
"Na! ngapain di teras? dan lagi nunggu apa? kenapa matamu setia sekali menatap gerbang yang menjulang tinggi itu?"
Topan memeluk Gerhana dari belakang, lalu mencium kening itu yang sebenarnya dia belum membersihkan tubuh nya dari bekas air asin laut, pakaiannya pun masih lembab setengah basah.
Gerhana sebenarnya terkejut dengan aksi Topan yang tidak tahu kalau kekasihnya itu sudah datang dari misi, tetapi rasa kejutnya tidak dia pedulikan karena ingin segera melapor kalau Pelangi tak kunjung pulang.
Plak...
"Pe kagak ada, lo malah asyik bermesraan di teras!"
Gerhana belum sempat menjelaskan, Dibi sudah bersuara seraya menendang bokong Topan. Membuat sang empu tubuh itu meringis, tetapi setelah mencerna perkataan Dibi. Topan tidak memperdulikan aksi Dibi.
"Benarkah demikian, Na?"
"Iya!" sahut Gerhana seraya mengangguk.
Shiiit, Topan mengumpat kesal seraya melangkah gusar masuk ke dalam ruangan. Gerhana dan Dibi pun mengekor.
"Vaaaaay!!!" gelegar Topan. Membuat sang empu nama bergegas keluar dari kamarnya. Bukan hanya Vay, yang lain pun seketika berkumpul.
"Apa sih? baru juga ganti baju, sudah ribut aja?"' protes Badai berdecak kesal. Yang lainnya hanya diam, menanti kabar apa yang akan disampaikan oleh Topan yang sudah mengeras wajah itu.
"Vay, Pe kabur lagi! Tolong coba deteksi titik GPS-nya."
Jelas, Kurcil pada terkejut mendengar nya. Vay seketika memasuki kamarnya dan secepat kilat sudah datang membawa alat hacker-nya.
"Masalah apa lagi ini, Pe? kok bertingkah mulu sih?" Dumel Vay seraya mengoperasikan laptopnya. Kurcil lainnya pun kesal dalam diamnya, mereka berpikir kalau Pe kabur karena ingin bebas dari jeratan tak kasat mata Topan.
"Kalau Pe ketangkap, fix.... nikahin aja Pan, biar dididik oleh suaminya nanti." Petir berbicara ngaur. Dapat delikan tajam dari Topan dan Badai, bahkan dari Twins serta Dibi pun. Petir melengos jadinya melihat mata tak bersahabat pria pria yang menyayangi Pe.
"Gue sumpahin lidah lo kegigit dan berakhir busuk." Kesal Topan asal asalan bicaranya ke Petir.
"Aih ding..." Petir menutup mulutnya rapat-rapat.
__ADS_1
"Gimana Vay?" Badai tidak sabaran menanyakan hasil kerja Vay.
"Lihatlah, Pe terdeteksi ada di sini pada jam demikian. Dan terakhir ada di titik ini, selanjutnya tidak terdeteksi lagi." Vay menunjuk kolom layarnya yang merupai peta jalan.
"Ini adalah alamat villa Guntur waktu itu, tetapi ini....aku tidak tau." jelas Badai.
Topan tidak berkata apa-apa lagi, melainkan bergegas beranjak pergi.
"Woi, mau kemana?" teriak Guruh.
"Mau menjemput Pe di titik terakhir lokasi tersebut," jawab Topan tanpa menoleh dengan langkah berlari kecil.
"Tidak adakah yang mengikuti Topan?" tanya Vay ke rekannya. Sedangkan yang ditanya hanya sibuk saling lirik. Mereka pikir, Pe hanya jalan jalan santai.
"Pe pasti sedang happy happy, jadi biarkan saja. Urusan Topan yang protektif terhadap adiknya." Ama bersuara dengan tebakannya.
Lantas, membuat Vay menggeleng geleng kecil. "Sayangnya, feeling ku mengatakan bukan demikian karena titik ini adalah sebuah markas dari oraganisasi lain," terang Vay.
Oh, markas? apa? markas?
"Na, kami tinggal lagi. Ingat! jangan berbuat ulah. Kita lagi sibuk, oke!" Badai yang pertama selesai mempersiapkan segala atribut perang nya, memberikan kultum nya ke Nana sebelum keluar dari ruangan utama.
"Iya, pergi lah! dan bawa pulang Pe dengan selamat," sahut Gerhana patuh.
Seperkian detik, Dibi dan Kurcil lainnya pun sudah siap menyusul Topan yang sudah jauh berkendara.
...****...
Ckiiiitt...
Topan me-rem mobil nya, dadakan. Dia sudah sampai di depan gerbang markas Matin. Sebelum turun, baju yang lembab itu dia buka lalu menarik kaos santai serta jaket yang selalu tersedia di dalam mobilnya. Senjata kesayangan nya pun sudah berada di dalam genggaman nya, siap bertempur.
Setelah turun dari mobilnya, para Kurcil serta Dibi pun telah sampai. Bergegas menghampiri Topan yang siap memanjat tembok pembatas markas yang lumayan tinggi.
__ADS_1
"Pan, lo mau main masuk aja tanpa persiapan, hah?" tanya Dibi menahan baju Topan. Otomatis, Topan tertahan.
"Lepas," bentak Topan seraya menepis tangan Dibi. Tidak butuh lama, Topan sudah mulai melompati tembok pagar itu dari bantuan tali pengait, yang dilemparkan sebelumnya ke atas sana. Sungguh, Topan saat ini sedang menahan amarah terbesarnya.
"Hah, ini gila!" Dengus Vay. Baru kali ini mereka menyerang tanpa ada plan plan juga retas meretas dari hackernya.
Apa boleh buat, semua Kurcil pun mengikuti aksi Topan yang gegebah. Satu persatu meloncati pagar tembok tersebut, termasuk Ama.
Perang perang deh ah! kompak mereka. Mati bersama, maka hidup pun bersama. Itulah kesetiaan the Kurcil.
Kecuali, Vay yang tertahan dan malah masuk kedalam mobilnya untuk mengecek, apakah ada sistem canggih di dalam sana?
"Aneh, kok markas sebesar ini, tidak ada satu pun pengamanannya?" Gumam Vay seraya mengotak atik hackernya sampai berulang kali, takut takut dia salah dalam memasukkan kode demi kode. Tetapi sama saja, Vay tidak menemukan sistem apapun yang aktif.
"Coba cctv-nya!" katanya sendiri. Namun nihil, Vay hanya melihat rekannya yang mengendap endap menelusuri ruangan demi ruangan.
"SIALAAAN!"' Murka Topan yang tidak menemukan satu orang pun di dalam markas itu.
Kosong!
Badai dan lainnya pun hanya menghela nafas berat nan kesalnya.
"Mereka menangkap Pe dan sudah membawa rekan kita ke tempat lain," tebak Lautan.
Topan dan Badai semakin gusar mendengar nya. Mau mengelak nya tetapi perkataan Lautan seperti nya memang betul demikian.
Ya, itulah langkah Matin. Berkat info dari Erlan bodoh itu, yang mengatakan jam Pe adalah jam khusus. Belen akhirnya mengusulkan pindah ke markas Jerry yang jauh lebih besar nan canggih pengamanan nya. Dan gara gara keegoisan Erlan, plan demi plan Guntur pun hancur total.
"Ama, hancurkan markas ini. Jadikan abu sekarang juga." Perintah Topan.
Ama mengangguk patuh. Membiarkan rekannya keluar terlebih dahulu.
"Sayang beut bangunannya." lirih Ama seraya melangkah pergi.
__ADS_1
Setelah semuanya berada jauh, bangunan itu sudah booommm...