
TOPAN....
Semuanya terpekik panik ulah Topan ikut membahayakan nyawanya demi menyelamatkan Gerhana. Bahkan, Topan rela mengumpangkan tubuhnya dari keagresifan buaya.
"Hati hati, hiks__Aaargh..." Gerhana menjerit. Ngeri melihat Topan hampir diterkam buaya yang bila mana Pria itu tidak mengelak cepat naik ke punggung buaya itu maka hap, melayang nyawa si simba. Dia sendiri sudah aman di sudutkan oleh Topan di pinggir kolam. Sementara buaya satunya masih sibuk terkecoh dari daging-daging lemparan Petir, Guruh dan Lautan.
"AYO DONG, TOLONGIN TOPAN!" Pelangi berteriak prustasi. Khawatir mengubun, hingga dia memukul-mukul keras besi pembatas kolam saking kesalnya, tidak tahu harus berbuat apa? mau membantu tapi bagaimana caranya?
"Aku akan turun__"
"Jangan!"
Si Twins segera kompak menahan Badai yang siap terjun bebas. Bukannya dia tidak mengijinkan Badai membantu Topan, tapi si Twins berikut Pe pun tidak mau kehilangan Badai, jika buaya di bawah sana mengalahkan Topan yang saat ini bersusah payah mengunci mulut binatang buas itu, dengan cara Topan di atas punggung buaya. Topan dan buaya itu bak bercinta peluk pelukan dan berguling-gulingan.
Entah darah siapa yang telah mewarnai air itu? Topankah yang sudah digigit atau pisau Topan yang telah melukai punggung keras sang buaya. Kurcil dan Gerhana tidak tahu siapa yang terluka?
"Aku akan melempar ini__"
"Jangan bego!" Vay mencegah tangan Ama yang mau melempar bom ke bawah.
"Tapi kenapa?"
"Itu sama saja kamu membunuh Topan dan Gerhana ulah bom mu," terang Vay gemas.
"Ah, iya juga...." otak Ama jadi buntu pun.
__ADS_1
Dor...
Dor...
Pe dan Badai akhirnya punya otak dalam kepanikan hebatnya. Kedua pasangan Triplets tersebut, kompak menembak buaya yang telah diberi makan oleh Petir cs. Maunya sih menembak buaya yang telah menyerang Topan, tapi tidak mungkin mereka melakukannya... takut-takut salah sasaran karena pergerakan Topan tidak tertentu.
"Kenapa kita tidak kepikiran dari tadi sih, damn!" Guruh mengoceh tidak jelas seraya mengeluarkan senjatanya untuk membantu si Triplets menembak membabi-buta buaya itu. Kurcil lainnya pun ikut menembak buaya yang rupa rupanya mempunyai nyawa banyak. Belum mati padahal air butek itu kian memerah karena darah.
"Aku maunya bom, tapi ah..." Ama mendumel seraya menembak kesal.
"Twins, jangan sampai salah sasaran!" Teriak Pe saat menyadari ke-dua adik kembarnya mencoba membidik buaya yang masih setia bergulat dengan Topan.
Buaya satunya sudah mati oleh senjata sembilan Kurcil.
"AMAAAA! LEMPAR BOM MU!" pinta Topan berteriak. Dia sudah tidak berbentuk manusia tapi hantu lumpur. Tenaganya sudah hampir terkuras oleh buaya yang dalam kunciannya agar taringnya tidak terbuka.
Ama tidak mungkin membunuh sahabatnya. Dia tidak mau melakukannya.
"Sini bom mu!" Pe merebut begitu saja bom sebesar kepalan tangan anak remaja dari saku jaket Ama.
"Pe, jangan macam-macam dengan bom khusus itu! Barangnya memang kecil, tapi megaton khusus ku sungguh sangat besar." jelas Ama memperingatkan.
"Berapa jumlah dan detik hitungan ledak mundurnya?" tanya Badai mempunyai ide dalam otaknya.
"Lima belas megaton, akan meledak satu menit setelah diaktifkan." terang Ama seraya matanya tidak lepas dari Gerhana yang sudah menangis sejadi jadinya di bawah sana karena ketakutan.
__ADS_1
"Sini!" Badai merebut peledak itu dari Pe.
"Aku kira lima puluh megaton yang berdampak menghancurkan markas. Mungkin Topan mempunyai ide sendiri." Badai meremehkan dampak kekuatan megaton lumayan besar itu.
Ama hanya pasrah dengan suara Badai yang terdengar meledek benda buatannya. "Baiklah, aku mau nonton... apakah Topan berhasil keluar tanpa luka bakar?" Batin Ama sedikit kesal.
Dan semuanya hanya menonton penuh tanya ke Badai yang saat ini berdiri di atas posisi Gerhana yang masih meraung-raung.
"NANA!" Teriak Badai sekencangnya. Gerhana masih tidak enggeh di panggil.
"GERHANAAAAA."
Karena kesal dengan sikap Gerhana yang cengengnya naudzubillah, sembilan Kurcil kompak meneriaki nama itu.
Gerhana pun mendongak ke atas dengan mata sudah sembab.
"TANGKAP INI, BISA?" Badai memamerkan bom tersebut.
"Hiks ... hiks, itu a-apa? Aku tidak butuh buah...."
Ama lebih kesal lagi ke inces lemot. "Lebih parah ini mah dari ledekan Badai," lirihnya pasrah saja. Buah katanya? cih!
"INI BUKAN BUAH, TAPI...."
"Aku juga tidak butuh ubi rebus," serga Gerhana ke Badai. Kalau bukan buah yang sejenis ubi dong. Dia tidak habis pikir oleh orang di atas sana, nawarin kok kagak tau tempat. "Aku hanya minta tolong....hiks, tolongin dia." Gerhana menunjuk nanar Topan yang sudah lemas bertarung terus. Pisau sebagai senjata Topan pun jatuh tenggelam di air berlumpur itu.
__ADS_1
Lagian aneh bagi Gerhana. Kenapa orang-orang bodoh ini memelihara buaya? Apa untungnya coba? Nah, jadinya 'kan sang peliharaan buas kagak pandang bulu. Mau itu tuannya kek, tetap aja akan dimangsa, empuk gitu lho. Pokoknya awas saja kalau dia sudah selamat dari marabahaya ini, maka si inces cantik tapi lemot akan memarahi para Kurcil yang dicapnya bodoh semuanya.
***