
Cekrek... Cekrek...
Di sisi Ama dan Lautan yang sebelumnya di usir Badai karena keisengan mereka. Keduanya malah sibuk kerja. Ama berpose cantik nan seksi dengan Lautan sebagai fotografernya. Pasir pantai sebagai objeknya semakin memperindah hasil gambarnya.
"Duh, cakep sih cakep tapi jomblo akut." Hahahaha... Lautan tertawa ledek ke Ama yang mencibikkan bibirnya.
"Hm, kayak Lo ada pacar aja," Ama merebut kamera Lautan, duduk di atas pasir putih dengan asal asalan tanpa takut kotor. Topi pantai bundar itu jatuh tertiup angin, hingga wajah Lautan tertempa rambut panjang Purnama.
"Gue sih masih nyari yang pas," ungkap Lautan. Dia membantu membersihkan topi Ama, lalu memakaikannya kembali.
"Kata Mami gue ya... Jodoh kagak usah dicari, nanti juga datang sendiri, katanya. Lagian gue juga ogah tuh namanya pacaran, bikin baper ujung-ujungnya. Bodo amat deh ah dikatain kudet atau jones sekalipun, dari pada jatuh cinta berujung jatuh ke jurang karena baper diputusin. Sakit tak berdarah itu katanya lebih ngenes efeknya melebihi stroke."
Lautan terkikik lucu saat Ama mempraktekkan bibir penderita stroke. Dari seluruh team Kurcil, Ama adalah sahabat terdekatnya. Kalau sedang berdua seperti ini mereka akan menanggalkan kata formalnya menjadi gue Lo.
"Ck, bisanya tertawa doang...gue curiga Lo jomblo itu karena kagak laku, kan? atau Lo nggak bisa ngerayu cewek? hmm... atau jangan-jangan Lo kagak normal bin gay?" tuduh Ama meledek dengan wajah jahilnya.
Tuinggg...
Sejurus jidat itu ditoyor kesal oleh Lautan. Bukannya meringis, Ama malah semakin tertawa lucu.
"Mana buktinya kalau Lo itu normal?"
"Hmm, kalau Lo bukan sepupu gue, uda gue cipook lo!" ujar Lautan, gemas.
Ama kian terbahak-bahak, sejurus dia memajukan wajahnya untuk menggoda sepupunya. "Coba dong, rasanya dicipok itu seperti apa? apakah kenyal-kenyal gurih atau sakit-sakit minta nambah."
Ama memanyunkan bibirnya seperti minta dicium. Lautan yang gemas mengangkat lengannya dan memasang ketiaknya di dekat bibir Ama yang masih saja manyun.
"Hoeeek, jijik yakin bau ketek Lo."
"Hahahaha, kata siapa? harum maskulin mint begini kok. Ayo ratu coklat, cium lagi sini." Lautan kian menggoda Purnama dengan ketek dia terus pamerkan.
__ADS_1
"Ihh, Utan!" protes Ama seraya men-jab perut Lautan.
"Hais, sakit bego___" umpatan Lautan menjeda saat matanya menemukan sosok wanita cantik nan seksi parah yang lewat di depan duduknya di pasir pantai itu.
"Ama, lo tadi meragukan kejantanan gue 'kan ya? Lo dan lautan yang terbentang luas di depan kita akan menjadi saksinya, kalau gue itu laku dan masih suka wanita bukan gay."
Untaian lebay Lautan di beri tatapan bingung oleh Purnama. Mau ngebeo cerewet, eh.... Lautan uda beranjak dari duduknya untuk mengejar langkah seorang wanita yang hanya menggunakan bikini di terik matahari lumayan cerah saat ini.
Ama hanya diam memperhatikan Lautan yang berseru memanggil wanita itu.
"Tunggu, Nona!" seru Lautan. Sontak wanita yang dipanggilnya berhenti dan menoleh ke arahnya.
"Anda memanggil saya?" tanyanya takzim. Mata nakal Lautan pun langsung disuguhi belahan gunung yang menantang keomesannya. Wanita itu menyadarinya, tapi kian membusungkan balonku ada dua dengan gerakan sekilas.
Glek...
"Iya." Adik Petir itu menelan ludahnya seraya mengangguk. Tangan gue muat nggak ya, menangkup balon jumbo itu? Omes Lautan, membatin.
"Saya hanya mau mengembalikan jepitan rambut ini yang terjatuh di hadapan saya, tadi." Lautan menyodorkan jepitan berwarna pink itu ke hadapan sang wanita seksi aduhai, menggoda iman Lautan yang setipis rambut.
Jepitan rambut? Ama yang memicing dari tempat duduknya, masalahnya.... jepitan itu tadi sengaja ditarik oleh Lautan sebelum berlari menghampiri si wanita.
"Wah, minta dibom tuh anak! jepitan kesayangan gue jadi korban kemodusannya. Awas aja! kagak modal amat jadi laki." Oceh Ama, gregetan. Pokoknya si Lautan nanti akan kena amarahnya.
"Tapi, itu bukan punya saya." kata si seksi jaim dikit.
Lautan tersenyum menggoda. "Betul, tapi saya mau menghadiahkannya buat wanita cantik seperti Anda. Boleh saya memasangnya di rambut Anda?" Lautan sedari tadi berbahasa Internasional.
Uhuk uhuk
Rayuan busuk itu membuat Ama pura-pura batuk yang kian dibesarkan.
__ADS_1
"Ehemm," Ama pun berdehem keras. "Jepitan gue dimaling woi," sindir Ama. Lautan tersenyum geli dalam hati karena sang wanita seksi yang digombalinya tidak akan mengerti karena Ama sengaja berbahasa Indonesia.
"Setelah ini, coklat terenak di dunia akan menyambut ku, woi." sindir Ama kian menjadi-jadi, apalagi jepitan tersayangnya sudah di rambut wanita itu. Pokoknya, jepitan harus digantikan dengan makanan favoritnya...coklat.
Dasar si anying, dengus Ama mengumpat saat Lautan sedikit melirik ke arahnya. Lautan masih sempat mengedipkan matanya.
"Terimakasih. Ini sangat indah, saya suka." ungkap si seksi di posisi kian mendekat ke Lautan.
Lautan jadi berkeringat saat wanita itu menyentuh dadanya, ehh... tetiba meluk, lagi. Asoyyy.... nikmatnya efek jepitan Ama. Langsung dapat pelukan uih, riang Lautan dalam hati. Mana durasi pelukannya lama beut deh ah, nikmat mana lagi coba yang didustakannya.
Uhh... Lautan meringis mesum dalam hati, saat dia dan si seksi bertabrakan dada. Empuk membal weh. Ama yang melihat kemesuman Lautan, dibuat melongo. Angin pantai telah memenuhi rongga mulutnya.
"Lautan mancing duyung bohay," lirih Ama menggeleng geleng. Dalam hati...dia mengakui kalau sisi busuk Om Langitnya turun di anak keduanya. Tukang modus terhakiki.
"Oke, tampan. Saya permisi dulu ya," pamit si seksi buru buru seraya mengedipkan mata genitnya ke Lautan.
Sebenarnya, dia adalah copet cantik. Karena Lautan asyik dengan fantasi mecum-nya, dia tidak sadar kalau dompetnya sudah raup dari kantong belakangnya. Apalagi si seksi meraba-raba punggungnya naik turun saat berpelukan... lengkap sudah pikiran liar Lautan berfantasi. Depan belakang tersetrum menderu-deru oleh perbuatan si copet seksi.
"Oke, bye cantik." sahut Lautan belum enggeh. Dia pun segera mengikis jarak ke Ama dengan cara jalannya di buat sombong stay cool, bibirnya bersiul-siul bangga.
"Iya iya, gue akui Lo hebat! So....ganti rugi jepitan kesayangan gue sebesar lima juta." Ama langsung menyadong.
"Elaa, jepitan bekas kok mahal amat, palingan juga cuma seharga gocap atau goceng. Tenang, gue ganti deh__ eh, dompet gue mana?" Lautan merogoh semua kantong celananya tapi nihil.
Ama hanya menaikkan satu alisnya.
"Jangan-jangan cewek tadi....?"
"Hahahaha, maling...." Bukannya prihatin, Ama malah terpingkal pingkal. Perutnya jadi keram dibuat lucu oleh Lautan. Mau modus mecum eh... berjung sial.
"Sial, mana wanita itu? Gila.... paspor gue!" Lautan menggerlya ke arah langkah perginya maling cantik tadi. Tapi nihil uih. Siallll, dada sialan, Hardiknya yang tertipu karena bongkahan dua balon besar.
__ADS_1
Hahahaha....Ama tidak bisa menghentikan tawanya di belakang Lautan yang mencoba mencari tersangkanya.