
Masih di hari yang sama, bahkan masih dalam keadaan sama pun. Di mana Topan dan Gerhana di atas bed itu yang tidak mau bergerak karena pipis tidak pada tempatnya.
Wanita lugu itu masih setia terisak di dalam dada Topan. Pokoknya, Gerhana tidak mau mengangkat wajahnya saking malunya melebihi apapun.
"Jangan menangis terus! lebih baik ganti semua pakaianmu di dalam kamar mandi!" bujuk Topan datar dengan seribu kali kesabarannya. Dia tidak tahu cara membujuk rayu wanita itu seperti apa? karena ini pertama kalinya dia direpotkan oleh lawan jenisnya yang bukan sedarah.
Hiks hiks hiks...
Gerhana masih menangis, mengabaikan bujuk rayu Topan yang terdengar tidak ada manis-manisnya. Ah, pokoknya payah beut seorang Topan itu, membujuk kok kayak membentak.
Srrtttt...
Hm, tadi air mata yang membasahi pakaian Topan di bagian dada itu. Kini, cairan hidung Gerhana-lah yang mengotorinya. Gerhana tanpa permisi membuang cairan hidungnya yang terasa penuh karena menangis terus.
Ya ampun, nih jorok amat. Tapi kenapa gue malah kagak berkutik dibuatnya? Apakah sudah mau kiamat? Topan membatin seraya melirik ke bajunya yang penuh dengan ingus. Mau di smackdown nih gadis tapi disayangkan...Gerhana adalah Nana kecilnya yang dia cari-cari di Negaranya sejak lama. Topan yakin itu! feeling-nya tidak pernah salah.
Toh, Nana bin Gerhana tidak jauh berubah. Masih sama sejak dulu... terlihat penakut, Inces lemot dan berujung cengeng.
"Aku ta-takut karena sen-sen... hiks hiks senjata perempuan ta-tadi, pokoknya aku takut. Dan hiks hiks, aku tidak tahu apa-apa tentang barang kecil yang ka-kalian cari. Di bunuh oleh ka-kalian pun aku tidak akan memberikannya karena aku tidak tahu di mana chip kalian? Lagian beli aja lagi chip baru, di counter 'kan banyak! aku beliin deh kalau kalian tidak mampu."
Nih woman ngelunjak beut! Uda ngotorin baju, ditambah dengan hinaannya pula... apa katanya? kagak punya uang? cih, menyebalkan juga nih perempuan!
"Bersihkan dulu tubuhmu!" Suara biasa Topan itu bulat ber-oktaf, jadi macam membentak, membuat hati Gerhana terenyuh.
Huawaaa... Gerhana semakin kejer karena bentakan Topan, pikirnya.
__ADS_1
Hais, nangis lagi. Topan tepuk jidat prustasi yang tidak dilihat oleh Gerhana karena masih sibuk menyembunyikan wajahnya.
Apa boleh buat, Topan yang tidak mempunyai kesabaran banyak menghadapi perempuan, mau tidak mau menggendong Gerhana masuk ke dalam kamar mandi.
Gerhana kaget dibuatnya. "Hei, aku bisa jalan sendiri. Lagian kamu tidak jijik apa?" tanyanya di atas gendongan Topan yang kaku beut itu wajah. Topan hanya menatap lurus lurus ke pintu kamar mandi.
Jijik? Jelaslah Topan menahan nafasnya karena bau pesing si bayi kaplak. Untung para Kurcil ada di luaran sana, habis sudah pamornya kalau ketahuan memperlakukan anak musuh begitu istimewa.
"Cepat bersihkan tubuh mu!" Topan menurunkan Gerhana di depan pintu kamar mandi sedikit kasar karena wanita ini memberontak tidak sabar untuk turun. " Bathrobe sudah ada di dalam." Sambungnya. Gerhana menunduk diam. Topan gemas jadinya.
"Oh, jadi maumu aku pula yang melucuti benang mu, Inces lemot? Dengan senang hati, mandi plus plus bersama pun aku pasrah."
Topan sudah menanggalkan bajunya yang kotor bercampur aduk antara air mata, ingus, juga bau pesing Gerhana. Melihat ke-sixpack-an body atletis Topan, Gerhana menelan ludahnya... dia omes juga pemirsa. Butuh ruqyah!
Tapi saat Topan ingin melepas benang bawahnya. Sorry dorry strawberry... Gerhana tersadar terhadap otak omesnya, dia segera menutup pintu rapat rapat.
"Coba tadi pelan pelan bukanya, kainnya tidak akan terjepit di resleting... huawaaa." Inces lemot ini mengacak acak rambutnya.
Dia kembali membuka pintu kamar mandi membuat si Simba berbalik yang tadinya mau keluar dari ruangan itu untuk mengambil pakaian buatnya dan buat Gerhana juga.
"Kenapa lagi? Jangan memancing kesabaran ku, Nana!!!" Topan mengikis jarak.
"Siapa Nana? aku Gerhana! Enak saja main ganti nama orang." ketus si Inces lemot, dia tidak terima nama bekennya diubah-ubah.
"Ya...ya..ya." Malas Topan sudah berdecak pinggang di antara tiga jengkal jarak mereka. Dulu, Gerhana kecil itu cadel... jadi berkenalan dengannya dengan nama Gelhana atau Nana saja katanya yang lebih mudah. Entah apa yang terjadi ke Inces lemotnya ini selama diasuh oleh Xian hingga memorinya hilang?
__ADS_1
"Ada apa lagi? apa benar mau mandi bersama, eum?" Topan tersenyum nakal. Sialnya...si Inces kagak peka senyum iblis itu.
"Bukan itu, tapi tolong bantuin buka zipper ku." Gerhana menunjuk ke tengah tengah benang permasalahannya.
Topan membulatkan matanya. Inces sialan, mau menguji imanku yang hanya setipis rambut, batinnya gemas.
Dia laki laki normal lho, otaknya itu berpikir traveling kemana-mana. Secara tidak langsung Gerhana minta di wik wik.
"Jangan omes ya, ini real minta bantuan karena zippernya macet." Gerhana menjelaskan cepat cepat sebelum Topan berpikir negatif, padahal memang iya sudah traveling tuh si Simba.
"Owh," lirih Topan mengangguk paham. Dia pun berlutut macam kacung kampretnya Gerhana, siap membantu. Jangan lihat, jangan tergoda, jangan menerkam. Topan komat kamit dalam hati agar tetap sadar dari otak warasnya.
Karena susah terbuka, Topan mengambil pisau lipat yang tersembunyi di sela sepatunya. Berniat merusak resleting Gerhana.
Ceklek...
"Hais, Kak! Mau wik wik ya?"
"Ahh, parah! kita nungguin di depan, Tapi...."
Kedua pengganggu yang baru masuk itu adalah Bhumi dan Angkasa. Bagaimana si Twins kagak menuduh? Topan saat ini berjongkok dengan tubuh bertelanjang dada, di tambah lagi membuka resleting tepat ehm Gerhana. Mau apa coba kalau bukan menuju wik wik?
Sreeettt....
"Shut up." Topan menodongkan pisau lipatnya ke arah Twins, setelah merusak celana jeans Gerhana yang susah terbuka. Kode agar jangan berisik. Dia tidak mau Kurcil lainnya masuk ke dalam ruangan, nanti berabe mendapat ejekan seribu ejekan dari para mulut jahil sang sahabat.
__ADS_1
Kabur!!!
Pekik si Twins seolah-olah takut, padahal lagi terkikik geli karena ulah Topan yang di kiranya mau wik wik.