Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Nyemplung Bersama


__ADS_3

"GERHANA...."


Kurcil Smart kompak terpekik memanggil nama tersebut, dikala matanya disuguhkan pemandangan berbahaya dari dalam monitor Vay.


Mereka pun tidak banyak omong lagi, segera bubar ngeberit ke TKP.


Topan? si Simba itu sedari tadi gercep pontang-panting berlari di mana kandang buas itu berada.


"Charel! keluarkan daging sebanyak mungkin dan cepat bawa ke kandang buaya." Topan berlari seraya mentitah cepat anak buahnya.


"Segera," sahut Charel pun sigap dalam bekerja.


Sampai di area kolam buaya. Topan sedikit bernafas lega, karena tangan Gerhana masih berusaha sekuat mungkin berpegangan di tralis besi itu.


"TOLONG!"


Hiks...hiks...hiks...


"Tol__"


"Nana! raih tanganku!"' Topan sudah tengkurap di atas tanah dengan tangan menjuntai ke bawah berharap Gerhana meraihnya yang sialnya sedikit jauh untuk dijangkau Gerhana.


"Hiks, susah!" Gerhana menangis dengan kepala mendongak ke atas. Matanya tersirat memohon agar Topan menyelamatkannya.


"Sebentar! kamu pokoknya harus bertahan." Topan mencondongkan kepalanya ke bawah, tangan kiri berpegangan asal-asalan dan tangan kanannya dia coba juntaikan lebih ke bawah lagi.


" Hiks, hiks, tidak sampai!" Inces lemot itu sudah banjir buliran air mata. Sedikit saja menggerakkan tangannya walau sekedar meraih sambut tangan Topan, maka plungg... buaya siap menyantap.

__ADS_1


Topan semakin gila. Separuh tubuhnya sudah menjuntai, hanya kakinya yang di sangkutkan ke pembatas kolam sebagai pertahanan asal asalannya agar tidak terjatuh.


"Topan! hati-hati!" pekik para Kurcil dari kejauhan yang baru sampai ke TKP. Mereka pun berlari mengikis jarak.


Bhumi-si ahli lari, lebih dahulu sampai, di susul Angkasa pun. Keduanya kompak menahan kaki Topan, satuan agar adil. 'Kan kembar, jadi harus berbagi apapun itu. Kaki Topan pun jadi rebutan oleh si Twins.


"Nana, buruan gerakkan tangan mu. Kamu pasti bisa." Pelangi memberi dukungan yang sudah berdiri di pinggir kolam bersama yang lainnya pun dengan wajah terlihat panik.


Perlahan, Gerhana menggerakkan tangannya. "Aaargh..." Dia menjerit. Tangannya kembali terkunci rapat rapat ke tralis. Takut terjatuh.


"NANA!" Pekik Topan. Andai, Angkasa Bhumi tidak memegang kakinya maka dia sudah terjerembab ke kolam.


Buaya di bawah sana sudah berputar-putar kian agresif menunggu mangsanya terjatuh.


Charel pun sudah tiba dengan dua ember daging di bawahnya.


"Aku bantu!" kata Guruh merebut ember satunya lagi di tangan Charel hingga bawahannya itu hanya berdiri tidak tahu harus berbuat apa.


Lautan pun ikut membantu. Dia sengaja berputar untuk mengambil perhatian buaya tersebut, niatnya agar pindah dari tempat posisi Gerhana bila terjatuh.


"Kenapa kalian bodoh, ikuti cara Lautan. Ayo kesana! Petir! Guruh!" cerca Vay tegas. Dia tidak habis pikir, kok ke-dua sahabatnya ngasi makan di dekat posisi juntaian Gerhana yang semakin lemah pertahanannya.


"Gerhana! buruan!" Topan jadi membentak kesal. Gerhana menangis cengeng terus tanpa mau berusaha. Dasar memang lemot nan cengeng.


"Pegang yang kuat, Twins." Titah Badai memberi abah-abah ke Angkasa-Bhumi. Dia tidak mau Topan nekat terjun ke kolam bila mana Gerhana tidak dapat di selamatkan.


Charel yang paniknya hanya sedikit saja, jadi inisiatif mengambil tali. Dia pengertian kok...kalau orang dalam kepanikan itu sedikit bodoh dalam berpikir. Tapi....di mana talinya? Ah...di gudang, tapi jauh.

__ADS_1


"Baiklah, kak Dai." sahut si Twins kompak. Saking kuatnya pegangan itu, Topan hampir melorot yang hanya menggunakan jogger berpinggang karet.


"Twins!" erang Topan memperingatkan. Si Twins salah kaprah, peringatan itu dianggap mereka adalah... Tahan lebih kuat lagi! sehingga celana itu ketarik membuat Topan melorot sampai sepaha ulah si konyol Twins.


"TWINS!!!" bentak Topan. Sontak Badai, Vay, Ama, dan Pe, menoleh ke empu bentakan yang terhakiki. Si Twins yang jadi tersangka hanya bersiul-siul sok bodoh.


Syukurnya kak Topan mempunyai kesibukan menolong Gerhana kalau tidak....batin Angkasa, kicep.


"Oh, amazing!" Ama membulatkan matanya, ada pemandangan menyegarkan. Otaknya omes uih.


"OMG, Topan punya tompel di dekat ehem bokongnya." Vay bersuara toa hingga mengundang perhatian Lautan, Guruh dan Petir yang jauh di sisi kolam sedang memberi makan buaya itu.


"Sialan, kalian!" hardik Topan ke Twins. " Pe, betulkan." Topan merengek minta di benarkan celananya oleh adik perempuannya. Dia tidak mau berdiri, selain keselamatan Gerhana... dia pun malu coeg. Apalagi ada Vay dan Ama yang notabenenya bukan sedarah. Pe? kagak malu lah, kembaran ini... di perut aja main bola bersama kok tanpa sehelai benangpun. Topan ikutan konyol.


"Biar aku!" tawar Badai segera menarik naik celana Topan.


Semuanya sebenarnya mau menertawakan Topan. Tapi, kasihan... Gerhana masih dalam bahaya. Waktunya tidak tepat uih untuk mempermalukan Topan.


"Aku sudah tidak kuat lagi," pilu Gerhana mengadu. Tangannya keram dan plungggg... Dia terjun bebas.


GERHANAAAAA..... pekik semuanya.


Pluungg...


Topan tanpa pikir panjang ikut nyemplung, si Twins hampir menahan kaki kakaknya. Tapi kalah tenaga uih...adik kembar itu hanya memenangkan celana jogger Topan.


Topan berenang hanya ehemm...kain segitiga berbiru muda.

__ADS_1


__ADS_2