


Pelangi, Badai berikut si Twins, memilih nama Topan. Sementara Vay dan sisanya, mengucapkan nama Dibi. Sosok Pria yang sama saja mempunyai perangai kagak mau kalah dalam hal apapun.


"Jitakan ya, taruhannya. Bagi yang kalah, kepalanya harus siap berdenyut denyut." Guruh membuat perjanjian konyol.


Hebohnya, semua kepala yang masih setia mengintip dorong dorongan Topan dan Dibi itu, mengangguk kompak, setuju.


Sementara di dalam kamar, Gerhana kini mengigit gigit ujung kukunya yang masih sok membaca majalah yang terbalik posisinya. Dia kicep cueg!


Beginikah rasanya orang-orang diluaran sana, kalau terkena kasus penggerebekan di hotel atau di tenda remang remang? kok Gerhana takut diarak berdua bersama Topan tanpa sehelai bajumu pun, ya.


Oh, no! jangan sampai. Iiih, ngeri! Itulah yang tergambar di dalam otak lemot Gerhana. Dia pun bergidik seraya menggeleng gelengkan kepalanya.


"Awas, Topan! aku mau masuk." Dibi memaksa terus dengan memakai otot hasil latihan kepolisiannya. Masa kalah sama anak datar bau kencur ini, tidak akan!


"Ini sudah malam, Galaksi Miller Al Malik. Jangan membuat ulah!!!"


Topan sudah kesal mengubun, hingga nama lengkap Dibi sudah tercamkan dari mulut ketusnya. Sekuat tenaga pun dia mendorong tubuh Dibi.

__ADS_1


"Topan Sagara anak dari pasangan Mentari Putri Batara dan Biru Sagara Sunjaya. Gue tau ini uda malam! Maka dari itu, gue mau main razia-raziaan eh razian beneran, karena syaitoni berkeliaran seratus persen lebih kuat di waktu malam hari, yang mungkin bisa saja ada di dalam kamar lo."


Dibi tidak mau kalah. Dia tidak takut oleh keketusan Topan, dengan itu dia lebih sarkas membawa nama lengkap Topan berikut orang tua si kembar.


"Makin seru, uihh!" seru Lautan yang masih setia mengintip.


"Jangan sampai ngalah ya, Pan. Gue jitak kepala Lo juga, kalau kepala adik adik lo kena jitakan." Pelangi ikutan heboh. Mereka bukannya melerai untuk menghentikan peralotan itu, malah mengadu seperti ayam sabung. Siapa yang menang?


Kurcil memang rekan laknat semuanya, kalau sedang dalam kejahilan. Charel dan Miko pun yang berada jauh, melihat para Kurcil mengintip intip Topan dan Dibi, hanya mampu menggeleng gelengkan kepala.


"Dibi! Jangan nguji kesabaran gue! Gue usir lo, kalau masih kekeuh kurang ajar!" bentak Topan.


"Kagak takut! Lo ngusir gue dari sini, masih banyak hotel. Dan kalau sampai bertingkah kurang ajar ke gue, malam ini gue pastikan Bundamu akan tau kelakuan cabul lo yang kumpul kebo."


Topan kecolongan mendengar kata Bunda, dia kalah dalam mempertahankan pintu nya.


Braaak...


Gerhana yang terkejut, saat punggung Topan tertubruk daun pintu. Ternyata, Dibi berhasil masuk secara paksa. Haduuh! Bagaimana ini? aku tidak mau diarak. Gerhana menyembunyikan wajahnya di balik majalah yang terbalik, kuku pun kian gigit gigit, ciri khasnya bilamana dalam keadaan nervous mengubun.


"Yeakh, menang! sini kepala kalian kembar." Ama terpekik senang seraya jitakan siap menghardik kepala Pelangi yang berada di dekatnya.


Pelangi sigap menangkap tangan Ama.


"Eeh, belum final! Gerhana 'kan masih menjadi ratu di kamar itu. Kecuali, Nana berhasil dipindah kamarkan oleh kak Dibi atau Topan yang keluar dari situ, baru noh... menang." Pelangi menghempaskan tangan itu.


"Siapa takut," sahut Pelangi. Kurcil lainnya ikut setuju saja.


Semua Kurcil pun beranjak mendekati kamar Topan. Berebutan untuk menguping dan mengintip di dekat pintu yang terbuka lebar lebar.


Si kembar di sebelah kiri gawang pintu, Vay dan sisanya berdiri di sebelah kanan.


"Na, lagi apa?" Dibi tersenyum dalam hati melihat majalah Gerhana terbalik. Gadis itu setia menutupi wajahnya dan tidak mau menjawab pertanyaan santai Dibi.


Topan yang kesal akan kelakuan Dibi, yang sedang main gerebek gerebekan katanya, mencoba mengatur nafasnya untuk meredam kan kekesalannya. Dia pun duduk santai di dekat Gerhana, bahkan tangannya merangkul pundak Gerhana. Menganggap Dibi adalah orang ketiga bin syaitoni yang berdiri melototkan matanya karena kelakuan santainya.


Kesal kesal sono, bila perlu keluarkan biji mata lo. Batin Topan mau cuek saja.


"Apa benar kalian satu kamar?" Dibi mulai mengintrogasi.


"Iya," singkat Topan. Santai macam di pantai. Padahal Gerhana sudah melirik sinis dibalik majalah itu.


"Kalau begitu, keluarkan KTP serta surat nikah kalian untuk pemeriksaan detail." Dibi ngelunjak, padahal kan dia tahu beut kalau sepasang sejoli itu belum menikah.


"Ck, kagak ada! lo kenapa sih, heboh benar ngurusin hidup gue? Ngiri bilang! Dan lebih baik cepetan deh keluar dari kamar gue, pengganggu!" ketus Topan kembali kesal.


Topan pun menarik majalah yang di pegang Gerhana. Dan terlihatlah wajah memerah menahan malu itu.

__ADS_1


"Hehehe," Gerhana tercengir bodoh ke Dibi yang setia berdecak pinggang, lalu tersenyum geram ke Topan.


"Kalau tidak punya, kenapa harus satu kamar? jangan bilang kagak ada kamar kosong, mana percaya gue dengan alasan taiii kucing itu."


"Berisik! keluar nggak? atau...."


Topan menyentak dengan majalah dia lempar ke arah wajah Dibi yang berkharisma tetapi sangat menyebalkan bagi Topan.


"Kagak kena," ledek Dibi. "Gue nggak mau keluar sebelum lo atau Gerhana pindah kamar. Tidak baik kalian satu kamar."


Kali ini, Dibi benar bersungguh sungguh menasehati. Tetapi Topan tidak menggubrisnya.


Gerhana yang sadar diri dan membetulkan perkataan Dibi, akhirnya mengambil sikap. Dia berdiri dan berkata, "Aku akan pindah kamar."


"Jangan, tidak boleh." Tahan Topan ke tangan Gerhana. "Tidak usah hiraukan perkataan angin bising itu. Kamu tetap disini bersama ku, titik!" Telak Topan berwajah masam ke Dibi. Gerhana jadi serba keder.


"Dan saya akan melerainya, titik!" Dibi pun tak kalah telaknya dalam bersikap. Dia seolah-olah orang tua Gerhana yang tidak suka anak gadisnya di grepeiin oleh kemodusan Topan. Ck, alasannya biar Nana kagak kabur, konon. modus tingkat bangkaiii.


"Keluar, keluar!"


Para Kurcil yang menguping dan mengintip segera pontang panting bersembunyi ke segala benda yang bisa menyembunyikan tubuhnya, di kala Topan mendorong paksa Dibi ke arah pintu.


Gerhana sampai speechless melihat kelakuan dua lakik itu yang tidak akur sejak pertama jumpa di dalam markas ini.


"Oke, kagak ngapa-ngapa gerebekan gue gagal. Lo anget anget aja di dalam. Gue mau minta tolong Pelangi aja, buat mijitin gue di kamarnya, mana tau gue ketiduran nyaman di sana."


Mampus! kagak bisa berkutik 'kan. Dibi memakai cara halus tapi ngena banget ke Topan.


Dan si Topan reflek menahan pintu kamar itu yang sudah mau ditutupnya.


"Dibi sialan! Berani lo megang gagang pintu kamar adik gue, gue bunuh lo.... sumpah!"


Topan berlari mendahului menghalangi Dibi yang tidak menciut pada ancamannya. Dasar besi memang si Dibi ini. Topan dibuat vertigo oleh sikap Dibi yang tidak mau dikalahkan.


"Oke, gue ngalah. Demi jagain adek gue dari kumbang jelek seperti lo, gue rela pindah kamar dan akan tidur bersama Pelangi." Topan mengalah. Dibi tersenyum jumawa dengan tangan menepuk ledek pipi Topan.


"Bocah kaku, kamu itu masih adik bayiku! hahahaha." Dibi terkekeh kekeh meninggalkan Topan yang mendengus kesal kepadanya.


Pelangi dibalik persembunyiannya, jadi menekuk wajahnya sampai asem kecut. Bagaimana tidak, dahi nya sudah mendapat jitakan keras oleh Ama. Berakhir pula harus berbagi kasur bersama kembarannya. Nasib! Nasib!


"Hiks, hiks, hidup gue makin ngenes." Pe terisak-isak bohong di dada Badai yang Kurcil itu duduk bersama-sama dibelakang sofa untuk bersembunyi, tadi.


"Sabar, ya! nasib lo memang ngenes, tetapi gue malah ingin ngakak... Ya ampun, Pe akan dikeloni Topan."


Hahahaha...


Setelah berisik menertawakan Pelangi, para si kembar akhirnya meringis sakit karena di jitak keras oleh Vay cs.

__ADS_1


__ADS_2